Mengungkap Asal‑Usul Tradisi Beli Baju Lebaran: Dari Ritual Sungkeman Hingga Tren Gen Z

Mengungkap Asal‑Usul Tradisi Beli Baju Lebaran: Dari Ritual Sungkeman Hingga Tren Gen Z

Sekolapedia – 21 Maret 2026 | Setiap menjelang Idul Fitri, pasar pakaian di seluruh Indonesia berubah menjadi lautan warna dan keramaian. Fenomena beli baju baru untuk Lebaran telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan, namun tidak semua orang menyadari bahwa kebiasaan ini menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar pada tradisi lokal, agama, dan dinamika sosial.

Jejak Historis: Dari Babad Jawa hingga Halal Bihalal

Sejarah mencatat bahwa tradisi saling memaafkan dan mempererat silaturahmi setelah Ramadan telah ada sejak abad ke‑15, tercermin dalam manuskrip seperti Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Pasai. Pada masa itu, para Walisongo memanfaatkan ritual “Dharma Sunya”—sebuah praktik kepercayaan Kapitayan—untuk mengintegrasikan nilai‑nilai Islam ke dalam budaya Jawa. Salah satu contoh nyata adalah tradisi “sungkeman” yang dilakukan oleh Raja Arya Mangkunegara I di istana Cirebon setelah Idul Fitri, di mana para punggawa berkumpul, menyembah, dan meminta maaf kepada raja.

Ritual tersebut menjadi cikal bakal apa yang kini dikenal sebagai “halal bihalal”—kegiatan maaf‑maafan yang meluas ke seluruh Indonesia. Meskipun istilah “halal bihalal” terdengar Arab, sebenarnya istilah itu muncul pertama kali dalam majalah Suara Muhammadiyah pada 1924 dan dipopulerkan lewat iklan martabak di Solo pada tahun 1930‑an.

Kata “Lebaran” dan Makna Baju Baru

Istilah “Lebaran” sendiri bukan serapan Arab, melainkan hasil evolusi bahasa Jawa dan Betawi. Dari kata “lebar” yang berarti selesai atau luas, masyarakat menyebut hari raya yang menandai berakhirnya puasa. Pada masa itu, pakaian baru menjadi simbol kelulusan spiritual—sebuah cara menandai kebersihan hati dan kesiapan menyambut hari suci.

🔖 Baca juga:
Skandal Ganti Rugi Tol Cisumdawu: Ahli Waris Riswara Bentak Dadan Megantara ke Bareskrim

Praktik membeli pakaian baru berawal dari tradisi menyiapkan pakaian bersih untuk upacara keagamaan dan pertemuan keluarga. Di era kolonial, pedagang tekstil di kota‑kota pelabuhan seperti Surabaya dan Semarang mulai menawarkan kain baru khusus Lebaran, menambah nilai ekonomi pada tradisi tersebut.

Ketupat, Simbol Moral, dan Hubungannya dengan Busana

Sebagai pelengkap makanan Lebaran, ketupat memiliki makna yang selaras dengan pakaian baru. Kata “ketupat” dalam bahasa Jawa berkonotasi “ngaku lepat”—mengakui kesalahan—sehingga penyajian ketupat mengingatkan masyarakat akan pentingnya memaafkan, sebagaimana pakaian baru menandakan penyucian diri.

Penggabungan simbol-simbol ini memperkuat narasi bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan momen transformasi spiritual dan sosial yang tercermin dalam pakaian, makanan, serta interaksi keluarga.

Perubahan Pola Konsumsi di Era Gen Z dan Milenial

Survei Populix terbaru yang melibatkan 1.000 responden Gen Z dan milenial (Februari 2026) mengungkap pergeseran signifikan dalam cara generasi muda memaknai baju Lebaran. Hanya 29 % yang masih mengaitkan Lebaran dengan keharusan membeli pakaian baru, sementara 30 % menilai kelayakan pakaian—dari segi kualitas dan keberlanjutan—lebih penting. Sebanyak 26 % menyatakan pembelian hanya akan dilakukan bila kondisi keuangan memungkinkan.

Tren serasi keluarga menjadi sorotan baru. Tujuh dari sepuluh keluarga berencana mengenakan baju serasi, baik dengan keluarga inti maupun besar, sebagai simbol kebersamaan dan estetika foto bersama. Pilihan warna cenderung mengarah pada nuansa earth tone, mencerminkan keinginan generasi muda untuk tampilan yang natural dan ramah lingkungan.

Faktor-faktor yang Mendorong Evolusi Tradisi

  • Kebutuhan Ekonomi: Krisis biaya hidup mendorong konsumen mencari alternatif yang lebih terjangkau, seperti pakaian second‑hand atau koleksi lama yang dipadupadankan.
  • Kepedulian Lingkungan: Kesadaran akan dampak industri fashion memperkuat minat pada fashion berkelanjutan dan penggunaan kembali pakaian.
  • Pengaruh Digital: Media sosial menjadi arena utama inspirasi busana Lebaran, dengan influencer menampilkan koleksi serasi dan mix‑and‑match yang mudah diakses.

Meski demikian, nilai simbolis baju baru masih tetap hidup dalam acara‑acara resmi, seperti pertemuan kerabat dekat atau upacara keagamaan di masjid, di mana pakaian baru dianggap sebagai bentuk penghormatan.

Kesimpulan

Tradisi beli baju Lebaran adalah hasil akumulasi sejarah panjang—dari praktik sungkeman di istana Jawa, evolusi halal bihalal, hingga adaptasi modern oleh generasi digital. Meskipun cara mengaplikasikannya berubah, inti pesan tetap sama: menandai akhir Ramadan dengan kebersihan hati, persaudaraan, dan harapan baru. Memahami akar budaya ini membantu kita menghargai Lebaran bukan sekadar momen belanja, melainkan sebuah ritual yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan estetika dalam satu rangkaian perayaan.

Post Comment