×

Jangan Sampai Terlalu Larut dalam Berita Konflik: Kenali Perbedaan Waspada yang Sehat dan Kecemasan Berlebihan

Belakangan ini, berita mengenai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia semakin sering muncul di berbagai media. Mulai dari televisi, portal berita online, hingga media sosial, informasi tentang ketegangan antarnegara atau konflik kemanusiaan bisa dengan mudah ditemukan hampir setiap saat.

Bagi sebagian orang, melihat dan mengikuti perkembangan berita seperti ini adalah hal yang wajar. Banyak orang merasa perlu mengetahui situasi dunia agar tidak ketinggalan informasi. Namun di sisi lain, paparan berita konflik yang terus-menerus ternyata juga bisa memicu berbagai reaksi emosional.

Salah satu reaksi yang cukup sering muncul adalah rasa cemas. Beberapa orang bahkan mengaku mengalami gangguan tidur, pikiran yang terus dipenuhi kekhawatiran, hingga perasaan tidak tenang setelah terlalu sering membaca atau menonton berita konflik.

Fenomena ini sebenarnya cukup bisa dimengerti. Informasi yang menampilkan kekerasan, ketegangan, atau ancaman memang dapat memicu respons emosional pada manusia. Otak manusia secara alami dirancang untuk merespons ancaman sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.

Namun menurut para ahli kesehatan jiwa, penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara kewaspadaan yang sehat dengan kecemasan yang berlebihan. Jika tidak disadari, kebiasaan mengikuti berita konflik bisa berubah menjadi sumber stres yang berdampak pada kesehatan mental.

🔖 Baca juga:
Top 50 Most Popular Women in 2026: Global Icons in Entertainment, Sports, Business, and Social Media

Spesialis kesehatan jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa pada dasarnya merasa waspada terhadap kondisi dunia adalah hal yang normal. Bahkan, sikap tersebut bisa dianggap sebagai tanda bahwa seseorang memiliki kepedulian terhadap situasi yang sedang terjadi.

Menurutnya, orang yang mengikuti perkembangan berita biasanya ingin memahami apa yang sedang terjadi di dunia. Mereka juga ingin mengetahui bagaimana dampaknya terhadap kehidupan global maupun kehidupan sehari-hari.

Rasa ingin tahu tersebut tentu bukan hal yang buruk. Justru, sikap peduli terhadap kondisi dunia dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar akan berbagai isu yang sedang berkembang.

Namun dr. Lahargo menegaskan bahwa kewaspadaan yang sehat seharusnya tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Artinya, meskipun seseorang mengikuti berita konflik, ia tetap bisa menjalani aktivitas normal seperti bekerja, beristirahat, dan berinteraksi dengan keluarga.

Menurutnya, sikap waspada yang sehat justru membuat seseorang tetap mampu berpikir jernih dan menjalani rutinitas tanpa terbebani rasa takut yang berlebihan.

Ia menjelaskan bahwa orang yang memiliki kewaspadaan yang sehat biasanya tetap bisa mengatur bagaimana mereka mengonsumsi informasi. Mereka tidak merasa harus mengetahui setiap perkembangan berita setiap saat.

Selain itu, mereka juga mampu memilah sumber informasi dengan baik. Berita yang dibaca atau ditonton biasanya berasal dari sumber yang jelas dan terpercaya.

Baca Juga : Santai Sejenak di Banda Aceh: Update Jadwal Buka Puasa 6 Maret 2026 & Alasan Kenapa Ramadan Itu Spesial Banget

Salah satu ciri utama dari kewaspadaan yang sehat adalah kemampuan untuk membatasi konsumsi berita. Seseorang cukup mengecek berita seperlunya saja, misalnya sekali atau dua kali dalam sehari, tanpa merasa perlu terus-menerus memperbarui informasi.

Orang dengan sikap ini biasanya tidak merasa tertekan meskipun tidak mengetahui setiap detail perkembangan konflik yang sedang terjadi. Mereka memahami bahwa tidak semua informasi harus diikuti setiap saat.

Ciri lain dari kewaspadaan yang sehat adalah tetap bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun mengetahui adanya konflik di suatu tempat, pikiran mereka tidak terus menerus dipenuhi oleh bayangan buruk.

Mereka juga tetap dapat fokus menjalankan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, atau kegiatan lainnya tetap bisa dijalankan tanpa gangguan berarti.

Selain itu, orang yang memiliki kewaspadaan yang sehat biasanya juga tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Mereka memiliki kebiasaan untuk memeriksa ulang informasi sebelum mempercayainya.

Dalam dunia digital saat ini, kebiasaan seperti ini sering disebut dengan istilah “saring sebelum sharing”. Artinya, seseorang tidak langsung menyebarkan berita yang belum dipastikan kebenarannya.

Sikap ini sangat penting karena penyebaran informasi yang tidak akurat justru bisa memperburuk situasi. Berita yang belum tentu benar dapat memicu kepanikan atau kecemasan yang tidak perlu di masyarakat.

Di sisi lain, dr. Lahargo juga menjelaskan bahwa ada kondisi di mana rasa khawatir terhadap berita konflik berubah menjadi kecemasan yang tidak sehat. Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang terlalu sering terpapar berita yang menegangkan tanpa memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dari informasi tersebut.

Kecemasan berlebihan biasanya ditandai dengan kebiasaan memantau berita secara terus-menerus tanpa henti. Seseorang merasa harus selalu mengetahui perkembangan terbaru setiap saat.

Kebiasaan ini sering terlihat pada orang yang terus-menerus menggulir layar ponsel untuk membaca berita atau melihat pembaruan di media sosial. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memantau informasi terbaru.

Akibatnya, pikiran menjadi sulit untuk beristirahat. Bahkan ketika sudah waktunya tidur, otak masih terus memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.

Tidak sedikit orang yang akhirnya mengalami kesulitan tidur karena terus memikirkan berita konflik yang mereka baca atau tonton sebelumnya. Pikiran dipenuhi oleh bayangan mengenai ancaman atau bencana yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Selain gangguan tidur, kecemasan berlebihan juga bisa memunculkan berbagai reaksi fisik. Misalnya jantung terasa berdebar lebih cepat dari biasanya, tubuh terasa tegang, atau muncul gangguan pada sistem pencernaan seperti naiknya asam lambung.

Hal ini terjadi karena tubuh merespons stres dengan mengaktifkan sistem pertahanan diri. Meskipun ancaman yang diberitakan berada jauh dari tempat tinggal seseorang, otak tetap dapat meresponsnya seolah-olah bahaya tersebut berada di dekatnya.

Akibatnya, tubuh masuk ke dalam kondisi siaga yang berkepanjangan. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, tubuh dan pikiran bisa menjadi kelelahan.

Kecemasan berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Orang yang terlalu sering terpapar berita konflik bisa menjadi lebih sensitif dan mudah marah.

Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terlalu mengganggu bisa terasa lebih menjengkelkan. Emosi menjadi lebih sulit dikendalikan karena pikiran sudah dipenuhi rasa cemas.

Selain itu, sebagian orang juga bisa merasa seolah-olah ancaman tersebut sudah sangat dekat dengan dirinya. Padahal sebenarnya konflik tersebut terjadi di tempat yang jauh dan tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

Perasaan seperti ini bisa membuat seseorang merasa dunia menjadi tempat yang tidak aman. Jika dibiarkan, pikiran negatif tersebut dapat memengaruhi cara seseorang melihat kehidupan secara keseluruhan.

Baca Juga : Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perak Fighter of Road to PON Beladiri 2025

Menurut dr. Lahargo, perbedaan antara respons yang sehat dan kecemasan berlebihan sebenarnya dapat dilihat dari cara seseorang memproses informasi yang diterima.

Orang yang memiliki sikap mental yang responsif biasanya mampu menerima informasi dengan tenang. Mereka memahami bahwa berita konflik memang merupakan bagian dari realitas dunia, tetapi tidak harus membuat kehidupan pribadi mereka dipenuhi rasa takut.

Sikap responsif membuat seseorang mampu tetap berpikir positif dan mempersiapkan diri secara bijak jika memang ada hal yang perlu diantisipasi.

Sebaliknya, sikap mental yang reaktif biasanya membuat seseorang langsung bereaksi secara emosional tanpa memproses informasi secara rasional. Informasi yang diterima langsung memicu rasa takut, marah, atau panik.

Reaksi seperti ini sering kali justru merugikan diri sendiri maupun orang di sekitar. Energi mental menjadi terkuras karena terus-menerus memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

Dr. Lahargo menjelaskan bahwa kewaspadaan yang sehat sebenarnya memiliki fungsi yang baik. Rasa waspada dapat membantu seseorang tetap siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Namun ketika rasa tersebut berubah menjadi kecemasan yang berlebihan, dampaknya justru bisa membuat seseorang stres dan kelelahan secara mental.

Paparan berita konflik yang muncul terus-menerus juga dapat memengaruhi suasana hati secara keseluruhan. Ketika setiap jam seseorang menerima informasi tentang kekerasan atau ancaman, pikiran menjadi lebih mudah merasa tegang.

Meskipun kejadian yang diberitakan berada jauh dari tempat tinggal kita, otak manusia tetap meresponsnya sebagai potensi bahaya. Inilah sebabnya mengapa terlalu banyak mengonsumsi berita konflik bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Beberapa dampak yang sering muncul akibat paparan berita konflik secara terus-menerus antara lain adalah kesulitan tidur, rasa gelisah yang sulit dijelaskan, serta meningkatnya sensitivitas emosional.

Seseorang juga bisa menjadi lebih mudah tersinggung atau merasa tidak sabar terhadap orang lain. Bahkan dalam beberapa kasus, seseorang mulai merasa bahwa dunia ini penuh dengan ancaman.

Perasaan seperti ini tentu tidak sehat jika berlangsung dalam jangka waktu lama. Selain memengaruhi kesehatan mental, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada hubungan dengan orang lain.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa ikut merasakan dampaknya. Ketika suasana rumah dipenuhi percakapan mengenai konflik atau ancaman yang menakutkan, anak-anak dapat ikut merasa takut.

Anak yang belum memiliki pemahaman yang cukup tentang situasi dunia bisa menganggap bahwa bahaya tersebut benar-benar dekat dengan mereka. Akibatnya mereka menjadi lebih mudah cemas atau sulit merasa aman.

Jika kondisi ini dibiarkan, suasana rumah bisa menjadi tegang dan tidak nyaman. Padahal rumah seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi seluruh anggota keluarga.

Karena itu, penting bagi setiap orang untuk belajar mengatur bagaimana mereka mengonsumsi berita. Mengetahui informasi memang penting, tetapi menjaga kesehatan mental juga tidak kalah penting.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi waktu untuk membaca atau menonton berita. Misalnya dengan menentukan waktu tertentu dalam sehari untuk mengecek perkembangan informasi.

Selain itu, memilih sumber berita yang terpercaya juga sangat penting. Informasi yang jelas dan faktual biasanya lebih menenangkan dibandingkan rumor atau kabar yang belum pasti.

Yang tidak kalah penting adalah memberikan waktu bagi pikiran untuk beristirahat dari berbagai informasi yang menegangkan. Menghabiskan waktu bersama keluarga, berolahraga, atau melakukan hobi bisa membantu mengurangi ketegangan mental.

Dengan cara ini, seseorang tetap dapat mengikuti perkembangan dunia tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalnya.

Pada akhirnya, bersikap waspada terhadap situasi global memang merupakan hal yang baik. Namun kewaspadaan tersebut harus tetap berada dalam batas yang sehat.

Jika informasi yang kita konsumsi justru membuat hidup dipenuhi kecemasan, mungkin sudah saatnya kita mengambil jeda dan memberikan ruang bagi pikiran untuk kembali tenang.

Menjaga keseimbangan antara mengetahui informasi dan menjaga kesehatan mental adalah langkah penting agar kita tetap dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan produktif.

Penulis : Reyfen

Post Comment