Tahun 2026 menjadi tahun yang cukup unik bagi para pekerja di Indonesia. Di satu sisi, kalender menunjukkan deretan tanggal merah yang menggoda untuk liburan, namun di sisi lain, ada satu topik yang selalu berhasil memicu perdebatan hangat di pantry kantor maupun grup WhatsApp keluarga: Pajak THR.
Bagi seorang karyawan, Tunjangan Hari Raya (THR) bukan sekadar bonus tahunan. Ia adalah simbol apresiasi, dana darurat untuk mudik, hingga tiket untuk membeli baju baru bagi anak-anak. Namun, ketika angka yang masuk ke rekening ternyata “disunat” oleh pajak penghasilan (PPh Pasal 21) dengan nominal yang cukup terasa, muncul sebuah fenomena menarik yang patut kita bedah dari sisi psikologis. Bagaimana sebenarnya potongan pajak THR di tahun 2026 ini memengaruhi semangat kerja kita? Mari kita bahas dengan santai tapi mendalam.
Filosofi THR: Lebih dari Sekadar Angka
Secara regulasi, THR adalah pendapatan non-upah yang wajib dibayarkan pengusaha kepada pekerja menjelang hari raya keagamaan. Namun secara psikologis, THR adalah “Emotional Buffer” atau penyangga emosional. Setelah bekerja keras selama setahun penuh, THR dianggap sebagai hadiah atas loyalitas.
Masalahnya muncul ketika ekspektasi berbenturan dengan kalkulasi pajak. Banyak karyawan yang kaget melihat potongan pajak THR tahun 2026 ini, terutama dengan penerapan metode perhitungan TER (Tarif Efektif Rata-rata) yang sudah mulai mapan. Secara mental, melihat angka kotor (gross) di slip gaji yang jauh lebih besar daripada angka bersih (net) yang masuk ke m-banking bisa menimbulkan efek kejut psikologis yang disebut dengan loss aversion.
Fenomena Loss Aversion: Mengapa Potongan Pajak Terasa Menyakitkan?
Dalam psikologi ekonomi, ada teori yang disebut Loss Aversion. Teori ini menyatakan bahwa rasa sakit akibat kehilangan sesuatu (dalam hal ini, uang yang dipotong pajak) terasa dua kali lebih kuat dibandingkan rasa senang saat mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama.
Contohnya begini: Kamu mungkin merasa senang dapat THR 10 juta. Tapi rasa sedih dan kesal karena melihat pajak sebesar 1,5 juta akan jauh lebih dominan daripada rasa syukur atas 8,5 juta yang kamu terima. Rasa “kehilangan” ini secara tidak sadar menurunkan tingkat kepuasan kerja sesaat setelah THR cair.
Dampak pada Motivasi Kerja: Teori Keadilan (Equity Theory)
Motivasi kerja sangat dipengaruhi oleh persepsi keadilan. Menurut Equity Theory dari John Stacey Adams, karyawan akan membandingkan antara apa yang mereka berikan ke perusahaan (input) dengan apa yang mereka terima (outcome).
Ketika seorang karyawan merasa sudah memberikan input maksimal (lembur, mencapai target, stres kerja), namun merasa outcome-nya dikurangi oleh potongan pajak yang besar, akan muncul perasaan ketidakadilan. Dampaknya bisa bermacam-macam:
- Penurunan Intensitas Kerja: Karyawan mulai berpikir, “Buat apa capek-capek cari bonus atau lembur kalau ujung-ujungnya habis dipotong pajak?”
- Quiet Quitting: Fenomena ini bisa menguat pasca Lebaran. Karyawan tetap bekerja, tapi hanya melakukan standar minimum saja karena merasa apresiasi finansialnya tidak sepadan dengan ekspektasi.
- Mencari Validasi Lain: Jika uang tidak lagi memberikan kepuasan maksimal karena pajak, karyawan akan menuntut lingkungan kerja yang lebih nyaman atau fleksibilitas (WFH) sebagai kompensasi mental.
baca juga:Apa Saja yang Diujikan?
Peran Literasi Finansial dalam Menjaga Mental
Sebenarnya, banyak dari rasa stres akibat pajak ini bersumber dari kurangnya pemahaman. Di tahun 2026, sosialisasi mengenai pajak memang lebih masif, namun tetap saja, banyak yang belum paham bahwa pajak THR bukanlah “hukuman”, melainkan kewajiban warga negara.
Karyawan yang memiliki literasi finansial tinggi cenderung lebih stabil secara emosional. Mereka sudah melakukan simulasi perhitungan pajak jauh-jauh hari, sehingga saat dana masuk ke rekening, tidak ada lagi shock therapy. Mereka memahami bahwa potongan besar di bulan THR biasanya akan dikompensasi dengan perhitungan pajak yang lebih ringan atau bahkan nihil di bulan-bulan lainnya dalam setahun pajak yang sama.
Strategi Perusahaan: Menjaga Semangat Karyawan di Tengah Musim Pajak
Perusahaan punya peran besar untuk memitigasi penurunan motivasi ini. Alih-alih hanya mengirimkan slip gaji lewat email, departemen HR bisa melakukan beberapa pendekatan humanis:
- Transparansi Perhitungan: Menjelaskan secara transparan mengapa angka potongannya demikian. Komunikasi yang jujur bisa mengurangi rasa curiga karyawan terhadap perusahaan.
- Apresiasi Non-Moneter: Karena THR “terganggu” pajak, perusahaan bisa memberikan bonus tambahan berupa hampers yang berkesan, cuti tambahan, atau acara buka puasa bersama yang berkualitas untuk mengembalikan mood karyawan.
- Edukasi Pajak: Mengadakan webinar singkat tentang cara membaca slip gaji dan manfaat pajak bagi pembangunan. Meski terdengar klise, ini membantu mengubah sudut pandang dari “uangku hilang” menjadi “kontribusiku untuk negara”.
Harapan vs Realitas di Tahun 2026
Di tahun 2026, biaya hidup dan inflasi tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebutuhan mudik dan persiapan Lebaran mungkin lebih tinggi. Oleh karena itu, dampak psikologis dari setiap rupiah yang dipotong akan terasa lebih sensitif.
Namun, penting bagi kita sebagai pekerja untuk tetap menjaga kewarasan mental. Jangan biarkan potongan pajak yang bersifat administratif merusak hubungan profesional kita dengan pekerjaan atau menghapus kebahagiaan menyambut hari raya bersama keluarga.
baca juga:Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Juara Nasional Lomba Karya Ilmiah RnDC 2025
Kesimpulan
Potongan pajak THR memang memiliki dampak nyata terhadap psikologis dan motivasi kerja karyawan. Ada rasa kecewa, ada perasaan tidak adil, dan ada penurunan semangat sesaat. Namun, dengan pemahaman yang tepat dan komunikasi yang baik antara pemberi kerja dan pekerja, dampak negatif ini bisa diminimalisir.
penulis:Okta



Post Comment