×

Dadan Hindayana Ungkap Fakta Dapur MBG Menghabiskan Rp 1 Miliar per Bulan, Kolaborasi Chef dan Ahli Gizi Jadi Kunci Kualitas Bintang 5

Dadan Hindayana Ungkap Fakta Dapur MBG Menghabiskan Rp 1 Miliar per Bulan, Kolaborasi Chef dan Ahli Gizi Jadi Kunci Kualitas Bintang 5

Sekolapedia – 25 Maret 2026 | JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkap fakta mengejutkan bahwa satu dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mengeluarkan biaya operasional mencapai satu miliar rupiah per bulan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Bogor pada Selasa, 17 Maret 2026, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara chef profesional dan ahli gizi untuk menghasilkan menu berkualitas setara restoran bintang lima namun tetap terjangkau.

Program MBG dan Tantangannya

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan pemerintah untuk memberikan asupan gizi optimal kepada warga miskin, terutama anak-anak sekolah dan keluarga rentan. Hingga kini, lebih dari 61 juta warga telah menerima manfaat MBG, menjadikan Indonesia peringkat kedua dunia dalam program makan sekolah terbesar.

Meski dampaknya positif, MBG tidak lepas dari tantangan. Beberapa kasus keracunan makanan, seperti insiden bandeng mentah di Bantul, sempat memicu kekhawatiran publik. Dadan menegaskan bahwa kasus tersebut masih terbilang kecil dibandingkan total unit layanan yang terus berkembang.

Kolaborasi Chef dan Ahli Gizi

Dadan menyoroti perlunya sinergi antara chef berpengalaman dan pakar gizi dalam merancang menu MBG. Ia mengharapkan terciptanya inovasi makanan yang tidak hanya memenuhi standar nutrisi, tetapi juga memiliki cita rasa dan tampilan layak restoran bintang lima. “Saya berharap suatu hari keluar inovasi‑inovasi makanan dari ahli gizi dan chef‑chef profesional sehingga akan keluar khas Program Makan Bergizi yang kualitasnya sekelas bintang 5 tapi harganya harga Program MBG dengan bahan baku Rp10.000,” ujarnya.

Kolaborasi ini dianggap krusial menjelang Ramadan, ketika kebutuhan akan makanan segar, bergizi, dan tahan lama meningkat secara signifikan.

Skala dan Biaya Operasional Dapur

Menurut data BGN, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meningkat drastis dalam setahun terakhir, dari sekitar 1.000 unit menjadi 25.000 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertumbuhan ini menambah kompleksitas pengelolaan kualitas.

  • Jumlah SPPG tahun sebelumnya: ~1.000 unit
  • Jumlah SPPG saat ini: 25.000 unit
  • Biaya bahan baku per porsi MBG: Rp10.000
  • Biaya operasional satu dapur MBG: Rp1.000.000.000 per bulan

Angka satu miliar rupiah mencakup biaya listrik, air, tenaga kerja, transportasi bahan baku, serta pemeliharaan peralatan dapur. Dadan menekankan pentingnya efisiensi biaya tanpa mengorbankan mutu nutrisi.

Upaya Pengawasan dan Evaluasi

Untuk menjaga standar, BGN melakukan sidak rutin bersama Forkopimda dan pihak terkait. Pemerintah kota Cimahi, misalnya, menekankan agar tidak terjadi kasus keracunan MBG melalui pengawasan ketat. Dadan menambahkan bahwa evaluasi internal terus dilakukan untuk memastikan semua SPPG mematuhi petunjuk teknis dan SOP yang telah ditetapkan.

Penguatan mekanisme audit, pelatihan staf, serta penggunaan teknologi monitoring menjadi prioritas utama dalam rangka meningkatkan akuntabilitas.

Proyeksi Masa Depan MBG

Dengan dukungan kolaborasi chef‑gizi, peningkatan infrastruktur, dan sistem pengawasan yang lebih canggih, Dadan optimis MBG akan mampu menurunkan biaya per dapur sambil meningkatkan kualitas makanan. Ia berharap inovasi menu berbasis bahan lokal dan teknik kuliner modern dapat menurunkan ketergantungan pada bahan impor serta menekan biaya operasional.

Selain itu, BGN berencana memperluas program ke daerah‑daerah yang belum terjangkau, dengan target menambah 10.000 SPPG dalam tiga tahun ke depan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan gizi nasional dan menurunkan angka stunting secara signifikan.

Secara keseluruhan, pengungkapan fakta biaya satu dapur MBG sebesar satu miliar rupiah per bulan sekaligus penekanan pada kolaborasi chef‑gizi menunjukkan arah kebijakan yang lebih terintegrasi, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu gizi bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Post Comment