Berapa Pajak THR 2026 Anda? Gunakan Rumus Sederhana Ini untuk Menghitungnya

Memasuki bulan Ramadan dan hari raya di tahun 2026, antusiasme menyambut Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi topik hangat di lingkungan kantor. Namun, kegembiraan ini sering kali diikuti oleh satu pertanyaan yang membingungkan: “Berapa sebenarnya potongan pajak atas THR saya?” Banyak karyawan merasa kaget ketika melihat jumlah THR yang diterima lebih kecil dari yang seharusnya. Padahal, sebenarnya ada cara mudah untuk menghitungnya sendiri di rumah.

Di tahun 2026, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menetapkan skema perhitungan Pajak Penghasilan (PPh 21) yang lebih terstruktur menggunakan metode Tarif Efektif Rata-rata (TER). Artikel ini akan memandu Anda memahami cara menghitung pajak THR secara mandiri agar Anda bisa memiliki ekspektasi keuangan yang lebih akurat dan terencana.

baca juga:Mengapa Xiaomi 17 Ultra Menjadi Investasi Terbaik untuk Content Creator?

Mengapa THR Dikenakan Pajak?

Sebelum masuk ke rumus, penting bagi kita untuk memahami mengapa THR harus dipajaki. Dalam peraturan perpajakan Indonesia, THR dikategorikan sebagai penghasilan bruto yang bersifat tidak teratur. Setiap tambahan penghasilan yang diterima oleh wajib pajak, selama itu merupakan objek pajak, wajib dikenakan PPh 21.

Pajak atas THR bukanlah denda atau biaya tambahan yang bersifat merugikan, melainkan cicilan pajak tahunan Anda. Karena THR membuat total penghasilan Anda dalam setahun meningkat, maka lapisan tarif pajak yang diterapkan pun akan disesuaikan. Pemahaman ini penting agar kita tidak lagi melihat pajak sebagai beban, melainkan kontribusi terhadap stabilitas keuangan negara.

🔖 Baca juga:
Contoh Soal PPN Pasal 16C dan Penjelasan Penerapannya dalam Perpajakan

Memahami Konsep TER (Tarif Efektif Rata-rata) Tahun 2026

Sejak tahun lalu, pemerintah telah menyederhanakan perhitungan pajak bulanan dengan menggunakan skema TER. Dalam skema ini, perusahaan menggunakan tabel tarif yang sudah ditentukan berdasarkan besaran penghasilan bruto bulanan Anda dan status PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak).

Namun, perlu dicatat bahwa untuk perhitungan THR, mekanismenya sedikit berbeda karena sifatnya yang digabungkan dengan penghasilan bulan berjalan. Secara garis besar, perhitungan PPh 21 atas THR dilakukan dengan menghitung selisih antara:

  1. Total PPh 21 atas penghasilan setahun (termasuk THR).
  2. Total PPh 21 yang sudah dibayar pada bulan-bulan sebelumnya.

Rumus Sederhana Menghitung Pajak THR

Untuk mempermudah perhitungan, Anda bisa mengikuti langkah-langkah sistematis di bawah ini. Pastikan Anda menyiapkan data gaji bulanan dan nilai THR bruto Anda.

Langkah 1: Hitung Total Penghasilan Bruto Setahun

Tambahkan gaji pokok bulanan Anda selama 12 bulan dengan nilai THR bruto yang akan Anda terima. Rumus: (Gaji Pokok x 12) + THR Bruto = Penghasilan Bruto Tahunan.

Langkah 2: Hitung Penghasilan Netto Tahunan

Kurangi Penghasilan Bruto Tahunan dengan biaya jabatan (maksimal 5% dari bruto) dan iuran pensiun/JHT yang ditanggung karyawan. Rumus: Bruto – Biaya Jabatan – Iuran Pensiun = Penghasilan Netto.

Langkah 3: Hitung Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Kurangi Penghasilan Netto dengan PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) sesuai status pernikahan dan tanggungan Anda (misalnya PTKP TK/0 atau K/1). Rumus: Netto – PTKP = PKP.

Langkah 4: Hitung PPh 21 Terutang Setahun

Kalikan PKP dengan tarif progresif Pasal 17 UU PPh.

  • 0 – 60 juta: 5%
  • 60 – 250 juta: 15%
  • 250 – 500 juta: 25%
  • 500 juta – 5 Miliar: 30%
  • Di atas 5 Miliar: 35%

Langkah 5: Tentukan PPh 21 Atas THR

Untuk mengetahui pajak khusus THR saja, kurangi PPh 21 Terutang Setahun (setelah ada THR) dengan PPh 21 Terutang Setahun (sebelum ada THR).

Simulasi Perhitungan (Contoh Kasus)

Mari kita ambil contoh sederhana. Misalkan Budi adalah karyawan dengan gaji bulanan Rp 10.000.000 dan menerima THR sebesar Rp 10.000.000 (1 bulan gaji). Status Budi adalah Lajang (TK/0).

  1. Penghasilan Setahun: (10jt x 12) + 10jt = Rp 130.000.000.
  2. Biaya Jabatan (5% x 130jt): Rp 6.500.000 (Batas maksimal biasanya Rp 6.000.000 setahun).
  3. Netto: 130jt – 6jt = Rp 124.000.000.
  4. PKP: 124jt – 54jt (PTKP TK/0) = Rp 70.000.000.
  5. PPh 21 Setahun: (5% x 60jt) + (15% x 10jt) = 3jt + 1,5jt = Rp 4.500.000.

Jika Budi tidak menerima THR, pajaknya jauh lebih rendah. Selisih pajak inilah yang kemudian menjadi potongan atas THR Budi pada bulan tersebut. Dengan rumus ini, Anda bisa melihat bahwa potongan pajak bukan “dirampok”, melainkan penyesuaian tarif karena adanya kenaikan penghasilan tahunan Anda.

Mengapa Potongan Pajak THR Terasa “Besar” pada Bulan Tertentu?

Seringkali, karyawan merasa potongan pajak THR sangat besar karena perusahaan menggabungkan gaji bulanan dan THR dalam satu bulan yang sama. Hal ini menyebabkan total penghasilan bruto di bulan tersebut melonjak tajam, sehingga tarif pajak yang diterapkan otomatis menggunakan lapisan tarif yang lebih tinggi.

Penting untuk diingat: nominal potongan yang terlihat besar pada bulan tersebut sebenarnya adalah akumulasi dari penyesuaian kewajiban pajak Anda dalam satu tahun. Di akhir tahun, melalui Bukti Potong 1721-A1, Anda akan melihat bahwa total pajak yang dibayarkan sudah tepat dan proporsional.

Tips Mengelola THR Agar Tetap Maksimal

Setelah mengetahui bahwa potongan pajak bersifat pasti, berikut tips agar THR Anda tetap bermanfaat secara maksimal:

  1. Gunakan Perhitungan Netto: Saat merencanakan pengeluaran untuk mudik atau kebutuhan lebaran, selalu gunakan nilai THR bersih (setelah dipotong pajak), bukan nilai bruto.
  2. Prioritaskan Kewajiban: Gunakan THR untuk membayar zakat, utang, atau cicilan terlebih dahulu sebelum belanja konsumtif.
  3. Dana Darurat: Sisihkan minimal 10-20% dari THR untuk menambah dana darurat Anda, karena stabilitas keuangan di masa depan jauh lebih penting daripada kesenangan sesaat.
  4. Cek Bukti Potong: Pastikan perusahaan memberikan slip gaji yang transparan yang merinci nilai pajak yang dipotong. Jika Anda merasa ragu, Anda berhak bertanya kepada bagian HR atau Finance perusahaan Anda.

baca juga:CoE Literation Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Terbaik di Lampung, Gelar Pelatihan Menulis Kreatif Berbasis AI di SMAN 9 Bandar Lampung

Kesimpulan

Menghitung pajak THR 2026 mungkin terlihat rumit di awal, namun dengan memahami alur rumus dan tarif progresifnya, Anda akan lebih tenang dalam mengelola keuangan. Transparansi dalam penghitungan pajak adalah bentuk literasi finansial yang harus dimiliki setiap pekerja.

Pajak yang kita bayar dari THR adalah bukti tanggung jawab kita sebagai warga negara yang mendukung pembangunan bangsa. Dengan menghitung sendiri pajak Anda, Anda tidak hanya menjadi lebih disiplin secara finansial, tetapi juga memiliki kontrol penuh atas ekspektasi pendapatan Anda. Selamat merayakan hari raya dengan kondisi keuangan yang sehat dan terencana!

penulis;devina

Post Comment