3 Drama Korea 2026 yang Dikecam Netizen: Dari Rating Rendah hingga Kontroversi OST

Sekolapedia – 18 Maret 2026 | Awal tahun 2026 menyaksikan ledakan produksi drama Korea (drakor) baru yang sekaligus mengundang sorotan tajam dari para netizen. Dari tiga judul yang paling banyak menjadi bahan perbincangan, masing‑masing menampilkan pola kritik yang berbeda: penurunan rating, alur cerita yang dianggap lemah, hingga kontroversi penggunaan idol K‑Pop sebagai penyanyi OST meski sedang menjalani wajib militer. Berikut ulasan lengkap tentang tiga drakor yang menuai kecaman serta faktor‑faktor pemicunya.

1. Boyfriend on Demand – Kontroversi OST di Tengah Wajib Militer

Drama Boyfriend on Demand menampilkan Doyoung dari grup NCT sebagai penyanyi lagu tema utama. Meskipun Doyoung sedang menjalani wajib militer, labelnya tetap mengirimkan rekaman OST yang kemudian diputar di setiap episode. Netizen menilai langkah ini sebagai upaya promosi yang tidak sensitif terhadap situasi militer, bahkan menganggapnya memanfaatkan popularitas idol untuk menambah rating drama. Kritik utama meliputi:

  • Penempatan Doyoung dianggap memaksa penonton yang tidak menggemari idol untuk tetap menonton demi musik.
  • Beberapa komentar menyoroti ketidaksesuaian antara citra prajurit yang seharusnya fokus pada tugas dengan kegiatan hiburan.
  • Penggemar mengeluh kualitas produksi musik terasa dipaksakan, mengurangi kesan autentik drama.

Walaupun OST berhasil mencuri perhatian, respons netizen menunjukkan keengganan terhadap strategi pemasaran yang dianggap tidak menghormati konteks militer.

2. Our Universe – Rating Di Bawah 5% dan Plot yang Dipertanyakan

Our Universe (tvN) berusaha menggabungkan elemen romcom keluarga dengan drama anak. Serial 12 episode ini menampilkan dua saudara ipar yang harus merawat keponakan berusia 20 bulan setelah kematian kakak mereka. Meskipun mengusung tema hangat, drama ini gagal menembus rating 5 persen, tercatat hanya 1,953 pada episode terakhir. Netizen mengkritik beberapa aspek:

  • Alur cerita dianggap terlalu melodramatis dan kurang realistis, terutama dalam menampilkan dinamika hubungan antar‑saudara.
  • Pemilihan aktor cilik menimbulkan pertanyaan etis terkait beban emosional yang diberikan pada anak usia dini.
  • Kurangnya pengembangan karakter utama membuat penonton sulit berempati, sehingga rating menurun drastis.

Meski rating rendah, drama ini tetap menjadi bahan perbincangan karena eksistensi tema keluarga yang sensitif.

🔖 Baca juga:
The 2026 Epstein Files: A Comprehensive Guide to Legal Records, Financial Networks, and the Search for Transparency

3. No Tail to Tell – Gumiho Modern yang Tidak Mengena

Drama fantasi No Tail to Tell memperkenalkan gumiho generasi Z bernama Eun Ho (Kim Hye Yoon) yang menolak menjadi manusia. Konflik utama berkisar pada usaha Eun Ho mengumpulkan perbuatan buruk sebagai sumber pendapatan, hingga akhirnya berubah menjadi manusia setelah menyelamatkan atlet sepak bola Kang Si Yeol (Park Solomon). Meskipun konsep unik, drama ini hanya mencapai rating tertinggi 4,2 persen, di bawah ambang 5 persen. Kritik yang muncul meliputi:

  • Konsep gumiho modern dianggap terlalu dipaksakan, mengorbankan logika internal dunia fantasi.
  • Pacing cerita tidak konsisten; episode awal terasa lambat, sementara klimaks terasa tergesa‑gesa.
  • Beberapa penonton menilai akting utama belum cukup matang untuk menghidupkan karakter yang kompleks.

Selain rating, komentar netizen juga menyinggung bahwa penggunaan efek visual belum maksimal, mengurangi daya tarik visual yang seharusnya menjadi nilai jual utama.

Ringkasan Perbandingan Kritik

Drama Rating Tertinggi Isu Utama Reaksi Netizen
Boyfriend on Demand — (tidak tersedia) Kontroversi OST oleh idol yang sedang militer Protes atas promosi tidak sensitif, menurunkan kredibilitas
Our Universe 1.953 (episode terakhir) Alur melodramatis, aktor anak, rating rendah Keluhan tentang plot tidak realistis, empati rendah
No Tail to Tell 4,2 % Pacing tidak konsisten, konsep gumiho dipaksakan Kritik visual dan akting, rating di bawah ekspektasi

Ketiga drama tersebut menggambarkan tantangan produksi drakor di era digital, di mana ekspektasi penonton tidak hanya pada cerita, melainkan juga pada integritas produksi, penggunaan idol, dan kualitas teknis. Netizen 2026 tampak semakin kritis, menuntut standar yang lebih tinggi dari industri hiburan Korea.

Dengan mempelajari pola kritik ini, pembuat konten diharapkan dapat menyesuaikan strategi kreatif, menghindari kontroversi yang tidak perlu, dan menghasilkan karya yang lebih resonan dengan audiens global.

Post Comment