Dalam dunia akuntansi, pencatatan persediaan barang dagang merupakan pilar utama bagi perusahaan retail maupun manufaktur. Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah Sistem Persediaan Periodik (Physical System). Berbeda dengan sistem perpetual yang mencatat setiap perubahan stok secara real-time, metode periodik hanya mencatat mutasi persediaan pada akhir periode akuntansi melalui perhitungan fisik (stock opname).
Artikel ini akan mengupas tuntas konsep dasar, rumus, hingga kumpulan contoh soal akuntansi periodik agar Anda dapat menguasai materi ini dengan cepat dan akurat.
Apa Itu Sistem Akuntansi Periodik?
Sistem periodik adalah metode pencatatan persediaan di mana perusahaan tidak melakukan pencatatan rinci atas barang yang keluar masuk setiap kali transaksi terjadi. Sebaliknya, akun Pembelian akan didebit setiap ada barang masuk, dan akun Persediaan hanya akan diperbarui di akhir periode.
Karakteristik Utama Metode Periodik:
- Pencatatan Transaksi: Pembelian barang dagang dicatat dalam akun “Pembelian”, bukan “Persediaan”.
- HPP (Harga Pokok Penjualan): Tidak dihitung saat transaksi penjualan terjadi, melainkan dihitung sekaligus di akhir periode.
- Stock Opname: Wajib dilakukan perhitungan fisik di gudang untuk mengetahui jumlah persediaan akhir yang sebenarnya.
- Biaya Operasional: Umumnya lebih murah karena tidak memerlukan sistem software yang kompleks dan update setiap saat.
Rumus Penting dalam Metode Periodik
Sebelum masuk ke contoh soal, Anda harus memahami rumus dasar untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Persediaan Akhir:
- Pembelian Bersih:$Pembelian + Biaya Angkut – (Retur Pembelian + Potongan Pembelian)$
- Barang Tersedia untuk Dijual (BTUD):$Persediaan Awal + Pembelian Bersih$
- Harga Pokok Penjualan (HPP):$BTUD – Persediaan Akhir$
baca juga:Universitas Teknokrat Indonesia Raih Juara Umum Pada Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi Lampung 2025
Contoh Soal 1: Pencatatan Jurnal Umum Periodik
Berikut adalah transaksi yang terjadi di PT Niaga Makmur selama bulan Januari 2024:
- 2 Jan: Membeli barang dagang secara kredit senilai Rp10.000.000 dengan syarat 2/10, n/30.
- 4 Jan: Membayar biaya angkut pembelian sebesar Rp500.000 secara tunai.
- 6 Jan: Mengembalikan barang yang rusak kepada pemasok (retur) senilai Rp1.000.000.
- 10 Jan: Melunasi utang atas transaksi tanggal 2 Januari.
- 15 Jan: Menjual barang dagang secara tunai senilai Rp15.000.000.
Jawaban dan Jurnal:
2 Januari (Pembelian Kredit)
(Debit) Pembelian: Rp10.000.000
(Kredit) Utang Dagang: Rp10.000.000
4 Januari (Biaya Angkut)
(Debit) Biaya Angkut Pembelian: Rp500.000
(Kredit) Kas: Rp500.000
6 Januari (Retur Pembelian)
(Debit) Utang Dagang: Rp1.000.000
(Kredit) Retur & Potongan Pembelian: Rp1.000.000
10 Januari (Pelunasan Utang dengan Diskon)
Hitungan: Utang tersisa (Rp10jt – Rp1jt) = Rp9.000.000. Diskon 2% x Rp9.000.000 = Rp180.000.
(Debit) Utang Dagang: Rp9.000.000
(Kredit) Kas: Rp8.820.000
(Kredit) Potongan Pembelian: Rp180.000
15 Januari (Penjualan Tunai)
(Debit) Kas: Rp15.000.000
(Kredit) Penjualan: Rp15.000.000
(Catatan: Dalam metode periodik, tidak ada jurnal HPP saat penjualan)
Contoh Soal 2: Menghitung HPP dan Laba Kotor
Data keuangan CV Berkah Jaya untuk periode Desember 2023 adalah sebagai berikut:
- Persediaan awal (1 Des): Rp20.000.000
- Pembelian selama Desember: Rp50.000.000
- Retur Pembelian: Rp2.000.000
- Potongan Pembelian: Rp1.000.000
- Biaya Angkut Pembelian: Rp1.500.000
- Persediaan akhir (31 Des berdasarkan stock opname): Rp15.000.000
- Total Penjualan Bersih: Rp85.000.000
Pertanyaan: Hitunglah Pembelian Bersih, BTUD, HPP, dan Laba Kotor!
Jawaban dan Penjelasan:
- Pembelian Bersih:$Rp50.000.000 + Rp1.500.000 – (Rp2.000.000 + Rp1.000.000) = Rp48.500.000$
- Barang Tersedia Untuk Dijual (BTUD):$Persediaan Awal + Pembelian Bersih = Rp20.000.000 + Rp48.500.000 = Rp68.500.000$
- Harga Pokok Penjualan (HPP):$BTUD – Persediaan Akhir = Rp68.500.000 – Rp15.000.000 = Rp53.500.000$
- Laba Kotor:$Penjualan – HPP = Rp85.000.000 – Rp53.500.000 = Rp31.500.000$
Contoh Soal 3: FIFO, LIFO, dan Average (Metode Periodik)
Toko Buku Pintar mencatat data persediaan buku “Akuntansi Dasar” selama bulan Maret sebagai berikut:
- 1 Mar: Persediaan awal 100 unit @ Rp10.000
- 10 Mar: Pembelian 200 unit @ Rp12.000
- 20 Mar: Pembelian 150 unit @ Rp13.000
- 31 Mar: Sisa stok di gudang sebanyak 120 unit.
Hitunglah nilai persediaan akhir dan HPP menggunakan metode FIFO, LIFO, dan Rata-rata Sederhana!
1. Metode FIFO (First In First Out)
Dalam FIFO, barang yang masuk pertama dianggap keluar pertama. Maka, persediaan akhir 120 unit berasal dari pembelian terakhir.
- Nilai Persediaan Akhir:
- 120 unit diambil dari pembelian 20 Maret (harga Rp13.000)
- $120 \times Rp13.000 = Rp1.560.000$
- HPP:
- Total BTUD = $(100 \times 10.000) + (200 \times 12.000) + (150 \times 13.000) = Rp1.000.000 + Rp2.400.000 + Rp1.950.000 = Rp5.350.000$
- $HPP = Rp5.350.000 – Rp1.560.000 = Rp3.790.000$
2. Metode LIFO (Last In First Out)
Catatan: Secara PSAK di Indonesia, LIFO sudah tidak diperbolehkan untuk pelaporan pajak, namun sering muncul di soal ujian.
Dalam LIFO, persediaan akhir 120 unit dianggap berasal dari stok lama.
- Nilai Persediaan Akhir:
- 100 unit dari persediaan awal @ Rp10.000 = Rp1.000.000
- 20 unit dari pembelian 10 Maret @ Rp12.000 = Rp240.000
- Total = Rp1.240.000
- HPP:
- $Rp5.350.000 – Rp1.240.000 = Rp4.110.000$
3. Metode Average (Rata-rata Tertimbang)
- Harga Rata-rata per Unit:$Total Nilai BTUD / Total Unit BTUD = Rp5.350.000 / 450 unit = Rp11.889 (dibulatkan)$
- Nilai Persediaan Akhir:$120 unit \times Rp11.889 = Rp1.426.680$
- HPP:$Rp5.350.000 – Rp1.426.680 = Rp3.923.320$
Perbedaan Signifikan Jurnal: Periodik vs Perpetual
Untuk memperdalam pemahaman, mari kita lihat perbandingan jurnal saat terjadi pembelian dan penjualan:
| Transaksi | Metode Periodik | Metode Perpetual |
| Pembelian Barang | Debit: Pembelian | Debit: Persediaan Barang Dagang |
| Biaya Angkut | Debit: Biaya Angkut Pembelian | Debit: Persediaan Barang Dagang |
| Retur Pembelian | Kredit: Retur & Pot. Pembelian | Kredit: Persediaan Barang Dagang |
| Penjualan (Harga Jual) | Kas (D), Penjualan (K) | Kas (D), Penjualan (K) |
| Penjualan (Harga Pokok) | Tidak ada jurnal | HPP (D), Persediaan (K) |
Analisis: Kapan Perusahaan Menggunakan Metode Periodik?
Pemilihan metode periodik biasanya didasarkan pada skala dan jenis bisnis. Perusahaan yang cocok menggunakan metode ini adalah:
- Toko Kelontong atau UMKM: Barang yang dijual memiliki nilai satuan rendah namun frekuensi transaksi sangat tinggi.
- Barang yang Sulit Dihitung Satuan: Misalnya toko material yang menjual pasir atau kerikil.
- Keterbatasan Sumber Daya: Perusahaan yang belum memiliki sistem Point of Sales (POS) yang terintegrasi dengan database gudang.
Namun, kelemahan utama metode ini adalah manajemen tidak bisa mengetahui jumlah stok barang secara akurat di tengah bulan. Jika terjadi pencurian atau kehilangan barang, hal tersebut tidak akan terdeteksi hingga stock opname dilakukan.
baca juga:Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Juara Nasional Lomba Karya Ilmiah RnDC 2025
Kesimpulan dan Tips Mengerjakan Soal
Menguasai akuntansi metode periodik membutuhkan ketelitian dalam membedakan mana akun yang menambah nilai persediaan (Pembelian, Biaya Angkut) dan mana yang mengurangi (Retur, Potongan).
Tips mengerjakan soal:
- Selalu hitung BTUD terlebih dahulu sebagai angka dasar.
- Perhatikan tanggal transaksi untuk menentukan apakah diskon pembayaran (seperti 2/10) berlaku atau tidak.
- Ingat bahwa dalam metode periodik, akun Persediaan Barang Dagang di neraca saldo awal tidak berubah sampai jurnal penyesuaian dibuat di akhir tahun.
Penulis: Rinaldy



Post Comment