"Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku, terhadap orang yang paling karib kepada-Ku!", demikianlah firman TUHAN semesta alam. "Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai! Aku akan mengenakan tangan-Ku terhadap yang lemah.[4]
Di dalam pandangan nubuat ini tentang masa depan ini, "gembala" ini adalah sang Mesias.
1) Allah menyebut si gembala "orang yang paling karib kepada-Ku" (yaitu, orang sederajat, teman sejawat) dan karena itu Mesias yang ilahi.
2) Gembala/Mesias itu akan dipukul, yaitu disalibkan. Murid-murid-Nya akan terserak bagaikan "domba yang tercerai-berai" (lihat Matius 26:31,56; Markus 14:27).
Ada juga yang menganggap nubuat ini melambangkan perserakan bangsa Yahudi setelah kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M.[5]
Ayat 9
"Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: 'Mereka adalah umat-Ku', dan mereka akan menjawab: 'TUHAN adalah Allahku!'"[6]
Ayat-ayat ini diduga mengacu kepada masa kesengsaraan pada akhir zaman. Orang Yahudi yang tidak percaya (2/3 bagian) akan dibunuh (Zakharia 13:8); hanya sepertiga yang tetap hidup. Mereka inilah yang akan "memandang kepada dia yang telah mereka tikam" (Zakharia 12:10-14); jadi, hanya sebagian sisa orang Israel akan diselamatkan (Wahyu 11:1-18:24).[5]
Referensi
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857