Zaid bin Mūsā bin Jaʿfar bin Muḥammad bin ʿAlī bin Al-Husain bin ʿAlī bin Abī Ṭālib (bahasa Arab: زيد بن موسى بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب) adalah putra bungsu dari Imam ketujuh dalam Syiah Dua Belas Imam, Musa al-Kazhim.[1]
Ia ikut serta dalam pemberontakan Alawiyyin yang tidak berhasil pada tahun 815 melawan Kekhalifahan Abbasiyah, yang dipimpin oleh Abu'l-Saraya, di mana ia merebut dan memerintah kota Basra.[2] Menurut ath-Thabari, pemerintahannya ditandai dengan pogrom terhadap pendukung Abbasiyah, yang membuatnya mendapat julukan Zaid an-Nar ('Zaid si Api') karena banyaknya rumah milik anggota keluarga Abbasiyah atau pengikut mereka yang diperintahkannya untuk dibakar.[3] Setelah kekalahan Abu'l-Saraya di Kufah, Basra bertahan untuk sementara waktu, hingga direbut oleh jenderal Abbasiyah Ali bin Abi Sa'id. Zaid menerima surat izin perjalanan dari Ali, dan menyerah kepadanya.[4] Saudaranya, Ibrahim, juga ikut serta dalam pemberontakan dan memerintah Yaman untuk sementara waktu.[5]
Tidak lama kemudian, Zaid melarikan diri dari penjara dan kembali memberontak di Anbar pada bulan Juni 816, bersama saudara laki-laki Abu'l-Saraya. Mereka segera dikalahkan oleh pasukan Abbasiyah dan ditangkap kembali.[6]