Kisah yang dicatat di pasal ini terjadi setelah bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan,[3] dan telah berperang selama 7 tahun untuk menaklukkan tanah Kanaan (lihat Yosua 14:10). Diperkirakan setelah tahun 1400 SM.
Ketika hal itu terdengar oleh orang Israel, berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka. (TB)[5]
Bangsa Israel bersedia untuk maju berperang melawan saudara sebangsanya karena dikira mereka sudah membangun mezbah karena hendak memberontak kepada Tuhan (Yosua 22:10–11). Perhatikan faktor-faktor berikut:
1) Yosua dan orang Israel lainnya beranggapan bahwa kekudusan dan kebenaran Allah sudah ditinggalkan (Yosua 22:12,16,18; bandingkan Imamat 17:8–9; Ulangan 13:12–15); mereka bersedia memerangi bangsanya sendiri demi membela kebenaran dan kesucian Allah (bandingkan Efesus 4:15).
2) Untuk menunjukkan kasih mereka kepada sesama orang Israel, Yosua dan kelompoknya mula-mula mengirim utusan untuk berusaha menyelesaikan persoalan dan menjadi rujuk kembali (Yosua 22:13–20).
3) Pengertian dan perdamaian dicapai tanpa perang (Yosua 22:21–34), dan baik kesetiaan kepada Allah maupun kasih kepada sesama berhasil dipertahankan.
4) Kebenaran dan kasih terus berlanjut di bawah perjanjian yang baru. Orang percaya harus mempertahankan kebenaran dan kekudusan Allah tanpa kompromi, sedangkan pada saat bersamaan bertindak dalam kasih terhadap mereka yang harus dilawan (lihat Efesus 4:15).[6]
Ayat 34
Dan bani Ruben dan bani Gad menamai mezbah itu: Saksi, karena inilah saksi antara kita, bahwa TUHAN itulah Allah. (TB)[7]
bahasa Ibrani: ויקראו בני־ראובן ובני־גד למזבח כי עד הוא בינתינו כי יהוה האלהים׃ פ
transliterasi Ibrani: wai·yiq·re·'u be·ni-re·'u·ben u·be·ni-gad la·mez·bah ki ed hu bi·no·ti·nu ki YHWH ha·'e·lo·him. (p)
Mezbah yang didirikan di sebelah timur Yordan akan berfungsi sebagai saksi (bahasa Ibrani:עדcode: he is deprecated , ed) dan peringatan bagi angkatan yang akan datang bahwa suku-suku tersebut harus tinggal setia kepada Tuhan dan hidup bagi Dia saja. Ikatan iman yang nyata diteruskan dari keturunan kepada keturunan, seperti sebuah Alkitab khusus, sebuah hadiah, sebuah foto, sebuah tanda peringatan atau tradisi keluarga, juga dapat mengingatkan orang Kristen dan anak-anak mereka akan komitmen mereka kepada Allah.[6]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857