Secara etimologis, Wonosegoro berasal dari dua suku kata, yaitu wono (bahasa Jawa untuk hutan) dan segoro (bahasa Jawa untuk laut). Menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat, pada zaman dahulu Desa Wonosegoro memiliki semacam danau yang dikelilingi oleh hutan heterogen lebat yang didominasi oleh pohon jati.
Pembagian wilayah
Desa Wonosegoro terbagi menjadi empat wilayah dukuh, yaitu:
Dukuh Jarangan
Dukuh Wonosegoro
Dukuh Pingkuk
Dukuh Trumun
Demografi dan pendidikan
Mayoritas penduduk Desa Wonosegoro berprofesi sebagai petani. Banyak anak muda dari desa ini yang merantau ke kota-kota besar di Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan. Di desa ini sudah terdapat beberapa fasilitas pendidikan, antara lain SMPN 1 Wonosegoro, SMKN 1 Wonosegoro, dan dua Sekolah Dasar (SD) Negeri.
Kebudayaan
Setiap tahun, masyarakat setempat menyelenggarakan tradisi "Bersih Desa" yang dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit serta lomba kebersihan dan keindahan antar-RT di lingkungan Desa Wonosegoro.
Perekonomian
Desa ini merupakan salah satu dari sedikit desa di wilayahnya yang memiliki pabrik tahu dengan area distribusi menjangkau wilayah Kabupaten Boyolali bagian utara. Selain itu, Desa Wonosegoro juga dikenal memiliki pasar tradisional yang cukup ramai, terutama pada hari pasaran Pahing dan Wage, yang menjadi waktu utama bagi warga untuk berbelanja dan berdagang. Suasana pasar pada hari-hari pasaran tersebut sempat menjadi pusat urat nadi perekonomian lokal yang khas.
Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan preferensi masyarakat, aktivitas perdagangan di Pasar Wonosegoro mulai meredup secara perlahan. Pamor pasar ini mulai tergeser oleh Pasar Guwo yang terletak sekitar enam kilometer di arah utara. Pasar Guwo kini lebih diminati oleh masyarakat karena dianggap menawarkan fasilitas dan pilihan dagangan yang lebih beragam. Pergeseran ini memperlihatkan dinamika sosial-ekonomi yang terus berkembang di wilayah tersebut.