Willem Hendrik de Greve (15 April 1840–22 Oktober 1872) adalah seorang geolog Belanda. Ia terkenal dengan penemuan tambang batu bara di Sawahlunto, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).
Biografi
Willem Hendrik de Greve lahir di Franeker, Belanda pada 15 April 1840. Ia menerima pendidikan teknik pertambangan di Akademi Kerajaan Delft pada tahun 1855. Setelah empat tahun, pada usia 19 tahun, ia memperoleh gelar sarjana teknik pertambangan dari akademi tersebut. De Greve memutuskan untuk mencari pekerjaan di Hindia Belanda. Pada 14 Desember 1861, ia ditunjuk oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menangani berbagai studi tentang mineral, sesuai dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu van de Beele. Tidak lama setelah itu, pada 27 Desember 1861, ia menikahi E.L.T. Baroness, putri dari pasangan W.R. Baron Hoevelinggi dan E.J.W. Rana. Dari pernikahan ini, ia memiliki tiga anak.[1]
Karier
Pada Agustus 1862, de Greve bersama kepala pertambangan Cornelis de Groot memulai ekspedisi untuk meneliti berbagai jenis endapan mineral di Buitenzorg (sekarang Bogor, Jawa Barat). Pada tahun 1864, de Greve ditugaskan di pulau Bangka. Ia berhasil mendorong perkembangan pertambangan timah di wilayah tersebut. Pada 26 Mei 1867, ia ditugaskan oleh Gubernur Hindia Belanda Pieter Mijer untuk melakukan ekspedisi penambangan potensial di pedalaman Minangkabau, yang sebelumnya telah diteliti oleh de Groot pada tahun 1858. Dalam ekspedisi ini, de Greve menemukan endapan batu bara sebanyak 200 juta ton di bukit-bukit sepanjang Sungai Batang Ombilin. De Greve melaporkan penemuannya kepada pemerintah Hindia Belanda di Batavia (sekarang Jakarta), dan menerbitkan Het Ombilien Kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en Het Transportstelsel op Sumatra’s Westkust (Ladang Batu bara Ombilien di Dataran Tinggi Padang dan Sistem Transportasi di Pantai Barat Sumatra) bersama W.A. Henny pada tahun 1871. Publikasi tersebut merekomendasikan infrastruktur kereta api yang akan mengangkut sumber daya batu bara ke pelabuhan di pantai timur Sumatra untuk tujuan perdagangan dengan negara-negara tetangga, misalnya Singapura.[2][1] Setelah publikasi tersebut, de Greve kembali ke Ombilin untuk menyelidiki wilayah tersebut lebih lanjut.
Di sebelah kanan adalah de Greve Monument di Padang, 1931.
Penelitian De Greve pada tahun 1867 di Dataran Tinggi Padang memiliki dampak besar bagi pemerintah Hindia Belanda dan perkembangan ekonomi di Sumatra Barat pada masa itu. Penemuan batu bara memicu ledakan industri pertambangan di Sawahlunto, yang memaksa pembangunan infrastruktur dan fasilitas di Sawahlunto, seperti jalan, bangunan, pelabuhan, dan sebagainya. Jalur kereta api Padang–Sawahlunto sepanjang 100 kilometer dibangun pada tahun 1887 dan selesai pada tahun 1894. Jalur ini menghubungkan Sawahlunto dengan pelabuhan Emmahaven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang, yang dibangun pada tahun 1892 untuk pengangkutan batu bara.[5]
Sebagai penghormatan atas kontribusinya, pemerintah Hindia Belanda menamai taman di Padang dengan nama de Greve Park. Di sekitarnya, dibangun sebuah monumen bernama de Greve Monument. Saat ini, monumen tersebut telah dihancurkan akibat kebijakan pembangunan di Padang pada masa kemerdekaan. Selain itu, salah satu dermaga di tepi sungai Batang Arau juga diberi nama De Grevekade.[6][1]
Asoka, Andi (2005). Sawahlunto Dulu, Kini, dan Esok Menyongsong Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya. Yogyakarta: Meja Malam Desain Grafis dan Nailil Printika. ISBN978-979-3723-50-1.
Erman, Erwiza (2005). Membaranya Batu Bara: Konflik Kelas dan Etnik Ombilin Sawahlunto (1892-1996). Jakarta: Desantra.