| Pengepungan Bukhara terjadi pada bulan Februari 1220, selama invasi Mongol ke Kekaisaran Khwarazmiyah. Jenghis Khan, penguasa Kekaisaran Mongol, melancarkan serangan dari berbagai arah terhadap wilayah kekuasaan Syah Muhammad II. Pasukan Mongol yang dipimpin langsung oleh Jenghis Khan—dengan kekuatan sekitar 30.000 hingga 50.000 personel—berhasil melintasi Gurun Kyzylkum yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dilalui oleh pasukan besar. Pertahanan Bukhara kewalahan menghadapi serangan dadakan ini. Setelah upaya serangan balik yang gagal, bagian luar kota menyerah dalam waktu tiga hari pada 10 Februari. Sementara itu, loyalis Khwarazmiyah bertahan di benteng kota selama kurang dari dua minggu sebelum akhirnya jatuh setelah pertahanan mereka dibobol. Meskipun Bukhara kemudian hangus terbakar, tingkat kerusakannya tergolong lebih ringan dibandingkan kota-kota lain yang diserang Mongol. Dalam waktu singkat, kota ini kembali bangkit sebagai pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan, bahkan memperoleh keuntungan besar berkat stabilitas politik di bawah Pax Mongolica. (Selengkapnya...)
|
|
Ānanda adalah pelayan utama sekaligus salah satu dari sepuluh murid utama Sang Buddha. Di antara sekian banyak murid Sang Buddha, Ānanda paling dikenal karena memiliki ingatan yang luar biasa. Dalam teks Buddhis awal, Ānanda disebut sebagai sepupu Sang Buddha dan murid dari Puṇṇa Mantānīputta. Setelah dua puluh tahun melakukan pelayanan dalam saṅgha, Ānanda dipilih oleh Sang Buddha untuk menjadi pelayan pribadinya. Tak lama setelah kematian Sang Buddha, Sidang Buddhis Pertama diadakan. Menurut catatan tradisional, Ānanda mencapai pencerahan tepat sebelum sidang dimulai, yang merupakan syarat untuk mengikuti sidang tersebut. Selama sidang berlangsung, Ānanda menjadi sumber ingatan hidup Sang Buddha, melafalkan banyak khotbah Sang Buddha serta memeriksa keakuratannya. Ānanda adalah salah satu tokoh yang paling dicintai dalam Buddhisme. Dia dikenal karena ingatannya, pengetahuannya, dan welas asihnya, dan sering kali dipuji oleh Sang Buddha karena hal-hal tersebut. (Selengkapnya...)
|

Kontroversi upacara adat Tionghoa adalah pertentangan pendapat antarmisionaris Katolik seputar sifat agamawi dari upacara-upacara yang berkaitan dengan ajaran Konghucu dan upacara-upacara adat orang Tionghoa pada abad ke-17 dan ke-18. Pokok permasalahannya adalah apakah adat-istiadat berbakti kepada leluhur keluarga, upacara-upacara yang berkaitan dengan ajaran Konghucu, dan upacara-upacara kenegaraan Tiongkok dapat disifatkan sebagai upacara keagamaan, dan dengan demikian bertentangan dengan akidah Kristen Katolik. Menurut misionaris-misionaris Yesuit, upacara-upacara itu hanyalah upacara-upacara sekuler yang tidak menyalahi akidah Kristen, sehingga patut ditoleransi dalam batas-batas tertentu. Misionaris-misionaris Dominikan dan Fransiskan tidak sependapat, lalu mengadu ke Roma. Pada tahun 1645, Kongregasi Suci untuk Penyiaran Iman (Propaganda Fide) di Roma membenarkan pandangan misionaris-misionaris Dominikan, dan mengharamkan upacara-upacara adat orang Tionghoa berdasarkan risalah-risalah yang ditulis misionaris-misionaris Dominikan. Pada tahun 1656, Propaganda Fide berbalik membenarkan pandangan misionaris-misionaris Yesuit, dan mencabut pengharaman tersebut. (Selengkapnya...)
|