Sebuah waralaba film digambarkan sebagai seri film yang tidak hanya melanjutkan narasi melalui sekuel dan prekuel, tetapi juga mencakup perluasan melalui interteks tambahan yang dapat berupa spin-off, remake, dan reboot. Format ini tidak selalu hadir dalam bentuk film, melainkan bisa berupa penceritaan lintas media melalui unsur lain seperti novel, permainan video, dan karya lainnya.
Pada era awal Hollywood klasik, beberapa film berkembang menjadi seri, seperti Tarzan of the Apes (1918), meskipun jumlahnya relatif sedikit. Sebagian lainnya merupakan produksi berbiaya rendah yang didasarkan pada merek populer, misalnya Superman dalam bentuk serial film dan drama radio. Waralaba dan seri awal seperti James Bond sering kali menampilkan tokoh, latar, dan formula cerita yang berulang, tetapi umumnya tetap berdiri sebagai kisah mandiri. Seiring waktu, nilai dan harapan penonton berubah, sehingga muncul permintaan lebih besar akan konsistensi naratif dan kesinambungan dunia cerita antara film dan media terkait. Penerimaan terhadap karya dalam berbagai format kemudian memengaruhi pengembangan film berikutnya dalam suatu waralaba.
Ketika konglomerat mulai memanfaatkan hak kekayaan intelektual film dan televisi mereka, hal ini memungkinkan pengulangan karya dalam berbagai media yang menandai era baru dengan daya tarik jangka panjang melalui waralaba film seperti Jaws dan Star Wars. Produksi waralaba berlanjut sepanjang 1980-an dan semakin berkembang pada 1990-an dengan seri film seperti Batman (1989–1997). Produksi semacam ini mendorong munculnya film andalan pada akhir 1990-an dan 2000-an.
Memasuki abad ke-21, konsolidasi industri film dan televisi Amerika lebih mengutamakan waralaba film dibandingkan konten orisinal.[1] Berbagai faktor finansial dalam pembuatan film Hollywood mendorong pengembangan waralaba film dibandingkan produksi berbiaya rendah dan film independen yang dianggap memiliki risiko finansial lebih besar.[2]Waralaba media ini, menurut Bryan Hikari Hartzheim, James Fleury, dan Stephen Mamber, memiliki dampak besar terhadap industri film.[3] Jurnalis Ben Fritz bahkan menyatakan pada 2018 bahwa era waralaba film merupakan revolusi paling signifikan dalam industri film sejak berakhirnya sistem studio pada 1950-an.[3] Pergeseran dominasi waralaba film memengaruhi bentuk produksi sebelumnya seperti sistem bintang, dengan penekanan lebih besar pada film yang berada dalam semesta bersama serta konsistensi naratif yang lebih kuat dalam materi tambahan waralaba. Pendapatan box office global waralaba Hollywood juga semakin bergantung pada pasar film Tiongkok, sehingga sejumlah materi diadaptasi untuk penonton di negara tersebut dan kemudian melibatkan kerja sama dengan perusahaan produksi lokal.
Karakteristik
Akademisi David Church dalam Horror Franchise Cinema (2021) menulis bahwa istilah "waralaba film" dan "seri film" semakin sering disamakan dalam wacana populer.[4] Church melanjutkan bahwa waralaba film kontemporer merupakan seri multi-film yang tidak hanya mendorong narasi maju atau mundur melalui sekuel dan prekuel, tetapi juga mencakup perluasan melalui interteks tambahan. Hal ini memungkinkan kisah paralel dalam spin-off hingga peninjauan ulang narasi dalam remake atau reboot, menunjukkan bahwa waralaba lebih berkaitan dengan proliferasi yang melampaui perkembangan linear daripada sekadar umur panjang sebuah seri.[4] James Fleury dan Stephen Mamber menegaskan hal ini dalam The Franchise Era: Managing Media in the Digital Economy (2019), dengan menyatakan bahwa sementara sebuah seri terdiri atas karya dalam satu medium, waralaba memindahkan sebuah merek ke berbagai bentuk media.[5] Derek Johnson lebih lanjut menjelaskan bahwa waralaba media menandakan "produksi budaya yang berlipat ganda" dan Daniel Herbert menekankan bahwa istilah tersebut merujuk pada logika yang bersifat "industrial" yang dirancang "untuk memperluas dan menyebarkan" suatu kekayaan intelektual (IP) ke dalam beragam teks.[6][7]
Pentingnya kesinambungan naratif telah berubah dalam waralaba sepanjang sejarah film. Di luar beberapa waralaba media seperti Alien, Rocky, dan Shaft, hanya sedikit waralaba film awal yang mengikuti kesinambungan cerita dari teks asal.[8] Sebagian lainnya di-reboot untuk alur cerita baru seperti Planet of the Apes, sementara yang lain seperti Star Trek membangun garis waktu alternatif, berfungsi sekaligus sebagai reboot dan sekuel.[8] Seiring berkembangnya era digital, waralaba multimedia menjadi waralaba lintas media yang menerapkan perluasan naratif dalam semua teksnya.[9]
Sebagai bagian dari multimedia, film mengikuti bentuk manajemen top–down sebagai waralaba, di mana teks tambahan (seperti tie-inpermainan video) mengulang narasi dari teks utama sebuah film.[9] Contohnya adalah film Alien (1979) yang menampilkan Ellen Ripley diperankan oleh Sigourney Weaver, terjebak di kapal luar angkasa Nostromo dan berjuang melawan makhluk asing.[9] Saat 20th Century-Fox menindaklanjuti film pertama, waralaba tersebut berkembang menjadi lintas media dengan novelisasi dan dua permainan video (Alien (1982) dan Alien (1984)). Karya-karya ini mengambil langsung elemen plot dari film dan menyajikannya secara abstrak dalam bentuk permainan.[5]
Meskipun terjadi perubahan genre film antarfilm, seperti unsur film laga dalam Aliens dan format film penjara dalam Alien 3 (1992), Fleury dan Mamber menulis bahwa identitas waralaba lebih bergantung pada keterikatan dengan dunia film daripada konvensi genre film, dan hal ini meluas hingga ke parateks waralaba.[10] Ketika waralaba Alien berkembang menjadi lebih lintas media, hal ini menunjukkan bagaimana waralaba film membawa tuntutan baru di era digital, dengan penonton menuntut kesinambungan yang lebih ketat antar teks, kolaborasi yang lebih erat antara pemegang lisensi dan penerima lisensi, serta keterlibatan rutin dengan penggemar.[9] Narasi menjadi pendorong utama ekonomi waralaba, baik melalui konsistensi maupun melalui perubahan dengan reboot, remake, dan spin-off.[11] Daniel Herbert menambahkan bahwa Star Wars: The Force Awakens (2015) "mungkin hanya sebuah film tunggal, tetapi memikul tanggung jawab untuk mewakili dan mendukung seluruh waralaba media".[12] Hal ini juga berlaku pada metateks waralaba, seperti permainan video Aliens: Colonial Marines (2013) yang mendapat sambutan buruk dari kritikus karena kurangnya kesinambungan naratif dan keterhubungan dengan seri film. Penerimaan tersebut membuat 20th Century Fox menghentikan pengembangan produksi film Alien oleh Neill Blomkamp, yang awalnya akan mengabaikan Alien 3 dan Alien Resurrection (1997), karena penonton kini memberikan tekanan besar pada setiap teks dalam waralaba film untuk memenuhi ekspektasi yang mencerminkan teks asalnya.[13]
Church, David (2021). "Seriality Between the Horror Franchise and the Horror Anthology Film". Dalam McKenna, Mark; Proctor, William (ed.). Horror Franchise Cinema. Routledge. ISBNÂ 9780367183271.
Fleury, James; Hartzheim, Bryan Hikari; Mamber, Stephen (2019). "Introduction: The Franchise Era". Dalam Fleury, James; Hartzheim, Bryan Hikari; Mamber, Stephen (ed.). The Franchise Era: Managing Media in the Digital Economy. Edinburgh University Press. ISBNÂ 9781474477741.
Fleury, James; Mamber, Stephen (2019). "The (Im)perfect Organism: Dissecting the Alien Media Franchise". Dalam Fleury, James; Hartzheim, Bryan Hikari; Mamber, Stephen (ed.). The Franchise Era: Managing Media in the Digital Economy. Edinburgh University Press. ISBNÂ 9781474477741.