Wangsalan (Carakan: ꦮꦁꦱꦭ꧀ꦭꦤ꧀) merupakan kalimat tebak-tebakan dalam bahasa Jawa yang hampir mirip dengan cangkriman. Ciri utama yang membedakan wangsalan dengan cangkriman ialah bahwa wangsalan memiliki petunjuk untuk menjawab batangan atau tebusannya di dalam kalimat pertanyaannya.[1]
Macam wangsalan
Berdasarkan jumlah batangan atau tebusannya, wangsalan dapat dibedakan menjadi berikut ini:
Wangsalan lamba
Wangsalan lamba merupakan wangsalan yang hanya memiliki satu batangan atau tebusan. Wangsalan ini hanya berisikan satu kalimat yang terdiri dari dua larik. Larik pertama berisi wangsalan, sedangkan larik kedua berisi batangan. Contohnya adalah sebagai berikut:[1][2]
Pindhang lulang, kacèk apa aku karo kowé. (Pindhang lulang = krècèk)
Jenang gula, kowé aja lali. (Jenang gula = glali)
Sekar arèn, rawuhipun sampun dangu-dangu. (Sekar arèn = dangu)
Njanur gunung, kadingarèn. (Janur gunung = arèn)
Mbalung klapa, gelemé mung éthok-éthokan. (Balung Klapa = bathok)
Masjid alit, aja sok nglanggar aturan! (Masjid alit = langgar)
Wangsalan rangkep
Wangsalan rangkep atau wangsalan camboran merupakan wangsalan yang memiliki batangan lebih dari satu. Wangsalan ini berisi dua kalimat yang masing-masing kalimat tersebut terdiri atas dua larik. Kalimat pertama berisi wangsalan dan kalimat kedua berisi batangan. Contohnya adalah sebagai berikut:[1][2]
Tengarèng prang, andheging riris, kudu teteg lan kudu terang ing pikir. (Tengara perang = keteg, andheging riris = terang)
Tapas arèn, arèn Arab wijilira tindak tanduk, nora ninggal tata krama. (Tapas arèn = duk, arèn Arab wijilira = kurma)
Wangsalan memet
Wangsalan memet merupakan wangsalan yang dalam mencari batangan-nya harus dikupas dua kali atau lebih. Contohnya adalah sebagai berikut:[1][2]
Uler kambang, yèn trima alon-alonan.
Pembahasan kupasan pertama: Uler kambang maksudnya adalah hewan lintah.
Pembahasan kupasan kedua: Suku kata “tah” dalam kata lintah, dihubungkan dengan kata satitah.
Kata satitah berarti ora ngaya atau dalam melakukan sesuatu tidak terlalu memaksakan untuk cepat. Maka kata satitah berelasi dengan istilah alon-alonan atau melakukan seusatu dengah perlahan tanpa ada paksaan.
Kesusastraan
Kesusastraan Jawa Baru mengalami perkembangan pesat sekitar abad ke-18 hingga awal abad ke-20 M. Karya sastra berupa tembang atau puisi bermetrum merupakan salah satu karya kesusastraan populer ketika itu. Sri Paduka Mangkunagara IV dari Surakarta menjadi salah satu raja yang memprakarsai dan menciptakan bermacam karya kesusatraan. Dalam karya-karyanya banyak mengandung paramasastra, salah satunya yaitu Serat Rerepèn. Dalam serat ini terdapat wangsalan, sebagaimana dikutip berikut ini:[3]
Pangkur
jirak pindha munggwing wana (kusambi) | sayèng kaga: (kala) wé rekta kang muroni (anggur) | nyenyambi kalané nganggur | wastra tumrap mastaka (iket) | pangiketé wangsalan kang sekar pangkur | baon sabin ing nawala (karya) | kinarya langen pribadi ||
wicara tanpa karana (ngayawara) | bebasané janma nunggal sapanti (dunung) | ngayawara tanpa dunung | sampang panggilap wreksa (prenis) | peprenésan linaras resmining kayun | narmadalit ngalang marga (kali) | tan liya amung ngrerepi ||
Budaya modern
Pengetahuan dan bahasa Jawa menjadi salah satu unsur yang dapat dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam bermasyarakat, salah satunya yaitu wangsalan yang berisi pitutur atau nasihat luhur tentang budi pekerti.[4] Dalam budaya modern, dapat ditemui beberapa karya seni berupa lagu mengandung wangsalan. Di antara yang populer ialah lagu-lagu Didi Kempot. Dalam beberapa lagunya memiliki penggalan kalimat yang terdapat ‘wangsalan lamba’ yaitu berupa kata-kata yang mengandung tebakan tetapi sederhana.[5]