Desa Wangkal dalam bahasa Jawa disebut Dèså Wangkal (ꦢꦺꦰ ꦮꦔ꧀ꦏꦭ꧀꧉) dan oleh masyarakat setempat yang berbahasa Madura disebut Dhisah Bângkal (ꦝꦶꦰꦃ ꦧꦼꦔ꧀ꦏꦭ꧀꧉) adalah sebuah desa yang menjadi ibu kota Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.[1] Desa ini merupakan salah satu dari 15 desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Gading[1] dan saat ini dipimpin oleh Kepala Desa Ahmad Taufik. Secara administratif, Desa Wangkal terdiri dari lima dusun, yaitu Dusun Krajan yang berada di bagian tengah desa, Dusun Kramat di bagian selatan, Dusun Kedung Kajar di bagian utara, Dusun Sentong di bagian timur, dan Dusun Sumber Cangkelek di bagian barat desa. Wilayah desa juga terbagi menjadi 12 Rukun Warga (RW) dan 30 Rukun Tetangga (RT), jumlah yang terbanyak di antara seluruh desa di Kecamatan Gading.[1]
Geografi dan Demografi
Secara geografis, Desa Wangkal termasuk daerah dataran rendah yang terletak pada ketinggian antara 60 hingga 120 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan koordinat antara 7°49'37" LS sampai 7°51'09" LS dan 113°25'07" BT sampai 113°26'51" BT. Luas wilayah desa ini mencapai 6,51 km², atau setara 5,25% dari total luas Kecamatan Gading yang mencapai 123,97 km².[1] Dari sisi topografi, sekitar 79,5% wilayah desa berupa area vegetasi, sawah, kebun, dan ruang terbuka, sementara sekitar 20,5% sisanya berupa area permukiman, jalan, dan bangunan.
Sebagai bagian dari Kabupaten Probolinggo, Desa Wangkal mengikuti pola iklim tropis basah dan kering dengan dua musim. Suhu udara di wilayah ini berkisar antara 18° hingga 34°C, dengan kelembapan nisbi antara 71% hingga 83%. Musim kemarau berlangsung pada bulan Mei hingga Oktober, dengan bulan terkering pada Agustus, di mana rata-rata curah hujan mencapai ± 29,5 mm per hari hujan. Musim hujan berlangsung pada bulan November hingga April, dengan bulan terbasah pada Januari, di mana curah hujan bulanan melebihi 260 mm per bulan, sementara curah hujan tertinggi terjadi pada Desember hingga Maret dengan rata-rata ± 360 mm per hari hujan. Pada masa pancaroba atau peralihan musim, wilayah ini kerap dilanda angin kering kencang dari arah Tenggara menuju Barat Laut yang dikenal oleh warga setempat sebagai "Angin Gending".
Dari aspek kependudukan, Desa Wangkal tercatat sebagai desa dengan populasi terbesar di Kecamatan Gading, yaitu 7.658 jiwa, yang terdiri atas 3.787 laki-laki dan 3.871 perempuan, dengan rasio jenis kelamin sebesar 97,83. Jumlah penduduk ini menyumbang 13,75% dari total penduduk kecamatan, dengan kepadatan penduduk mencapai 1.989 jiwa per km², jauh di atas rata-rata kecamatan. Jumlah kepala keluarga di desa ini tercatat sebanyak 2.736 KK, yang terdiri atas 2.159 kepala keluarga laki-laki dan 577 kepala keluarga perempuan. Etnis mayoritas penduduk Desa Wangkal adalah etnis Madura yang bercampur dengan etnis Jawa, dengan mata pencaharian utama warga sebagai petani, pedagang, dan buruh.[1]
Dari sisi keagamaan, mayoritas mutlak penduduk Desa Wangkal memeluk agama Islam dengan jumlah 7.650 jiwa, disusul pemeluk agama Protestan sebanyak 8 jiwa, sementara tidak tercatat penduduk yang memeluk agama Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun agama atau kepercayaan lainnya.[1]
Asal Usul Nama Desa Wangkal
Wangkal dahulu diyakini merupakan bagian dari wilayah Desa Ganding, sebuah nama desa kuno yang berbatasan langsung dengan desa kuno Baremi di sisi selatan. Keberadaan wilayah ini pada masa lampau ditandai dengan sebuah prasasti batu tulis beraksara Kawi yang terdapat di Desa Wangkal. Wilayah Ganding sendiri kini telah berubah status menjadi sebuah kecamatan dengan nama Kecamatan Gading.
Nama "Wangkal" diyakini telah lama melekat pada daerah ini, sebagaimana tercermin dari panjangnya daftar kepala desa yang pernah menjabat di Desa Wangkal. Daftar tersebut sebelumnya tertulis di bangunan pendopo kantor desa, namun kini sudah tidak dapat ditemukan lagi karena bangunan pendopo telah mengalami renovasi.
Menurut catatan asal-usul desa yang pernah tertulis di pendopo kantor desa, Desa Wangkal dibuka oleh seorang tokoh bernama Nolo Branti atau Nala Branti. Nama "Wangkal" sendiri konon diambil dari banyaknya pohon wangkal atau weru (Albizia procera Benth.) yang tumbuh di wilayah tersebut pada waktu pembukaan hutan, sehingga masyarakat setempat menamai daerah ini sesuai dengan nama pohon tersebut. Tokoh Nolo Branti sendiri hingga kini sangat dihormati dan dituakan oleh masyarakat Desa Wangkal.
Menariknya, nama "Nolo Branti" diperkirakan bukan merupakan nama asli seorang tokoh, melainkan sebuah gelar atau sebutan. Dalam bahasa Sanskerta, kata "nala/nolo" berarti "pikiran", sedangkan "branti" berarti "perasaan kasmaran" atau cinta yang mendalam, sehingga nama tersebut dapat dimaknai sebagai sosok yang memiliki pemikiran dan jiwa yang sangat mencintai daerahnya. Kaitan ini kemudian dihubungkan dengan tokoh sejarah Raden Arya Kuti (R.A. Kuti), seorang bangsawan yang dikenal pernah memimpin pemberontakan terhadap Kerajaan Majapahit. Setelah pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh Patih Gajah Mada, R.A. Kuti dikabarkan menghilang tanpa jejak. Meski demikian, banyak yang meyakini bahwa R.A. Kuti wafat dan dimakamkan di wilayah Ganding, walaupun lokasi pastinya hingga kini belum ditemukan. Di Desa Wangkal sendiri terdapat sebuah kuburan atau asta yang diyakini masyarakat setempat sebagai makam tokoh Nolo Branti. Keyakinan ini turut diperkuat oleh makna kata "wangkal" dalam bahasa Jawa Kuno/Kawi, yang berarti "tegar, teguh pendirian, atau keras kepala", sifat yang dikaitkan dengan kegigihan R.A. Kuti dalam mencintai dan mempertahankan daerahnya.
Selain versi tersebut, terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa nama "Wangkal" berasal dari keratabasa dalam bahasa Madura, yaitu kata "Bângkal", yang berarti "bâng-tabângannah akal" atau "bâng-nabângannah akal", yakni tempat berkejar-kejarannya akal atau tempat mengejar akal. Versi ini didasarkan pada cerminan/keyakinan masyarakat bahwa di daerah ini Nolo Branti pernah membuka sebuah pasraman untuk mengajarkan berbagai ilmu kepada para muridnya, sehingga melahirkan banyak orang pandai yang saling berkejaran untuk menandingi ilmu dan akal satu sama lain. Ada pula anggapan bahwa pada zaman dahulu, masyarakat dari luar daerah kerap datang meminta pertolongan ke wilayah ini karena dikenal memiliki penduduk yang pandai, sehingga mereka datang untuk "mengejar akal" atau mencari cara guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Perlu ditegaskan bahwa seluruh uraian di atas hanya merupakan cerita dan opini yang berkembang secara turun-temurun di kalangan sesepuh desa. Hingga saat ini belum terdapat penelitian ilmiah maupun bukti arkeologis yang dapat memastikan kebenaran sejarah asal-usul nama Desa Wangkal secara pasti, sehingga informasi ini perlu dipahami sebagai kearifan lokal dan bukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Desa Wangkal Sebagai Ibukota Kecamatan Gading
Kedudukan dan Perangkat Pemerintahan
Desa Wangkal menempati posisi strategis sebagai ibukota Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Hal tersebut dapat dilihat dari terpusatnya sejumlah kantor pemerintahan lintas tingkat di wilayah desa ini, mulai dari tingkat desa hingga instansi kecamatan. Setidaknya terdapat lima kantor pemerintahan yang beroperasi di Desa Wangkal, yaitu Kantor Desa Wangkal itu sendiri, Kantor Kecamatan Gading, Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Gading, Komando Rayon Militer (Koramil) Gading, serta Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gading.
Kantor Desa Wangkal
Kantor Desa Wangkal berlokasi di bagian tengah wilayah desa, dengan alamat administratif di Jl. Raya Wangkal, Dusun Krajan, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kantor ini beroperasi pada hari Senin hingga Jumat, dengan jam pelayanan yang dimulai pada pukul 08.00 WIB, serta tidak melayani masyarakat pada akhir pekan (Sabtu–Minggu libur).
Sebagai unit pemerintahan pada tingkat desa, struktur organisasi Kantor Desa Wangkal dipimpin oleh Kepala Desa yang dibantu oleh Sekretaris Desa, beberapa Kepala Urusan (Kaur) yang membidangi urusan umum, keuangan, dan perencanaan, serta Kepala Seksi (Kasi) yang menangani bidang pemerintahan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat. Pada tingkat kewilayahan, pemerintahan desa didukung oleh lima Kepala Dusun (Kasun) yang masing-masing membawahi Dusun Krajan, Dusun Kramat, Dusun Kedung Kajar, Dusun Sentong, dan Dusun Sumber Cangkelek.
Selain sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan desa, Kantor Desa Wangkal juga menjadi pusat koordinasi berbagai lembaga desa dan unsur pendukung pelayanan masyarakat. Di lingkungan kantor desa terdapat Badan Permusyawaratan Desa Wangkal (BPD) yang berperan sebagai mitra pemerintah desa dalam menampung serta menyalurkan aspirasi masyarakat dan melakukan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. Selain itu, terdapat pula Lembaga Kemasyarakatan Desa Wangkal (LKD) yang berfungsi membantu pemerintah desa dalam pemberdayaan masyarakat, pelaksanaan pembangunan, serta pelayanan sosial kemasyarakatan. Kantor desa juga menjadi tempat koordinasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM/LPP) yang berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat pada setiap tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan desa. Dari unsur keamanan dan ketertiban, Kantor Desa Wangkal menjadi tempat berkantor sekaligus pusat koordinasi Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Kehadiran kedua unsur tersebut bertujuan untuk mendukung terciptanya keamanan, ketertiban, serta pembinaan masyarakat melalui kegiatan pendampingan, penyuluhan, dan penanganan permasalahan sosial di tingkat desa. Untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan hukum, di lingkungan Kantor Desa Wangkal juga tersedia Pos Bantuan Hukum (Posbakum) yang memberikan layanan konsultasi hukum, penyuluhan hukum, serta pendampingan administratif bagi masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain lembaga-lembaga tersebut, kantor desa juga menaungi berbagai organisasi kemasyarakatan, antara lain Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, Kelompok Tani, serta Program Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB) yang dikenal dengan nama Kampung KB Batu Tulis.
Kantor Pemerintahan
Di luar kantor desa, Wangkal juga menjadi lokasi bagi kantor-kantor pemerintahan yang melayani seluruh wilayah Kecamatan Gading. Kantor Kecamatan Gading terletak di Jl. Chandra Hasan No. 403, Dusun Krajan, tidak jauh dari Kantor Desa Wangkal, dan berfungsi sebagai pusat administrasi kecamatan sekaligus lokasi berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kantor Polsek Gading berada di Jl. Chandra Hasan No. 354, Dusun Krajan, Desa Wangkal. Tidak jauh dengan Polsek, Kantor Koramil 0820/23 Gading juga berlokasi di Jl. Raya Wangkal, Dusun Krajan dan beroperasi selama 24 jam penuh. Adapun untuk urusan keagamaan, khususnya pencatatan nikah dan bimbingan keagamaan Islam, terdapat Kantor KUA Kecamatan Gading yang berlokasi di Jl. R. Sidharta, Dusun Kramat, dengan jam layanan Senin hingga Jumat pukul 07.30–16.00 dan libur pada akhir pekan.
Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan di Desa Wangkal tersedia cukup lengkap mulai jenjang prasekolah hingga menengah pertama. Pada jenjang prasekolah/PAUD terdapat TK Kartini serta PAUD & TK Mutiara Hati, keduanya berlokasi di Dusun Sentong. Pada jenjang sekolah dasar, desa ini memiliki empat SD negeri, yaitu SD Negeri Wangkal I (Jl. Batu Tulis No. 110) dan SD Negeri Wangkal III yang keduanya berada di Dusun Sentong, SD Negeri Wangkal II di Jl. Mayjen Widodo No.10, Dusun Kramat, serta SD Negeri Wangkal IV di Dusun Sumber Cangkelek. Setara jenjang sekolah dasar berbasis keagamaan, terdapat Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Jannah di Jl. Pesantren No. 72, Dusun Sentong dan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Hasan di Dusun Kramat.[2] Pada jenjang sekolah menengah, Desa Wangkal menjadi lokasi SMP Negeri 1 Gading di Jl. Raya Wangkal–Kaliacar, Dusun Sumber Cangkelek. Pada jenjang setara, terdapat pula Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Jannah dan Miftahul Hasan di kawasan Jl. Mayjen Widodo, Dusun Sentong dan Jl. R. Shidarta, Dusun Kramat.[3]
Fasilitas Perekonomian
Sebagai pusat kecamatan, aktivitas perekonomian di Desa Wangkal berlangsung cukup ramai. Pasar Wangkal, yang berlokasi di tengah Desa Wangkal menjadi pasar tradisional utama dan beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 12.00 siang. Di luar pasar tradisional, kebutuhan ritel modern dilayani oleh sejumlah toko swalayan skala menengah, yaitu Basmalah Wangkal di Jl. Mayjen Widodo; Indomaret Wangkal di Jl. R. Sidharta, Dusun Kramat; Toko Takasimura di Jl. Mayjen Widodo, Dusun Sentong, yang menjual kebutuhan sandang selain sembako; dan Family Market di Jl. Raya Wangkal, Dusun Krajan. Selain sektor perdagangan, terdapat pula unit PT Pegadaian yang melayani jasa gadai bagi masyarakat sekitar sebagai alternatif akses permodalan. Di sektor keuangan mikro berbasis syariah, terdapat pula Koperasi BMT Maslahah di Dusun Krajan yang melayani simpan pinjam bagi warga dan pelaku usaha kecil setempat, beroperasi Senin hingga Jumat pukul 08.00–16.00
Fasilitas Kesehatan dan Sosial-Kemasyarakatan Lainnya
Untuk kebutuhan kesehatan, Desa Wangkal memiliki Puskesmas Wangkal yang beralamat di Jl. Mayjen Widodo, Dusun Sentong. Puskesmas ini memiliki wilayah kerja yang cukup luas, mencakup 13 desa di sekitarnya dengan total cakupan area seluas 93,2 km². Untuk kegiatan sosial dan olahraga warga, terdapat Lapangan Wangkal di Jl. Raya Wangkal, Dusun Krajan, yang letaknya berdekatan dengan kantor desa dan Koramil. Lapangan ini secara rutin digunakan untuk pertandingan sepak bola maupun berbagai kegiatan kemasyarakatan tingkat desa dan kecamatan. Dari sisi keagamaan, Desa Wangkal memiliki sejumlah masjid yang tersebar di berbagai dusun. Yang paling menonjol adalah Masjid Besar Baiturrahman Wangkal, yang berlokasi tidak jauh dari Pasar Wangkal dan dikenal warga sebagai landmark desa karena arsitekturnya yang megah, sekaligus kerap menjadi tempat berkumpul calon jamaah haji. Masjid lain yang tercatat antara lain Masjid Bustanur Rahman dan Masjid Raudhotul Islam di Dusun Sentong, Masjid Nurul Iman di Dusun Kedung Kajar, Masjid Darun Naim di Dusun Sumber Cangkelek dan masih banyak lagi.