Dalam Buddhisme, vitakka,[note 1] diterjemahkan sebagai "penempelan awal,"[1] "penempatan awal pikiran,"[2] "pemikiran yang diarahkan,"[4] "penyelidikan [awal]"[5][6] (bedakan dari dhamma vicaya); dan vicāra,[note 2] diterjemahkan sebagai "penempelan terus-menerus,"[1] "penempatan sinambung pikiran,"[2] "menyelidiki apa yang telah difokuskan oleh vitakka;[7] adalah kualitas atau elemen dari jhāna pertama.
Dalam Tripitaka Pali, vitakka-vicāra membentuk satu ungkapan yang merujuk pada tindakan mengarahkan pikiran atau perhatian seseorang pada suatu objek (vitakka) dan menyelidikinya (vicāra),[8][9][10][11][12] "menguraikannya menjadi komponen-komponen fungsional untuk memahaminya [dan] membedakan berbagai faktor pengondisi yang terlibat dalam suatu peristiwa fenomenal (dalam ranah indra)."[13]
Tradisi penafsiran Theravāda di kemudian hari, seperti yang diwakili oleh kitab Visuddhimagga karya Buddhaghosa, menafsirkan vitakka dan vicāra sebagai penerapan perhatian awal dan berkelanjutan pada objek meditasi, yang berpuncak pada ketenangan/ketidakberpihakan (upekkhā) batin. Menurut Fox dan Bucknell vitakka-vicāra juga dapat merujuk pada "proses normal pemikiran diskursif," yang ditenangkan melalui penyerapan dalam jhāna kedua.[14][15]
Etimologi
Secara etimologis, istilah Palivitakka dan vicāra memiliki akar kata yang dapat ditelusuri melalui padanannya dalam bahasa Sanskerta.
Vitakka sepadan dengan istilah Sanskerta vitarka (वितर्क) — "pikiran,"[16][4] "pemikiran yang diarahkan,"[17][4] "perhatian yang diarahkan,"[4] "penyelidikan,"[5] "penyelidikan awal,"[6] "penerapan mental awal, atau niat penyelidikan intelektual awal."[7] Akar kata pembentuknya adalah:
वि vi, awalan untuk kata kerja dan kata benda yang diungkapkannya;
तर्क tarka (yang berasimilasi menjadi takka dalam bahasa Pali), "penalaran, penyelidikan."[18]
Vitakka dapat merujuk pada aktivitas mental yang bermanifestasi baik dalam kesadaran normal maupun pada tahap pertama jhāna.[4] Menurut Buswell dan Lopez, secara umum istilah ini berarti "pikiran," "pemikiran yang diarahkan," atau "pikiran yang teralihkan."[4] Menurut Bhikkhu Bodhi, "Dalam Sutta, kata vitakka sering digunakan dalam arti longgar sebagai pikiran, tetapi dalam Abhidhamma, kata ini digunakan dalam arti teknis yang presisi untuk merujuk pada faktor mental yang menaikkan atau mengarahkan pikiran menuju suatu objek."[16]
Vicāra (memiliki ejaan yang sama dalam bahasa Pali dan Sanskerta: विचार) — "penyelidikan,"[5][6] "penalaran dan pemikiran diskursif berikutnya, yaitu, menyelidiki apa yang telah difokuskan oleh vitakka."[7] Akar kata pembentuknya adalah:
वि vi, awalan untuk kata kerja dan kata benda yang diungkapkannya;
चर् car, bergerak, menjelajah, memperoleh pengetahuan tentang [sesuatu].[19]
Vitakka menyelidiki hal-hal secara kasar, sementara vicāra menyelidiki hal-hal dengan saksama.[9][10][11][12] Menurut Dan Lusthaus, vicāra adalah "penalaran dan pemikiran diskursif berikutnya, yaitu, menyelidiki apa yang telah difokuskan oleh vitakka."[7]
Vitakka dan vicāra adalah dua dari faktor mental (cetasika) yang hadir selama jhāna pertama, dan yang tidak ada pada jhāna-jhāna yang lebih tinggi.[20][21] Menurut Shankman, "ada dua makna berbeda yang disarankan [...] satu menunjukkan aktivitas mental seperti berpikir, merenung, dan sebagainya, dan yang lain merujuk pada aktivitas mental yang menghubungkan dan mempertahankan perhatian pada objek meditasi."[3]
Penempatan pikiran
Menurut Dan Lusthaus, vitakka-vicāra adalah pengamatan analitis, suatu bentuk paññā (kebijaksanaan). Vitakka-vicāra "melibatkan pemusatan perhatian pada [sesuatu] dan kemudian menguraikannya menjadi komponen-komponen fungsional" untuk memahaminya, "membedakan banyak faktor pengondisi yang terlibat dalam peristiwa fenomenal (dalam ranah indra)."[13]
Menurut Polak, dalam Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan tradisi Theravāda, vitakka dan vicāra sebagian besar berkaitan dengan pemikiran tentang kesan-kesan indra, yang memunculkan lebih banyak proliferasi/pembiakan mental (papañca). Pengendalian atas pemikiran ini selaras dengan pelatihan Buddhis tentang "pengendalian indra" (indriyasaṃvara) dan "usaha benar" (sammāvāyāma), yang berpuncak pada ketidakberpihakan batin (upekkhā) dan perhatian-penuh (sati) dari praktik jhāna.[22][23]
Dalam tradisi Buddhisme Tibet, Ulrich Timme Kragh menjelaskan vitarka (ketajaman, kearifan) dan vicāra (bersifat diskursif), sebagaimana dipahami oleh Yogācārabhūmi-Śāstra, demikian: vitarka adalah "operasi kognitif yang bertanggung jawab untuk memastikan apa yang diserap oleh indra dengan awalnya melabelinya dengan nama", sementara vicāra adalah "operasi konseptual selanjutnya untuk memutuskan apakah objek indra yang diserap itu diinginkan dan tindakan apa yang mungkin ingin diambil sehubungan dengannya".[24]
Dalam tradisi Buddhisme Mahāyāna, menurut Naichen, "Samādhi dengan pemeriksaan umum dan penyelidikan mendalam berarti menyingkirkan dhamma yang tidak bajik, seperti keserakahan dan kebencian, untuk berdiam dalam sukacita dan kesenangan yang disebabkan oleh ketidakmunculan [kotoran batin], dan untuk memasuki [penyerapan] meditasi (jhāna) [tahap] pertama serta sepenuhnya berdiam di dalamnya."[25]
Tradisi penafsiran
Menurut Stuart-Fox, tradisi Abhidhamma Theravāda memisahkan vitakka dari vicāra, dan ekaggatā (keterpusatan pikiran, kemanunggalan pikiran) ditambahkan ke dalam deskripsi jhāna pertama untuk menjelaskan hubungan antara lima rintangan batin dan lima penawar dari rintangan batin secara seimbang.[26] Tradisi penafsiran menganggap kualitas-kualitas jhāna pertama sebagai penawar dari lima rintangan batin, dan ekaggatā mungkin telah ditambahkan sebagai suatu faktor dari jhāna pertama untuk menjelaskan lima penawar bagi lima rintangan tersebut.[27][note 3] Ashin Kusaladhamma menjelaskan bahwa lima jenis rintangan batin (nīvaraṇa) yang dibakar (diredam) oleh lima faktor jhāna masing-masing adalah:[28]
Thīna-middha (kemalasan & kelambanan) diatasi oleh vitakka
Meskipun pada awalnya hanya merujuk pada pikiran yang hadir di awal jhāna, istilah vitakka dan vicāra ditafsirkan ulang dalam tradisi Abhidhamma Theravāda dan tradisi penafsiran yang berkembang darinya. Dalam Theravāda, vitakka adalah salah satu faktor mental yang menangkap kualitas suatu objek. Vitakka adalah "penerapan perhatian awal"[4] atau pikiran terhadap objeknya,[21] sementara vicāra adalah penerapan pikiran yang berkelanjutan pada suatu objek.[16]Vitakka dianggap sebagai penawar untuk thīna-middha (kemalasan dan kelambanan), salah satu dari lima rintangan batin.[16]
Karakteristik: mengarahkan kesadaran ke objek (ārammaṇecittassa abhiniropanalakkhaṇo).
Fungsi: menyentuh dan memukul objek (āhananapariyāhananarasa).
Manifestasi: membawa kesadaran ke objek (ārammaṇecittassa ānayanapaccupaṭṭhāno).
Sebab-terdekat: objek.
Lebih lanjut, Kheminda menjelaskan vitakka sebagai berikut:[30]
Secara harfiah, penempelan-awal berarti memikirkan objek secara mendalam, kontemplasi atau perenungan (vitakkana). Akan tetapi, di dalam terminologi Abhidhamma, penempelan-awal berarti aktivitas mental yang “menaikkan” (āropeti) dan menempatkan kesadaran ke objeknya. Kitab komentar memberikan perumpamaan penempelan-awal seperti seseorang yang mempunyai hubungan baik dengan raja. Dengan memanfaatkan hubungan baiknya, maka dia bisa membantu teman dan saudara-saudaranya untuk berkunjung ke istana raja. ... Jadi, penempelan-awal adalah faktor-mental yang membuat kesadaran dan faktor-faktor-mental yang muncul bersama mampu menjangkau dan “menempel” pada objek untuk pertama kalinya. Tanpa penempelan-awal maka kesadaran tidak akan bisa “menempel” pada objeknya. ... Dengan bantuan penempelan-awal, para yogī (meditator) mampu “menyentuh” objek meditasinya. ... Di dalam kehidupan sehari-hari, penempelan-awal memastikan batin untuk menempel pada objek pikiran kita. Akan tetapi, penempelan-awal yang muncul di kehidupan sehari-hari sangatlah lemah, kesadaran tidak bisa menempel pada objek dengan kukuh; tidak sekuat pada saat penempelan-awal muncul di batin para yogī yang mencapai jhāna.
Untuk faktor-mental vicāra, Kheminda menjelaskan bahwa vicāra didefinisikan dalam empat batasan:[31]
Karakteristik: memukul objek tanpa henti (ārammaṇānumajjanalakkhaṇa).
Fungsi: mengikat dan menempelkan dhamma yang muncul bersama ke objek (sahajātānuyojanarasa).
Manifestasi: mengikat secara terus-menerus (cittassaanuppabandhapaccupaṭṭhāna).
Sebab-terdekat: objek.
Lebih lanjut, Kheminda menjelaskan vicāra sebagai berikut:[32]
Apabila penempelan-awal adalah faktor-mental yang membantu kesadaran untuk menempel pada objeknya untuk pertama kalinya, maka penempelan-terus-menerus adalah faktor mental yang mempertahankan kesadaran untuk terus menempel pada objek. Seperti halnya gema gong yang mempunyai kualitas lebih lembut dibandingkan bunyi gong yang pertama kali keluar; maka, demikianlah kualitas penempelan-terus-menerus yang lebih lembut dibandingkan penempelan-awal. ... Perbedaan dua faktor-mental ini sangat terasa pada saat seseorang mencapai jhāna pertama dan kedua. Jhāna pertama, dikarenakan masih ada penempelan-awal [yang] terasa kasar, dan itulah mengapa para yogī kemudian bertekad untuk menanggalkan penempelan-awal guna mencapai jhāna kedua yang lebih halus.
Proses normal pemikiran diskursif
Menurut Roderick S. Bucknell, "vitakka-vicāra, faktor yang secara khusus mencirikan jhāna pertama, mungkin tidak lain adalah proses normal dari pemikiran diskursif, aliran citra mental dan verbalisasi yang akrab tetapi biasanya tidak disadari".[20][note 4]
Martin Stuart-Fox menjelaskan, merujuk pada Rhys Davids dan Stede, ketika vitakka-vicāra disebutkan secara bersamaan, keduanya merupakan satu ungkapan, "untuk mencakup semua variasi pemikiran, termasuk pemikiran yang berkelanjutan dan terfokus. Pemikiran dalam pengertian inklusif inilah yang ditekan oleh meditator melalui konsentrasi ketika ia mencapai kesatuan/kemanunggalan pikiran, dan dengan demikian berpindah dari jhāna pertama ke jhāna kedua".[14]
Tradisi Yogācāra
Istilah Yogācāramanas berarti "kesengajaan, keberkehendakan, keniatan" (intentionality)[33] atau 'pemikiran yang berpusat pada diri sendiri',[34] dan "pemikiran diskriminatif" (vikalpa). Proses meditasi bertujuan pada keadaan "tanpa pemikiran," menghentikan kedua proses kognitif ini.[33]
Mudrā Vitakka, "mudra diskusi," mengekspresikan vitakka secara simbolis dengan cara menyatukan ujung ibu jari dan jari telunjuk, serta menjaga jari-jari lainnya tetap lurus. Mudra ini memiliki banyak variasi dalam Buddhisme Mahāyāna, dan juga dikenal sebagai Prajñāliṅganabhinaya dan Vyākhyāna mudrā ("mudra penjelasan"). Mudrā Vitakka dianggap melambangkan pengajaran dan instruksi serta dikaitkan dengan momen-momen penting dalam kehidupan Buddha, seperti khotbah pertama-Nya tentang Empat Kebenaran Mulia dan mukjizat di Sāvatthī, tempat Buddha mengungkapkan keajaiban-Nya. Awalnya digambarkan dengan tangan kanan, sejak abad ke-8 M, mudra ini juga telah direpresentasikan menggunakan tangan kiri.[35]
↑(Sanskerta: वितर्क, romanized:vitarkacode: sa is deprecated ; वितर्क; Tibet: རྟོག་པ།;Wylie: rtog pa)
↑(Sanskerta: विचार, romanized:vicāracode: sa is deprecated ; Tibet: དཔྱོད་པ།;Wylie: dpyod pa)
↑Stuart-Fox lebih lanjut mencatat bahwa vitakka, sebagai pemikiran diskursif, tidak akan banyak berfungsi sebagai penawar untuk kemalasan dan kelambanan, yang mencerminkan inkonsistensi yang diperkenalkan oleh para cendekiawan.[27]
↑Bucknell merujuk pada: * Martin Stuart-Fox, "Jhana and Buddhist Scholasticism," Journal of the International Association of Buddhist Studies 12.2 (1989): 79-110 * Paul Griffiths, "Buddhist Jhana: A form-critical study," Religion 13 (1983): 55-68.
↑Ulrich Timme Kragh (editor), The Foundation for Yoga Practitioners: The Buddhist Yogācārabhūmi Treatise and Its Adaptation in India, East Asia, and Tibet, Volume 1 Harvard University, Department of South Asian studies, 2013, p. 72.
Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
Bucknell, Roderick S. (Winter 1993), "Reinterpreting the Jhanas", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 16 (2)
Buswell; Lopez (2013), The Princeton Dictionary of Buddhism, Princeton University Press
Chen, Naichen (2017), The Great Prajna Paramita Sutra, Volume 1, Wheatmark
Fox, Martin Stuart (1989 ), "Jhana and Buddhist Scholasticism", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 12 (2) ; Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" (Edisi Kindle), Dharma Publishing
Kalupahana, David J. (1992), The Principles of Buddhist Psychology, Delhi: ri Satguru Publications
Keown, Damien (2004), A Dictionary of Buddhism, Oxford University Press
Kunsang, Erik Pema (2004), Gateway to Knowledge, Vol. 1, North Atlantic Books
Lusthaus, Dan (2002), Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun, Routledge
Polak, Grzegorz (2011), Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology, UMCS
Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi, Shambhala Publications
Wayman, Alex (1997), "Introduction", Calming the Mind and Discerning the Real: Buddhist Meditation and the Middle View, from the Lam Rim Chen Mo Tson-kha-pa, Motilal Banarsidass Publishers