Seekor nyamuk sesaat setelah mengisap darah manusia (perhatikan tetesan plasma darah yang dikeluarkan ketika nyamuk membuang kelebihan air). Nyamuk merupakan vektor bagi berbagai penyakit, termasuk malaria.
Dalam epidemiologi, vektor penyakit adalah setiap agen hidup[1] yang membawa dan menularkan patogen infeksius, seperti parasit atau mikroba, kepada organisme hidup lainnya.[2][3] Banyak vektor yang dikenal luas, seperti nyamuk, caplak, dan beberapa jenis lalat, bergantung pada kebiasaan mengisap darah dan dapat memperoleh ataupun menularkan patogen selama proses tersebut.[4] Vektor penyakit masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan global.[1] Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa penyakit yang ditularkan melalui vektor mencakup lebih dari 17% dari seluruh penyakit infeksi di dunia dan menyebabkan ratusan ribu kematian setiap tahunnya.[1] Istilah ini juga digunakan untuk sejumlah serangga dan organisme lain yang menularkan patogen tumbuhan ke tanaman budidaya.
Agen yang digolongkan sebagai vektor umumnya merupakan artropoda pengisap darah (hematofagi), seperti nyamuk. Penemuan besar pertama mengenai vektor penyakit dilakukan oleh Ronald Ross pada tahun 1897, ketika ia menemukan patogen penyebab malaria setelah membedah jaringan lambung seekor nyamuk.[5][6] Proses pembuktian bahwa suatu vektor bertanggung jawab atas penularan patogen disebut identifikasi vektor. Penularan bergantung pada interaksi antara inang, patogen, dan spesies vektor yang mampu membawa infeksi tersebut.[7] Beberapa patogen dapat berkembang biak atau menjalani sebagian siklus hidupnya di dalam tubuh vektor, sedangkan yang lain hanya dipindahkan dari satu permukaan ke permukaan lainnya tanpa berkembang di dalam tubuh pembawanya.[7]
Perubahan iklim, perluasan kawasan perkotaan, dan perubahan penggunaan lahan mengubah wilayah yang dapat dihuni oleh vektor. Suhu yang lebih hangat serta perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan populasi nyamuk dan caplak, sekaligus memperpanjang musim berkembang biak serta memperluas sebaran geografisnya.[8] Ruang terbuka hijau di perkotaan dan berbagai infrastruktur juga berpotensi menciptakan tempat berkembang biak baru bagi vektor seperti nyamuk, sehingga mendekatkan mereka ke kawasan dengan kepadatan penduduk yang tinggi.[9] Selain itu, perdagangan internasional dan perpindahan manusia dapat dengan cepat membawa vektor dan patogen melintasi benua, sehingga berpotensi memperkenalkannya kepada populasi yang belum pernah terpapar sebelumnya.[10] Populasi yang belum pernah terpapar adalah kelompok individu yang sebelumnya belum pernah bersentuhan atau terpapar suatu zat, pengobatan, maupun kondisi tertentu sehingga belum memiliki kekebalan atau pengalaman terhadapnya.[11][rujukan melingkar]
Sebagai respons terhadap perubahan tersebut, berbagai lembaga kesehatan masyarakat mendorong penerapan pendekatan yang luas dan terkoordinasi untuk mengurangi penyakit tular vektor. Strategi yang diterapkan meliputi pemantauan populasi vektor, peningkatan pengelolaan lingkungan, penguatan partisipasi masyarakat, serta pemanfaatan perangkat dan teknologi baru apabila sesuai.[12]
12de Souza, William M.; Weaver, Scott C. (August 2024). "Effects of climate change and human activities on vector-borne diseases". Nature Reviews. Microbiology. 22 (8): 476–491. doi:10.1038/s41579-024-01026-0. ISSN1740-1534. PMID38486116.