Uromastyx adalah genus kadal dalam famili Agamidae. Anggotanya berasal dari Afrika dan Timur Tengah (Asia Barat). Kadal ini umumnya disebut dhab, kadal ekor duri, uromastyces, atau mastigures.
Dhab sebagian besar herbivora, tetapi kadang-kadang memakan serangga dan hewan kecil lainnya, terutama kadal muda. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu bangun mereka berjemur di bawah sinar matahari, bersembunyi di ruang bawah tanah pada malam hari atau ketika bahaya muncul. Mereka cenderung menetap di daerah berbukit dan berbatu dengan perlindungan yang baik dan vegetasi yang mudah diakses.
Taksonomi
Nama genusUromastyx berasal dari kata-kata Yunani Kuno οὐρά (ourá) yang berarti "ekor", dan μάστιξ (mástix) yang berarti "cambuk" atau "pecut", berdasarkan ekor berduri tebal yang menjadi ciri khas semua spesiesnya.[2]
Spesies
Spesies berikut termasuk dalam genus Uromastyx.[3] Tiga spesies tambahan sebelumnya ditempatkan dalam genus ini, tetapi telah dipindahkan ke genusnya sendiri, yakni Saara.[3][4]
The spiny tail of the Uromastyx serves as a defense mechanism, which the lizard swings at predators to protect itself. The tail’s spines can inflict damage, making it an effective tool for deterring threats
Nota bene: Nama binomial dalam tanda kurung menunjukkan bahwa spesies tersebut awalnya dideskripsikan dalam genus selain Uromastyx.
Deskripsi
Seperti banyak reptil, warna kadal ini berubah sesuai dengan suhu dan musim.[6] Saat cuaca dingin, mereka tampak kusam dan gelap, tetapi warnanya menjadi lebih terang saat cuaca hangat, terutama saat berjemur. Pigmentasi yang lebih gelap memungkinkan kulit mereka menyerap sinar matahari lebih efektif.
Ekor berduri mereka berotot dan berat, dan dapat diayunkan ke penyerang dengan kecepatan tinggi, biasanya disertai desisan dan memperlihatkan gigi (kecil) dengan mulut terbuka. Dhab umumnya tidur di liang mereka, dengan ekor mereka paling dekat dengan lubang untuk menggagalkan penyusup.[7]
Persebaran
Dhab mendiami wilayah yang membentang di sebagian besar Afrika Utara dan Timur Laut, Timur Tengah, hingga ke timur sejauh Iran. Spesies yang ditemukan lebih jauh ke timur sekarang ditempatkan dalam genus Saara.[4] Dhab ditemukan di ketinggian dari permukaan laut hingga lebih dari 900 m (3.000 kaki). Mereka secara teratur dimakan dan dijual di pasar hasil bumi oleh masyarakat setempat.
Reproduksi
Dhab betina dapat bertelur antara 5 hingga 40 butir, tergantung pada usia dan spesiesnya. Telur diletakkan sekitar 30 hari setelah perkawinan dengan masa inkubasi 70–80 hari. Bayi yang baru menetas memiliki berat 4–6 g (0,14–0,21 ons) dan panjang sekitar 5 cm (2 inci) dari moncong hingga kloaka. Mereka dengan cepat bertambah berat selama beberapa minggu pertama setelah menetas.[8]
Sebuah studi lapangan di Aljazair menyimpulkan bahwa dhab Maroko menambah pertumbuhan total sekitar 5 cm (2 inci) setiap tahun hingga sekitar usia 8–9 tahun.[8]
Di penangkaran, betina U. dispar maliensis cenderung meniru warna jantan.[9] Oleh karena itu, U. dispar maliensis terkenal sulit dikembangbiakkan di penangkaran.
Hubungan dengan manusia
Sepasang dhab yang dipelihara di penangkaran
Penangkaran
Dhab diambil dari alam liar secara tidak teratur untuk perdagangan hewan peliharaan dan obat-obatan di Maroko meski statusnya dilindungi di negara tersebut, kondisinya saat dijual seringkali sangat buruk dan kepadatan yang berlebihan sering terjadi.[10]
Pandangan agama
Islam
Dalam Islam, dhab halal untuk dimakan.[nb 1][nb 2][nb 3][11] Selain itu, bagian tertentu dari tubuh dhab juga dijadikan obat-obatan.[12]
Nabi Muhammad pernah menyinggung lubang tempat dhab bersarang dalam hadisnya tentang perumpamaan orang-orang Islam di masa depan yang perlahan mengikuti kebiasaan khusus yang dilakukan orang-orang selain Islam.[nb 4]
Yudaisme
Dalam Yudaisme, kadal ini secara tradisional diidentifikasi sebagai tzav alkitabiah, salah satu dari delapan hewan "merayap" yang dilarang untuk dikonsumsi karena menimbulkan kenajisan ritual. Taurat menyatakan: "Berikut ini adalah najis bagimu di antara binatang-binatang merayap yang berkerumun di bumi: cerpelai, mencit, kadal dhab (tzav) dari segala jenis, tokek, dan buaya darat, dan kadal, skink, dan kameleon" (Imamat 11:29–30).[13]
Catatan
↑Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Nabi saw. pernah ditanya tentang dhab dan Nabi menjawab: Aku tidak suka memakannya, tetapi aku tidak mengharamkannya. (Shahih Muslim No.3598)
↑Hadis riwayat Khalid bin Walid ra.: Bahwa ia bersama Rasulullah saw. mendatangi rumah Maimunah, isteri Nabi ra. yang juga masih termasuk bibinya dan juga bibi Ibnu Abbas. Di rumahnya, ia (Khalid) mendapatkan daging dhab yang dipanggang, oleh-oleh dari saudara Maimunah, Hufaidah binti Harits dari Najed. Daging itu kemudian dihidangkan kepada Rasulullah saw. karena tidak diberitahu, maka Rasulullah saw. lalu mengulurkan tangannya hendak memakannya. Pada saat itulah seorang wanita yang kebetulan sedang berada di rumah Maimunah berkata: Beritahu Rasulullah saw. apa yang kalian suguhkan kepada ia itu. Mereka lalu mengatakan: Itu daging dhab, wahai Rasulullah! Seketika itu Rasulullah saw. menarik kembali tangannya. Kemudian Khalid bin Walid bertanya: Apakah dhab itu haram, wahai Rasulullah saw.? Rasulullah saw. menjawab: Tidak, akan tetapi di daerah kaumku, daging itu tidak ada dan aku tidak suka memakannya. Khalid berkata: Lalu aku mengambil dan memakannya, sedangkan Rasulullah saw. melihat dan tidak melarangku. (Shahih Muslim No.3603)
↑Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Bibiku, Ummu Hufaid memberikan hadiah kepada Rasulullah saw. berupa minyak samin, keju dan daging dhab. Minyak samin dan kejunya dimakan dan daging Dhab-nya dibiarkan karena ia merasa jijik. Daging itu pernah dihidangkan di meja makan Rasulullah saw. Kalau seandainya daging itu haram, maka daging itu tidak akan dihidangkan di meja makan Rasulullah saw. (Shahih Muslim No.3604)
↑Hadis riwayat Muslim, no. 2269 dan Bukhari, no. 7319.
12Wilms TM, Böhme W, Wagner P, Lutzmann N, Schmitz A (2009). "On the Phylogeny and Taxonomy of the Genus Uromastyx Merrem, 1820 (Reptilia: Squamata: Agamidae: Uromastycinae) – Resurrection of the Genus Saara Gray, 1845". Bonner zoologische Beiträge56 (1/2): 55–99.
↑Beolens, Bo; Watkins, Michael; Grayson, Michael (2011). The Eponym Dictionary of Reptiles. Baltimore: Johns Hopkins University Press. xiii + 296 pp. ISBN978-1-4214-0135-5. (Uromastyx macfdyeni, p. 164).
12Vernet, Roland; Lemire, Michel; Grenot, Claude J.; Francaz, Jean-Marc (1988). "Ecophysiological comparisons between two large Saharan Lizards, Uromastyx acanthinurus (Agamidae) and Varanus griseus (Varanidae)". Journal of Arid Environments 14:187–200.