Upacara Adat Reba atau Ritus Reba adalah upacara adat Masyarakat Ngada di Nusa Tenggara Timur. Acara ini dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat Ngada dan memiliki nilai luhur yang mendalam.[1] Upacara adat ini dilangsungkan pada bulan Januari hingga Februari dan diadakan sekali dalam setahun. Tradisi atau ritus adat ini merupakan bentuk perayaan ucapan syukur kepada Tuhan, alam dan leluhur. Sebelum ritual adat dilakukan, terlebih dahulu dilakukan perayaan Misa Inkulturasi bagi semua peserta ritual, sesuai kepercayaan Khatolik.[2]
Pada saat upacara, peserta pria mengenakan baju berwarna merah tua dengan bawahan sarung adat berwarna hitang dengantitik - titik putih. Mereka membawa kelewang dengan panjang sekitar 70cm. Bagian pangkal bawah kelewang dililit bulu ekor kuda berwarna putih. Kelewang dipegang dengan posisi tegak. Sedangkan peserta wanita mengenakan pakaian berwarna hitam - hitam. Mereka memegang tongkat dengan ujung atas diikat bulu hewan berwarna putih dan menari membentuk lingkaran. Mereka menari mengikuti irama lagu O Uwi dan tanpa diiringi alat musik.[3]
Makna Reba
Reba memiliki nilai yang sangat tinggi. Reba sebagai bentuk untuk mewujudkan ekspetasi, imajinasi, dan nilai - nilai budaya. Ada empat nilai utama, dalam ritual ini, yaitu menyembah kepada Allah (ucapan syukur), kepada arwah leluhur, kepada alam dan kepada adat.
Dalam tradisi Reba, ada penanaman nilai kehidupan yang digambarkan lewat uwi (ubi) sebagai bentuk simbol utama Reba. Simbol ubi menanandai tunas hidup baru dan diharapkan akan sejahtera di masa mendatang.[2]
Ubi tersebut diyakini sebagai roti kehidupan manusia dan diserukan namanya pada perayaan Reba lewat tarian tanda O Uwi. Ini melambangkan wujud seorang tokoh mitologis perempuan yang adalah utusan dari Wujud Tertinggi bagi manusai dan secara khusus melambangkan pribadi yang mengurbankan hidup agar sesamanya mendapat hidup sejahtera.
Hubungan tradisi Reba dengan leluhur ditandai saat para tokoh adat membacakan petuah bijak terkait pesan kebijaksanaan hidup dari leluhur masyarakat Ngada. Lewat petuah tersebut, masyarakat Ngada dalam perayaan Reba melakukan instrospeksi diri serta menarasikan nilai - nilai hidup yang patut dipertahankan sepanjang tahun yang telah berlalu dan harapan baru di tahun yang akan datang.[2]
Tarian O Uwi
Tarian O Uwi berasal dari Kabupaten Ngada dan merupakan bagian dari upacara Reba. Reba merupakan pesta adat terbesar, pesta syukur atas kebaikan dan penyelenggaraan kehidupan dari Tuhan (Dewa Zeta Nitu Zale) yang dinikmati orang Ngada lewat hasil pertanian, peternakan dan syukuran lainnya. Lewat ritus Reba, rasa syukur masyarakat ditampilkan lewat tarian O Uwi.
Dewa Zeta Nitu Zale
Dewa Zeta Nitu Zale terdiri atas empat suku kata yang mempunyai arti tersendiri. Namun, jika disatukan akan mengandung suatu pemahaman yang tidak terpisahkan dan diucapkan dengan satu kesatuan. Dasar atau sumber asalnya berada di atas yang disebut Zeta, di ketinggian, tempat yang agung atau keagungan. Hal ini menggambarkan pengalaman manusia seperti hujan dari atas. Namun, sampai di mana tingginya, hanya dapat diukur dengan kemampuan pandangan mata manusia. Orang Ngada percaya bahwa Dewa sebagai pribadi yang memiliki kekuatan melampaui kekuatan manusia dan bersemayam di tempat yang tinggi. Dewa diartikan sebagai Tuhan yang memiliki kemampuan melampaui manusia. Nitu digambarkan sebagai suatu pribadi yang tinggal di tempat yang dalam, yang disebut Zale Ulu Nitu. Dipercaya sebagai pribadi yang memiliki kekuatan yang tidak terbatas, yang tidak kelihatan dan tidak dapat dilihat dengan mata jasmani. Zale-di bawah, ke bawah arahnya dari kehidupan manusia dan kedalamannya sampai tidak bisa disebutkan atau di dasar yang paling dalam.
Dewa Zale Nitu Zale merupakan kekuatan yang mendasari moralitas hidup orang Ngada. Dewa Zale Nitu Zale merupakan ungkapan kekuatan yang menyatu. Satu kekuatan yang berpribadi yang menyelenggarakan hidup manusia. Menggambarkan satu pribadi yang sempurna. Pemahaman inilah yang memudahkan orang Ngada mengakui Allah sebagai pencipta dan penguasa langit dan bumi.[3]