Umayyah bin Abi as-Shalt adalah seorang tokoh penyair yang hidup di zaman Jahiliyah hingga Islam. Nama lain atau kunyah nya adalah Abu al-Hakam (mirip dengan Abu Jahal). Ia berasal dari kabilah Tsaqif dan terkenal sebagai salah satu penganut agama hanifiyah (monoteisme) yang menghindari bahkan menentang penyembahan berhala di zaman pra-Islam. Ia merupakan salah satu petinggi kabilah Tsaqif sebagaimana jejak ayahnya dulu, dan mendiami kota Thaif.[1]
Nasab Keluarga
Nama lengkapnya adalah Umayyah bin Abi as-Shalt (Abdullah) bin Abi Rabi'ah bin Auf bin 'Uqdah bin 'Izzah bin Auf bin Tsaqif. Sebagai penyair, ia dikenal sebagai salah satu penyair Jahiliyah paling berpengaruh di luar ashabul mu'allaqat. Meskipun ia dilahirkan di kota Thaif, tapi ia masih memiliki darah kebangsaan Quraisy dari jalur ibunya yang bernama Ruqayyah binti Abdi Syams bin Abdi Manaf. Ia juga dikenal sebagai ahli ibadah di zamannya yang menolak penyembahan berhala sebagaimana umumnya orang Arab zaman tersebut.[2]
Kisah Hidup
Selain dikenal sebagai penyair, sebenarnya dia juga merupakan tokoh yang banyak sekali berkunjung ke berbagai tempat di luar Hijaz untuk memperkaya khazanah keilmuannya. Sehingga karya syair yang ia susun tidak seperti penyair Jahiliyah pada umumnya yang biasanya berkutat pada perkara khamr dan wanita. Syair Umayyah sering membahas tentang surga, neraka, hari pembalasan, dan kepercayaan tauhid (monoteis).
Ia berinteraksi dengan khazanah persia ketika pergi ke daerah Yaman untuk menimba ilmu pengetahuan berupa kisah-kisah bersejarah bangsa Persia, kemungkinan yang berkaitan dengan kepercayaan Majusi. Ia juga sering bepergian ke daerah Syam, untuk mendengarkan kisah dari para rahib nasrani dan Yahudi. Secara tidak langsung ia mempelajari Taurat dan Injil dari agama abrahamik.
Umayyah sebenarnya hidup hingga memasuki fase Islam, tetapi ia menolak untuk masuk Islam (secara jelas), beberapa sumber atau naskah sejarah Islam menyebutkan bahwa alasan untuk perilakunya ini adalah rasa dengki. Dari apa yang ia pelajari bersama dengan para rahib Yahudi dan Nasrani, ia melantunkan syair yang berbunyi:
ألا رسول لنا منا فيخبرنا ما بعد غايتنا من رأس مجرانا
"Ketahuilah bahwa (akan) ada seorang utusan untuk kami yang berasal dari kami (Arab) yang mengabarkan kepada kami tentang apa yang akan terjadi setelah kematian sebagai pemberhentian terakhir kami (Akhirat)"
Setelah itu, ia berangkat menuju Bahrain (daerah sekitaran teluk Arab) dan menetap di sana selama sekitar 8 tahun, dan pada saat yang bersamaan di Makkah Nabi Muhammad memulai dakwah keislaman.
Saat Umayyah kembali ke Thaif, ia bertanya kepada kaumnya: Apa yang dikatakan Muhammad bin Abdullah? mereka menjawab: Dia mengaku sebagai sosok Nabi yang sudah engkau tunggu-tunggu sebelumnya. Singkat cerita, ia datang ke Makkah untuk menemui Nabi Muhammad untuk menanyakan hakikat Islam. Nabi kemudian memintanya untuk mulai berbicara, Umayyah kemudian melantunkan syair yang cukup panjang. Saat tiba giliran Nabi Muhammad, Nabi melafalkan surat Yasin yang membuat Umayyah terdiam dan mengakui kebenaran risalah yang dibawa Nabi, karena meyakini dan mengetahui bahwa ayat yang dilantunkan bukanlah perkataan biasa seperti syair yang ia buat. Namun ia tidak langsung menyatakan keislamannya dan meminta waktu untuk merenung dan kembali.
Saat selesainya terjadi perang Badar, Umayyah mendatangi Madinah untuk menyatakan keislamannya, namun dicegat seseorang yang mengabarinya bahwa keponakannya yaitu Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabiah (Bani Abdi Syams) telah terbunuh dan dilemparkan ke dalam sumur Badar, sehingga ia berbalik arah dan bergegas menuju sumur. Ia melantunkan syair ratapan di sana atas kedua keponakannya kemudian langsung kembali ke Thaif tanpa menemui Rasulullah untuk masuk Islam.
Kisah Kematian
Umayyah bin Abi As-Shalt meninggal pada tahun kelima Hijriyah (626 M). Diriwayatkan bahwa ketika menjelang wafat, Ia berkata: Sungguh telah dekat ajalku, dan inilah penyakit yang mengantarku padanya. Aku tau bahwa agama Hanifiyah itu benar (dan sesuai Islam) tetapi sesuatu dalam diriku telah membuatku ragu atas kebenaran yang dibawa Muhammad.
Setelah itu ia pingsan, dan ketika siuman ia melantunkan syair:
لبيك لبيكا
هأنذا لديكا
لا مال يفديني
ولا عشيرة تنجيني
"Aku menjawab panggilanmu (wahai Tuhanku), inilah aku di hadapan-Mu, tidak ada harta yang bisa menebus (kesalahan) ku, dan tidak ada keluarga yang akan menyelamatkanku (dari balasan-Mu)".
Hal ini mungkin yang menjadi alasan Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa sebenarnya Umayyah masuk islam di akhir hayatnya.[3]
Sumber Pustaka
Referensi
↑Al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Thuqusy Muhammad. At-Tarikh al-Islamiy al-Wajiz. Dar en-Nafais. hlm.25–26. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Ibnu Hajar al-'Asqalani. al-Ishabah fi Tamyiz as-Shahabah. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)