Thomas Aikenhead adalah anak keempat dan anak laki-laki pertama dari pasangan James Aikenhead dan Helen Ramsey. Ayahnya adalah seorang pejabat di Edinburgh, dan begitu pula dengan kakeknya dari pihak ayah (yang juga bernama Thomas Aikenhead). Sementara itu, kakeknya dari pihak ibunya adalah seorang pendeta. Thomas dibaptis pada 28 Mei 1676. Dari antara tiga kakak perempuannya (Jonet, Katherine, dan Margaret), setidaknya satu (dan mungkin dua) sudah meninggal sebelum Thomas lahir.[2]
Pendakwaan
Saat sedang kuliah di Universitas Edinburgh, Thomas berdiskusi dengan teman-temannya mengenai agama, dan laporan dari paling tidak lima temannya menjadi dasar untuk mendakwa Thomas atas penistaan agama.[3]
Aikenhead didakwa pada Desember 1696. Menurut pendakwaan tersebut:
Bahwa ... tawanan telah berulang kali menegaskan, secara lisan, bahwa teologi adalah alunan dari omong kosong yang dikarang dengan buruk, ditambal sebagian dari doktrin moral para filsuf, dan sebagian dari fiksi puitis dan ketidakmasukakalan yang luar biasa: Bahwa ia mengejek kitab suci, menyebut Kitab Ezra dalam Perjanjian Lama sebagai dongeng, yang merupakan alusi tak senonoh terhadap Dongeng Esop; Bahwa ia mencerca Kristus, mengatakan ia belajar sulap di Mesir, yang memungkinkannya melakukan trik yang kemudian disebut sebagai Mukjizat: Bahwa ia menyebut Perjanjian Baru sebagai kisah Kristus penipu; Bahwa ia mengatakan Musa adalah seniman yang lebih hebat dan politikus yang lebih hebat; bahwa ia lebih baik memilih Muhammad daripada Kristus: Bahwa Kitab Suci dipenuhi dengan kegilaan, ketidakmasukakalan, dan kontrakdiksi, bahwa ia mengagumi kebodohan dunia yang telah lama terperdaya olehnya: Bahwa ia menolak misteri Tritunggal yang tidak layak untuk dibantah; dan mencemooh penjelmaan Kristus.[4]
Pengadilan dan vonis
Penuntut dalam perkara Thomas Aikenhead adalah Lord Advocate, Sir James Stewart. Ia menuntut hukuman mati untuk menjadi Thomas Aikenhead sebagai contoh agar orang lain tidak mengungkapkan pendapat sepertinya. Pada 24 Desember 1696, dewan juri menyatakan Thomas Aikenhead bersalah karena telah menghina Tuhan, menolak penjelmaan Kristus dan Tritunggal, serta mencemooh Alkitab.[3] Ia divonis hukuman gantung.[5]
Penghukuman mati
Pada pagi hari tanggal 8 Januari 1697, Aikenhead menulis kepada teman-temannya bahwa "adalah suatu prinsip yang melekat dan alamiah pada setiap manusia untuk memiliki kecenderungan yang tak dapat dipuaskan terhadap kebenaran, dan untuk mencarinya seperti mencari harta yang tersembunyi. . . Maka aku berlanjut hingga semakin sering aku memikirkannya, semakin jauh aku dari menemukan kebenaran yang aku inginkan. . ." Aikenhead mungkin membacakan surat ini di luar Tolbooth sebelum kemudian berjalan menuju tempat penggantungan di jalan yang berada di antara Edinburgh dan Leith. Konon ia meninggal sembari memegang Alkitab di tangannya "dengan segala tanda-tanda seseorang yang benar-benar bertobat".[1]
Aikenhead adalah orang terakhir yang dihukum gantung akibat penistaan agama di Britania Raya,[1] walaupun penistaan agama masih menjadi delik yang dapat diganjar hukuman mati di Skotlandia hingga tahun 1825.[6]
12Pringle, Helen (2006). "Are we capable of offending God?". Negotiating the Sacred. Blasphemy and Sacrilege in a Multicultural Society. ANU Press. hlm.31–42. ISBN1920942475. JSTORj.ctt2jbjjq.7.
↑Howell, T. B., ed. (1816). "Proceedings against Thomas Aikenhead for Blasphemy". A Complete Collection of State Trials and Proceedings for High Treason and Other Crimes and Misdemeanors from the Earliest Period to 1783, with Notes and Other Illustrations. Vol.Vol. 13. Longman, Hurst, Rees, Orme and Brown – via Google Books.
Brown, Henry H. (1918). "Old Scots Law of Blasphemy". Jurid. Rev. Vol.30. hlm.56+.
Hunter, Michael (1992). "'Aikenhead the Atheist': The Context and Consequences of Articulate Irreligion in the Late Seventeenth Century". Atheism from the Reformation to the Enlightenment. hlm.221–54.