Teuku Faisal Fathani (lahir pada 26 Mei 1975), adalah akademisi dan peneliti dalam bidang teknik sipil dan kebencanaan asal Indonesia. Ia merupakan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Republik Indonesia sejak 3 November 2025[1].
Ia mendapatkan sarjana dan magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada bidang Teknik Sipil dan Geoteknik, serta program doktor di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang (2005). Ia melanjutkan post-doctoral di Ehime University, Jepang (2010) dan visiting professor di Public Policy Center, the University of Iowa, USA (2013-2014). Pada tahun 2018, ia diangkat sebagai Guru Besar termuda di Fakultas Teknik UGM[2].
Sebelum menjadi Kepala BMKG, ia menjabat sebagai Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM, memimpin Pusat Unggulan dan Inovasi Teknologi Mitigasi Kebencanaan (PUI GAMA-InaTEK), dan menjadi Kaprodi Magister Manajemen Bencana di Sekolah Pascasarjana UGM[3].
Pendidikan
Faisal adalah lulusan SMA Taruna Nusantara Magelang angkatan pertama (TN 1). Ia kemudian menempuh pendidikan sarjana (S.T.) dan magister (M.T.) di bidang Teknik Sipil dan Geoteknik di Universitas Gadjah Mada (UGM), lulus masing-masing pada tahun 1998 dan 2001. Ia kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang, dan meraih gelar Ph.D. pada tahun 2005.[4]
Riwayat pendidikan dan pelatihan lanjutannya meliputi:
2005: Doktor (Ph.D.) bidang Geotechnical and Sabo Engineering, Tokyo University of Agriculture and Technology.
2010: Pascadoktoral (Post-doc) bidang Manajemen Bencana di Ehime University, Jepang.
2013–2014: Visiting Professor di Public Policy Center, University of Iowa, Amerika Serikat.
2018: Program Profesi Insinyur (Ir.), PSPPI Universitas Gadjah Mada.
Pada tahun 2018, Faisal dikukuhkan sebagai Guru Besar di Fakultas Teknik UGM.
Karier
Sebelum dilantik menjadi Kepala BMKG, Faisal aktif sebagai pengajar dan peneliti. Ia memiliki pengalaman panjang dalam kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah, industri, dan komunitas (pendekatan Quad Helix) dalam mitigasi bencana.
Beberapa jabatan yang pernah diemban[5] antara lain:
Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM (2021–2025).
Direktur Pusat Unggulan dan Inovasi Teknologi Mitigasi Kebencanaan (GAMA-InaTEK) UGM (2017–sekarang).
Ketua Program Studi Magister Manajemen Bencana, Sekolah Pascasarjana UGM (2018–2020).
Plt. Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemendikbudristek (2022).
Wakil Presiden International Consortium on Landslides (ICL) (2021–sekarang).
Penghargaan
Faisal juga merupakan peneliti dalam bidang inovasi teknologi sistem peringatan dini multi bencana berbasis komunitas[6]. Faisal dianugerahi penghargaan internasional IPL Award for Success dari International Programme on Landslides Global Promotion Committee–UNESCO di Roma (2011), Excellent Research Award on Mitigation of Geo-disasters in Asia dari Mitigation of Geo-disasters in Asia - MGDA di Kyoto (2012), dan Honorary Fellow Award dari International Consortium on Geo-Disaster Reduction – ICGdR di Shimane (2017).[7]
Pada tahun 2022, ia menerima Outstanding Innovation Award dari Hitachi Global Foundation. Di tingkat nasional, ia mendapatkan gelar sebagai Dosen Berprestasi Terbaik 1 di UGM (2012) dan Dosen Berprestasi Terbaik 1 Tingkat Nasional dari Kemendikbud (2013). Ia juga menerima Penghargaan Kebangkitan Teknologi Nasional ke-20 dan penghargaan sebagai Inovator Teknologi dengan judul inovasi: “Deteksi Dini Longsor” dari Kemenristekdikti (2015), serta Anugerah Kekayaan Intelektual Nasional kategori Inventor dari Kemenkumham (2016). Pada tahun 2017, ia meraih penghargaan Academic Leader (Adibrata). Ia juga mendapatkan Satyalancana Karya Satya XX Tahun oleh Presiden Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia (2019). Lalu pada tahun 2020, ia menerima Anugerah Hak Kekayaan Intelektual Produktif dari Kemenristek/BRIN.[8]