Secara etimologi, kata tesaurus berasal dari bahasa Yunani, yakni thēsauros yang bermakna 'khazanah', yang dalam perkembangannya bermakna 'buku yang dijadikan sumber informasi'.[1]
Sejarah dan pengembangan
Penyusunan Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia terinspirasi oleh kesuksesan Tesaurus Roget (Thesaurus of English Words and Phrases Classified and Arranged so as to Facilitate the Expression of Ideas and Assist in Literary Composition), yang diterbitkan pertama kali di Britania Raya pada tahun 1852 oleh Peter Mark Roget. Sebelum adanya tesaurus ini, bahasa Indonesia belum memiliki rujukan sejenis yang memuat kata dengan relasi maknanya secara luas seperti yang dilakukan Roget untuk bahasa Inggris.[1]
Perkembangan perilisan tesaurus ini terbagi dalam dua tahap utama, yaitu versi cetak dan versi daring. Versi cetak diterbitkan pertama kali pada tahun 2013, sementara versi daring menyusul pada 28 Oktober 2016 sebagaimana diresmikan melalui prakata oleh Kepala Badan Bahasa saat itu, Dadang Sunendar. Pembuatan versi daring ini merupakan wujud adaptasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terhadap kemajuan teknologi informasi demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan perangkat yang lebih efisien dan praktis. Selain itu, pengembangan antarmuka versi daring yang dilengkapi dengan fitur pencarian ramah pengguna ini dirancang oleh Arawinda Dinakaramani dan Dhyayi Warapsari.[1]
Secara isi dan susunan redaksi, versi daring merupakan pengalihwahanaan (konversi) penuh dari versi cetaknya tanpa ada perubahan atau penambahan. Keduanya tetap dipertahankan agar pengguna memiliki alternatif pilihan.[1]
Fungsi dan kegunaan
Pada dasarnya, tesaurus ini berfungsi sebagai sarana untuk mengalihkan ide atau gagasan menjadi sebuah kata, maupun sebaliknya. Pengguna yang lupa atau tidak mengenal kata yang sesuai dengan gagasan di pikirannya dapat berkonsultasi dengan tesaurus ini untuk mendapatkan pilihan kata yang lebih tepat, serta menyesuaikan nuansa makna yang dikehendaki.[1]
Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia dirancang untuk bermanfaat secara khusus bagi:
Profesional bidang komunikasi, seperti wartawan, penulis naskah iklan (copywriter), redaktur, dan orator.
Praktisi dan pelajar bahasa, seperti pengajar, pemelajar, dan pelajar bahasa Indonesia.
Pekerja seni dan sastra, seperti penulis yang membutuhkan penyelaman ke dalam dunia kata dan makna untuk kreasi sastra, seperti penciptaan puisi.[1]