Terra Cimmeria adalah wilayah di Planet Mars yang berpusat pada 34,7° LS 145° BT dan membentang hingga 5.400 km pada bagian terluasnya. Wilayah ini meliputi lintang 15°N hingga 75°S dan bujur 170°–260°B. Terra Cimmeria berada di kuadran Eridania dan merupakan bagian dari wilayah dataran tinggi selatan yang dipenuhi kawah. Wahana penjelajah Spirit mendarat di dekat wilayah ini.[1]
Nama Cimmeria berasal dari bangsa pelaut kuno Trakia yang dikenal karena tanahnya selalu tertutup awan dan kabut.[2] Pada Maret 2012, fenomena visual di ketinggian tinggi, kemungkinan berupa awan kondensasi, terdeteksi di wilayah ini. NASA melakukan pengamatan menggunakan beberapa satelit Mars, termasuk instrumen THEMIS pada pesawat Mars Odyssey (2001) dan MARCI pada Mars Reconnaissance Orbiter.[3][4]
Lurah Martian
Terra Cimmeria menjadi lokasi terbentuknya lurah, yang diduga terbentuk akibat aliran air cair pada masa geologis yang relatif baru.[5][6] Lurah umumnya ditemukan pada lereng curam, terutama di dinding kawah, dan dianggap muda karena memiliki sedikit atau bahkan tidak ada kawah tumbukan. Ciri khas lurah meliputi cekungan sumber (alcove), saluran (channel), dan endapan kipas (apron).[7] Beberapa studi menemukan lurah muncul pada lereng yang menghadap ke berbagai arah, sementara studi lain menunjukkan jumlah terbesar ditemukan pada lereng yang menghadap kutub, khususnya dari 30°–44° LS.[8]
Beberapa teori diajukan untuk menjelaskan terbentuknya lurah,[9] tetapi teori yang paling populer melibatkan air cair yang berasal dari akuifer, pelelehan dasar gletser kuno, atau pelelehan es di tanah saat iklim lebih hangat.[10][11]
Terdapat bukti yang mendukung ketiganya. Kepala lurah umum ditemukan berada pada ketinggian yang sama, sesuai dengan model akuifer. Pengukuran menunjukkan bahwa air cair dapat bertahan di kedalaman tempat lurah bermula.[10] Dalam variasi model ini, panas dari magma yang naik dapat mencairkan es di bawah permukaan dan menghasilkan aliran air melalui lapisan batuan berpori seperti batu pasir. Lapisan ini dapat menahan air di atas lapisan kedap air, sehingga air hanya dapat mengalir horizontal hingga mencapai dinding kawah, memicu erosi dan membentuk lurah.[12] Fenomena serupa terdapat di Bumi, misalnya di “Weeping Rock”, Taman Nasional Zion, Utah.[13]
Selain itu, sebagian besar permukaan Mars tertutup lapisan halus yang terdiri atas campuran debu dan es, disebut selimut kaya es.[14][15][16] Lapisan ini, setebal beberapa meter, memiliki tekstur halus hingga berbintil seperti permukaan bola basket. Di bawah kondisi tertentu, es dalam selimut ini dapat mencair dan mengalir menuruni lereng, membentuk lurah baru.[17][18][19] Karena sedikit kawah ditemukan di atasnya, lapisan ini dianggap relatif muda dan mungkin terbentuk akibat perubahan iklim.[20][21] Variasi kemiringan sumbu rotasi Mars dapat mengubah distribusi es dari kutub menuju lintang menengah, memungkinkan endapan salju bercampur debu setebal hingga 10 m (33 ft) terbentuk di wilayah tersebut.[22][23] Ketika es di permukaan menguap, debu yang tertinggal berfungsi sebagai isolator bagi sisa es Pola ketinggian dan kemiringan lereng lurah mendukung keterkaitan dengan tumpukan salju atau gletser, di mana lereng curam lebih banyak menaungi salju dan memperlambat sublimasi.[8][24] Sebaliknya, wilayah dengan elevasi tinggi memiliki lebih sedikit lurah karena es mudah menyublim di udara yang lebih tipis.[25]
Teori ketiga menyatakan bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan es tanah mencair sebagian dan menghasilkan aliran puing mirip dengan yang terjadi di pesisir timur Greenland.[26] Karena lurah terbentuk di lereng curam, sedikit saja penurunan kekuatan geser tanah sudah cukup untuk memicu aliran ini. Jumlah kecil air cair dari es tanah yang mencair dapat menyebabkan proses tersebut berlangsung.[27] Perhitungan menunjukkan bahwa bahkan di kondisi Mars saat ini, aliran setebal sepertiga milimeter dapat terjadi setiap hari selama 50 hari dalam satu tahun Mars.[28]