Badai petir dengan hujan lebat, angin, dan hujan es
Tewas
36
Cedera
10
Hilang
3
Pada 19 Juli 2025, kapal wisata Wonder Sea terbalik akibat angin kencang yang datang mendadak bersama badai petir di Teluk Ha Long, Vietnam. Setidaknya 36 orang tewas. Sepuluh orang berhasil diselamatkan dengan luka-luka ringan, sementara tiga lainnya masih belum ditemukan. Kejadian ini terjadi ketika tur sendang berlangsung. Operasi penyelamatan langsung digelar begitu kapal hilang kontak.
Latar belakang
Sekitar jam 12:55 siang waktu lokal (UTC +7) tanggal 19 Juli 2025, kapal pesiar Vịnh Xanh 58 yang juga dikenal dengan nama Wonder Sea, dengan nomor registrasi QN-7105,[1][2] berangkat untuk tur wisata keliling Teluk Ha Long. Di atas kapal terdapat 46 penumpang dan 3 kru. Sesuai rencana perjalanan, kapten yang juga pemilik kapal, Đoàn Văn Trình, akan membawa para penumpang keliling ke beberapa tempat terkenal di teluk, seperti Pulau Chó Đá, Pulau Đỉnh Huơng, Pulau Gà Chọi, Gua Sửng Sốt, Gua Luồn, dan Pulau Ti Tốp. Biasanya tur ini berlangsung sekitar enam jam dan menempuh jarak kurang lebih 35 kilometer.[3]
Badai yang datang waktu itu ternyata muncul sebelum kemunculan Badai Tropis Wipha.[4] Menurut Mai Văn Khiêm, direktur Pusat Nasional Perkiraan Cuaca dan Iklim, kedua badai tersebut tidak saling terkait dengan badai lokal.[5][6] Semua penumpang adalah warga Vietnam, kebanyakan keluarga yang datang dari Hanoi.[5][6]
Insiden
Sekitar pukul 13.30, saat kapal melewati sebelah timur Gua Đầu Gỗ, hembusan angin kencang dan hujan deras menyebabkan kapal terbalik dan kontak dengan kapal hilang.[6][7][8]
Penyelamatan
Begitu laporan tentang kapal tenggelam masuk, otoritas Quảng Ninh langsung gerak cepat. Mereka mengerahkan unit militer, penjaga perbatasan, polisi perairan, pasukan khusus angkatan laut, tim SAR lokal, puluhan kapal penyelamat, bahkan para nelayan juga ikut turun tangan. Lokasi kecelakaan kira-kira tiga mil laut dari pantai. Tapi cuaca membuat semuanya menjadi lebih sulit, hujan deras, laut bergelombang, jarak pandang buruk membuat tim penyelamat harus berjibaku hanya untuk sampai ke lokasi.[9]
Di dini hari tanggal 20 Juli, mereka mulai berusaha untuk membalikkan kapal demi mencari korban yang belum ditemukan. Sekitar jam dua pagi, kapal berhasil ditegakkan. Empat derek besar bantu ngangkat kapal tersebut sepenuhnya sampai muncul di atas permukaan air. Air di lambung kapal dipompa keluar, dan pencarian dilanjutkan. Setelah itu, kapal ditarik ke daratan.[10]
Sampai pukul lima sore tanggal 19 Juli, sepuluh orang berhasil diselamatkan,b tujuh ditolong penjaga perbatasan, tiga lainnya oleh nelayan lokal. Jumlah orang selamat sempat naik menjadi dua belas, sementara korban tewas bertambah menjadi 28 orang, termasuk delapan anak-anak. Seorang anak laki-laki umur 14 tahun berhasil bertahan hidup selama empat jam di anjungan kapal, tempat yang masih memiliki sedikit oksigen.[11] Dua orang lainnya meninggal di rumah sakit. Saat kapal berhasil diangkat pada pagi buta tanggal 20 Juli, empat jenazah kembali ditemukan di dalam kapal, salah satunya adalah sang kapten, Đoàn Văn Trình. Totalnya, sepuluh orang selamat, 35 jenazah berhasil ditemukan, dan masih ada empat yang hilang.[12] Pagi hari tanggal 21 Juli, tim penyelamat menemukan jenazah seorang anak laki-laki berumur enam tahun di dekat Pulau Ti Tốp. Jenazahnya langsung dibawa ke rumah sakit.[13]
Akibat
Menurut Komite Rakyat Provinsi Quảng Ninh, total terdapat 49 orang yang naik ke kapal, 46 penumpang dan 3 kru.[14] Menurut pihak berwenang, kapal tersebut sebenarnya telah memenuhi semua persyaratan keselamatan. Diperiksa terakhir bulan Januari 2025, dan jumlah orang di dalamnya juga tidak melebihi batas yang diizinkan.[11]
Perdana Menteri Vietnam Phạm Minh Chính menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban. Ia juga langsung menginstruksikan unit pertahanan dan keamanan untuk mempercepat proses penyelamatan. Selain itu, ia meminta penyelidikan menyeluruh mengenai penyebab kejadian ini dan berjanji bakal mengambil tindakan tegas jika terdapat pihak yang lalai.[6]
Wakil direktur Departemen Konstruksi, Bùi Hồng Minh menuturkan, "Saat proses evakuasi bangkai kapal, kami menemukan sekitar 80–90 persen korban yang berhasil dikeluarkan dari kapal ternyata memakai jaket pelampung. Artinya, kapten sempat memperingatkan para penumpang untuk memakai pelampung dan bersiap-siap bahaya yang mendekat."[9]