Tarung Derajat adalah: Ilmu, tindakan moral dan sikap hidup yang memanfaatkan kemampuan daya gerak otot, otak dan nurani secara Realistis dan Rasional, terutama pada upaya penguasaan dan penerapan 5 (lima) daya gerak moral, yaitu : Kekuatan - Kecepatan - Ketepatan - Keberanian - Keuletan pada sistem ketahanan dan pertahanan diri yang agresif dan dinamis pada bentuk-bentuk gerakan pukulan, tendangan, tangkisan, bantingan, kuncian, hindaran dan gerakan anggota tubuh penting lainnya yang terpola pada teknik, taktik, dan strategi bertahan dan menyerang yang praktis dan efektif bagi suatu ilmu olahraga seni beladiri.[1]
Tarung Derajat dideklarasikan kelahirannya di Bandung pada 18 Juli1972 oleh Achmad Dradjat yang biasa dipanggil Aa Boxer yang kini bergelar Sang Guru Tarung Derajat. "Box!" adalah salam persaudaraan di antara anggota Tarung Derajat. Tarung Derajat menekankan pada agresivitas serangan dalam memukul dan menendang. Namun, tidak terbatas pada teknik itu saja, bantingan, kuncian, dan sapuan kaki juga termasuk dalam metode pelatihannya. Tarung Derajat dijuluki sebagai "Boxer". Praktisi Tarung Derajat disebut "Petarung".
Sejak 1990-an, Tarung Derajat telah disempurnakan untuk olahraga. Pada tahun 1997, Tarung Derajat resmi menjadi anggota KONI Pusat ke 53 dengan kepengurusan bernama PB. KODRAT (Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat). Sejak itu, Tarung Derajat memiliki tempat di Pekan Olahraga Nasional.[2] Keluarga Olahraga Tarung Derajat di tahun 2021 ini sudah berada di 22 provinsi di Indonesia. Setelah diperkenalkan pada 2011 SEA Games di Palembang, tetapi Tarung Derajat tidak disertakan pada SEA Games 2013 di Myanmar.[3]
Saat ini Sang Ketua Umum PB. KODRAT di ketua oleh Bambang Soesatyo (Ketua MPR RI).
Semboyan
Para petarung memiliki jiwa dan perilaku yang tidak menyombongkan diri. Mereka terkesan seperti orang yang penurut dengan sikapnya yang tunduk demi menghindari keangkuhan. Hal tersebut tergambar dalam semboyan Tarung Derajat:
Aku ramah bukan berarti takut. Aku tunduk bukan berarti takluk.
Komando Penguasaan : "Jadikanlah Dirimu Oleh Diri Sendiri"
FIlsafah Latihan : "Aku Berlatih Tarung Derajat Adalah Untuk Menaklukkan Diri Sendiri, Tapi Tidak Untuk Ditaklukkan Orang Lain"
Motto Penguasaan : "Aku Ramah Bukan Berarti Takut, Aku Tunduk Bukan Berarti Takluk"
Landasan Moral : "Pikiran, Rasa dan Keyakinan"
5 Daya Gerak Tarung Derajat: "Kekuatan - Kecepatan - Ketepatan - Keberanian - Keuletan"
Senjata Tarung Derajat : "Otot, Otak dan Nurani"
Pengabdian Tarung Derajat : "Untuk Menegakkan Kehormatan Hidup dan Untuk Meninggikan Derajat Kehidupan"
Pilar Moral : Kesadaran, Kecerdasan, dan Kesantunan
Seluruh Nilai-nilai ini menyatu dengan moto utamanya: menggunakan senyawa daya gerak otot, otak, dan nurani secara realistis dan rasional.
Kepalan tangan warna kuning arah ke depan: Kepalan tangan adalah lambang gerakan-gerakan bela diri. Dua buah lingkaran bermakna bahwa gerakan-gerakan Tarung Derajat didasarkan pada kemampuan otot dan otak. Tangan memukul ke depan melambangkan bahwa tarung derajat senantiasa menuju ke masa depan yang lebih baik. Warna kuning adalah simbol angin.
Sepasang kilat warna merah: Gambar ini melambangkan suatu cita-cita yang luhur serta tekad yang membara didukung oleh semangat yang tinggi. Warna merah adalah simbol api.
Lingkaran tebal 3/4 warna hitam dengan lima kotak putih: Simbol ini melambangkan wadah/tempat untuk pembinaan diri. Warna hitam adalah simbol tanah. Penggodokan atau pembinaan yang dilakukan berdasarkan atas lima unsur daya gerak yaitu kekuatan, kecepatan, ketepatan, keberanian dan keuletan. Lima unsur tersebut disimpulkan oleh lima kotak putih. Sedangkan warna putih adalah lambang air.