Taprobane (bahasa Yunani Koine:Ταπροβανῆcode: grc is deprecated atau Ταπροβάνηcode: grc is deprecated ),[1] juga dieja sebagai Taprobana (Ταπροβανᾶcode: grc is deprecated ), adalah nama yang digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk menyebut pulau Sri Lanka di Samudra Hindia.
Taprobane diduga berasal dari bahasa Prakerta𑀢𑀁𑀩𑀧𑀁𑀦𑀺code: sa is deprecated alih: "Taṃbapaṃni".[2] Nama ini mungkin merujuk pada pantai Sri Lanka yang "berwarna tembaga", dan diserap ke bahasa Yunani.[3]
Sejarah
Laporan tentang keberadaan pulau ini telah diketahui sebelum zaman Aleksander Agung sebagaimana disimpulkan dari Plinius. Risalah Peri Kosmou, yang konon ditulis oleh Aristoteles (meninggal 322 SM) tetapi menurut beberapa sumber lain oleh Krisipos dari Soli (280 hingga 208 SM), secara keliru menyatakan bahwa pulau ini sebesar Britania (padahal, ukurannya hanya sekitar sepertiganya). Nama pulau ini pertama kali dilaporkan kepada orang Eropa oleh ahli geografi Megasthenes sekitar tahun 290 SM. Herodotos (444 SM) tidak menyebutkan pulau ini. Geografi pertama yang menyebutkannya adalah karya Eratosthenes (276 hingga 196 SM) dan kemudian nama ini digunakan oleh Klaudios Ptolemaios (139 M) dalam risalah geografisnya mengenalkan sebuah pulau yang cukup besar di selatan benua Asia.[4] Menulis pada masa pemerintahan Augustus, ahli geografi Yunani Strabon menyebutkan pulau tersebut, mencatat bahwa "Taprobane mengirimkan sejumlah besar gading, cangkang kura-kura dan barang dagangan lainnya ke pasar-pasar di India.".[5] Peta Eratosthenes tentang dunia yang (bagi orang Yunani) dikenal, sekitar tahun 194 SM juga menunjukkan pulau di selatan India yang disebut Taprobane.
Stefanos dari Bizantion menulis bahwa sebuah kota besar di pulau itu disebut Argyre (Yunani Kuno: Ἀργυρεcode: grc is deprecated , "perak")[6] dan juga terdapat sebuah sungai yang disebut Fâsis (Yunani Kuno: Φᾶσιςcode: grc is deprecated ).[7]
Klaudios Ailianos bahwa ia telah mendengar bahwa pulau itu tidak memiliki kota, tetapi 750 desa.[8]
Ciri khas Taprobane yang dijelaskan oleh Ptolemaios selalu dikaitkan dengan Sri Lanka saat ini sejak peta zaman kuno hingga peta abad pertengahan karya Abu-Rehan (1030) dan Edrisi (1154) dan dalam tulisan Marco Polo (1292).[9] Lebih jauh lagi, sebagian besar nama tempat yang ditandai pada peta dapat dikenal dengan nama tempat di Sri Lanka kuno.[10]
Selain itu, posisi relatif pulau ini dibandingkan dengan India, yang terletak di tengah jalur perdagangan Samudra Hindia dan merupakan pusat perdagangan utama untuk perdagangan gajah dan rempah-rempah emas seperti yang dijelaskan oleh para penjelajah Yunani dan Romawi kuno, semakin memperkuat pemberian nama tersebut kepada Sri Lanka.
Namun, pada peta Abad Pertengahan, kebiasaan menggunakan nama-nama bahasa Latin dan menggambarkan tempat dengan daya khayalan menyebabkan rancangan yang aneh dan kebingungan mengenai letak sebenarnya dari Taprobane. Pada abad kelima belas, Niccolò de' Conti secara keliru menyebut Taprobane sebagai pulau yang jauh lebih kecil.[11] Pada tahun 1507, Martin Waldseemuller masih menempatkan Taprobane di Sri Lanka.[12] Peta oleh Sebastian Munster tahun 1580 mengenal Taprobana sebagai Sumatra, di mana judul dalam bahasa Jerman, Sumatra Ein Grosse Insel, berarti "Sumatra, sebuah pulau besar". Peta Munster memicu perdebatan tentang Taprobane. Karena perdebatan tersebut, kemungkinan-kemungkinan berikut dianggap sahih untuk Taprobana pada Abad Pertengahan:
Sri Lanka, seperti yang tertera dalam peta dan klima Ptolemaios
Namun, masalah ini diselesaikan dengan ditemukannya kembali karya Ptolemaios pada abad ke-15. Peta Ptolemaios itu sebelumnya telah hilang sejak waktu pembuatannya sekitar abad ke-2 Masehi. Namun, salinannya ditemukan kembali di Timur Tengah sekitar tahun 1400 Masehi. Selain itu, pada saat itu, Portugis telah memasuki Asia. Mereka telah mengetahui Sri Lanka (sebelumnya dikenal Ceylan) dan Sumatra setidaknya sejak 80 tahun sebelumnya. Munster tampaknya mendasarkan pengetahuannya terhadap Taprobane dengan Sumatra pada pengetahuan abad ke-16. Oleh karena itu, dapat diyakini bahwa ciri khas Taprobane dengan Sumatra yang terjadi sekali ini mungkin terjadi karena kesalahan penentuan.[13]