Tambun Bungai (atau Tambun dan Bungai) adalah tokoh pahlawan perang dalam kerajaan purba suku Dayak Ngaju, yaitu Kerajaan Tanjung Pematang Sawang, di mana Tambun ber-etnis Dayak Ot Danum dan merupakan anak dari Tamanggung Serupoi, sedangkan Bungai merupakan adik kandung Nyai Undang dan anak dari Tamanggung Sempung yang ber-etnis Dayak Ngaju.[1] Tambun dan Bungai adalah tokoh supranatural dan bisa dikatakan sebagai nenek moyang suku Dayak. Walaupun areal atau situs-situs pemukiman mereka sudah banyak yang hancur dimakan usia, lokasinya masih dianggap sakral dan merupakan tempat larangan sehingga sampai sekarang tetap bertahan.[2]
Situs Tambun dan Bungai terletak di desa Tumbang Pajangei, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas. Lokasi tersebut hanya berjarak 9,2 km dari Kota Kuala Kurun sehingga dapat ditempuh oleh segala jenis kendaraan dengan kondisi jalan yang sudah beraspal. Situs ini menyimpan berbagai bentuk peninggalan sejarah, antara lain berupa patung Tambun Bungai, Kumpulan Penyang Pusaka, Pasah Patahu Tambun Bungai, situs Batu Bulan, dan Sandung Tamanggung Sempung. Situs Kerajaan Tanjung Pematang Sawang yang lainnya bisa dijumpai di daerah Pulau Kupang, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas.[3]
Pada jaman dahulu kala, ada tiga pahlawan Kalimantan. Mereka bernama Lambung atau Maharaja Bunu, Lanting atau Maharaja Sangen, dan Karangkang Amban Penyang atau Maharaja Sangiang. Mereka bertiga tinggal dan mendiami lembah sungai Kahayan di tengah-tengah pulau Kalimantan. Hidup mereka dari memungut hasil hutan dan bertani. Adapun si Lambung alias Maharaja Bunu mempunyai 5 anak. Dua di antaranya bernama Tumenggung Sampung dan Tumenggung Saropoi. Tumenggung Sampung yang kawin dengan Nyai Endas, kemudian melahirkan 8 anak. Seorang di antara anak-anaknya itu terkenal gagah berani, yaitu si Bungai. Begitupun juga saudara ayahnya Bungai, Tumenggung Saropoi melahirkan pula satu di antara anak-anaknya yang bernama si Tambun.
Sejak masa kanak-kanaknya, si Bungai memiliki paras tampan. Namun, ia juga bersifat berani dan tak mudah berputus asa. Keras kemauan dan besar cita-citanya. Banyak tingkah laku anak ini yang berlainan dari anak-anak biasa.Oleh karena serba keganjilan itulah maka ibu bapaknya mempunyai kepercayaan bahwa di dalam tubuh si Bungai yang kecil itu pasti ada tersimpan kekuatan gaib dari dewa-dewa. Maka untuk menguji benar tidaknya kepercayaan itu, pernah si Bungai kecil ini digantung ayahnya di puncak kayu yang tinggi di dalam sebuah rimba belantara selama 7 hari 7 malam. Juga ia dibuaikan di sebuah teluk yang dalam airnya selama 7 hari 7 malam pula. Tidak diberi makan minum sedikitpun. Namun si Bungai kecil tetap segar bugar.
Adapun saudara sepupunya yang bernama si Tambun, juga demikian. Kedua anak ini hidup laksana kembar yang tak mau dipisah-pisahkan. Jika berkelahi seorang, mereka berkelahi keduanya. Jika bersedih hati si Bungai, juga si Tambun ikut berdukacita. Dalam suka duka masa kanak-kanaknya, mereka menemui banyak keanehan dan keganjilan.Mereka memiliki sifat watak yang cerdas, lemah lembut, peramah, suka menolong sesama, sedikit memerima banyak memberi, cepat kaki ringan tangan, bijaksana, tetapi pantang menyerah untuk membela kebenaran. Karena itulah ia disayangi dan disegani oleh penduduk daerahnya. Dongeng Tambun dan Bungai sesuai dengan peribahasa Dayak yang berbunyi Bakena Mamut Menteng (tampan, sopan santun dan gagah perkasa).[4]
Referensi
↑"Tari Tambun dan Bungai". www.kebudayaanindonesia.net. 30 November 2001. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-09. Diakses tanggal 16 Desember 2015.