Syekh Syarip Prawiro Sentana adalah seorang ulama dan pemimpin gerakan sosial-keagamaan serta perlawanan rakyat di Kulon Progo (Yogyakarta) pada akhir 1830-an. Ia dikenal menggalang laskar lokal bersama Ki Sodewo (Raden Mas Bagus Singlon) untuk menentang pemerintahan Hindia Belanda, dengan basis dakwah dan pelatihan kanuragan di pedalaman Kulon Progo.[1]
Riwayat Hidup
Tidak banyak sumber tertulis mengenai kelahiran dan pendidikan awal Syekh Syarip Prawiro Sentana. Dalam tradisi lisan Kulon Progo, ia disebut datang dari kalangan santri yang terlatih dalam ilmu agama Islam, kemudian mendirikan pengajian dan padepokan di daerah Kulon Progo untuk mendalami tasawuf dan kanuragan sebelum Perang Diponegoro usai. Penokohan beliau muncul secara tegas dalam catatan pasca perang Jawa sebagai “agamawan pemimpin gerakan sosial-keagamaan” di Kulon Progo.[1]
Perlawanan 1839–1840
Pada 26 April 1839, Syekh Syarip Prawiro Sentana memobilisasi sekitar 1.600 pengikut di wilayah Pengasih, Nanggulan, Sentolo, Wates, dan Galur, menyatukan dakwah keagamaan dengan semangat jihad fii sabilillah. Bersama Ki Sodewo, beliau mendirikan benteng bambu di tepi Sungai Serang sebagai basis gerilya melawan Belanda.[1]
Puncak perlawanan terjadi menjelang Upacara Grebeg Besar tahun 1840, ketika pasukan Sentana menyerang pos-pos penjagaan pemerintah kolonial. Dalam penyerangan balasan, empat pengikutnya gugur dan beliau terpaksa mundur ke Pegunungan Menoreh.[2] Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengumumkan sayembara penangkapan hidup atau mati atas nama beliau.
Akhirnya, pada 18 Februari 1840 Syekh Syarip Prawiro Sentana berhasil ditangkap beserta beberapa pengikut setianya. Ia diadili dan dijatuhi hukuman mati, bersama dua pengikutnya, Buang Seng dan Tjak Seng.[2]
Warisan dan Pengaruh
Meski durasi perlawanan relatif singkat, gerakan yang dipimpin Syekh Syarip Prawiro Sentana menyebabkan kerugian finansial dan militer signifikan bagi pemerintah kolonial, memaksa mereka mengokohkan benteng di Sentolo pasca-1839.[2] Dalam ingatan kolektif Kulon Progo, beliau dikenang sebagai ulama pejuang yang menggabungkan dakwah Islam dengan aksi perlawanan bersenjata. Jejak pengaruhnya bertahan dalam tradisi ziarah ke makam beliau di Kulon Progo dan dalam catatan babad lokal.
Referensi
123Puspa Sari, A.; Layyinah, A.; Syarifah, I.M. (,). "Perlawanan Syekh Syarip Prawira Sentana Dan Ki Sodewo Menentang Kolonialisme Belanda Di Kulon Progo 1839–1840". amaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam.Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)