Setelah lulus dari sekolah guru, Sutan Pangurabaan ditempatkan di Muara Sipongi. Ia ditugaskan untuk mengelola sekolah formal yang baru didirikan Belanda di tempat itu. Karena tidak setuju dengan penjajahan Belanda di Muara Sipongi, Sutan Pangurabaan memutuskan meninggalkan profesinya sebagai guru di sekolah Belanda. Ia memilih pindah ke Sibolga dan menjadi wartawan.
Karier
Sejak tahun 1914, ia menjadi wartawan untuk surat kabar Poestaha. Pada tahun 1921, ia mendirikan organisasi Muhammadiyah di Sipirok. Pada tahun 1927, ia mendirikan dan memimpin surat kabar berbahasa Batak Angkola, Sipirok-Pardomoean. Pada tahun 1931, ia mendirikan dan memimpin surat kabar berbahasa Indonesia Surya di Sibolga. Pada 1 Januari 1937, ia mendirikan perusahaan transportasi bus Sibualbuali, mengambil nama Gunung Sibualbuali di desa kelahirannya. Bus ini melayani rute pulang pergi dari Sipirok menuju Padang Sidempuan, Sibolga, Tarutung, Pematang Siantar, Medan, Pekanbaru, Palembang, Jambi, dan Lampung.[3]