Sungai di Kota Makassar adalah perairan berbentuk sungai yang mengalir melintasi wilayah Kota Makassar.[1] Aliran sungai utama di Kota Makassar yaitu sungai Tallo dan sungai Jeneberang berada di bagian utara dan selatan dan menjadi pembatas alami bagi wilayah Kota Makassar.[1][2] Sejak abad ke-14 M, aliran sungai Jeneberang di wilayah Kota Makassar telah menjadi lokasi pelabuhan perdagangan maritim bagi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.[2] Pada awal abad ke-17 M, beberapa sungai di Kota Makassar dimanfaatkan untuk pertanian.[3]
Penyebaran
Sungai terdapat di bagian utara maupun bagian selatan wilayah Kota Makassar. Pada bagian utara terdapat aliran sungai Tallo yang muaranya juga di bagian utara Kota Makassar. Sedangkan di bagian selatan wilayah Kota Makassar terdapat sungai Jeneberang yang bermuara juga di bagian selatan Kota Makassar.[1] Aliran sungai Jeneberang di Kota Makassar membentuk pola cabang pohon.[4] Selain sungai Jeneberang, di bagian selatan Kota Makassar terdapat aliran sungai Sanrobone dan sungai Kaccia.[3]
Sungai-sungai yang melintasi wilayah Kota Makassar mengalir sepanjang tahun dan tidak pernah mengering.[5] Aliran sungai Jeneberang di wilayah Kota Makassar merupakan bagian hilir yang bermuara di selat Makassar pada bagian barat Kota Makassar. Sedangkan hulu aliran sungai Jeneberang terletak di Gunung Bawakaraeng dalam wilayah Kabupaten Gowa.[4]
Kondisi geografi
Pada muara sungai Tallo dan muara sungai Jeneberang di pesisir Kota Makassar terbentuk ekosistem estuari. Pada bagian pantai di muara sungai Tallo, ekosistem estuari menjadi pendukung terbentuknya ekosistem mangrove di kawasan pantai Kota Makassar.[6] Sementara itu, muara sungai Jeneberang membentuk delta sungai yang terus mengalami perubahan bentuk seiring waktu. Delta sungai yang terbentuk dinamakan Delta Sungai Jeneberang.[4]
Pemanfaatan
Pelabuhan perdagangan maritim
Sejak abad ke-14 M, didirikan pelabuhan di sekitar aliran sungai Jeneberang yang menjadi pusat perdagangan dan pelayaran bagi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada wilayah Kota Makassar. Pelabuhan di sekitar aliran sungai Jeneberang membentuk Kota Makassar sebagai kota perdagangan yang berkembang dan kondisi perkembangannya tercatat dalam Kakawin Nagarakretagama.[2]
Sungai Jeneberang di wilayah Kota Makassar terletak pada lokasi yang menghubungkan antara Benteng Somba Opu dan selat Makassar. Posisinya mendukung kegiatan pelayaran dan perdagangan maritim di Nusantara.[7] Benteng Somba Opu dibangun oleh penguasa Kerajaan Gowa di muara sungai Jeneberang untuk mengawasi lalu lintas perdagangan laut di wilayah Kerajaan Gowa.[8] Benteng Somba Opu di muara sungai Jeneberang berkembang menjadi pusat permukiman bagi rakyat Kerajaan Gowa dan kantor perdagangan bagi para pedagang asal Denmark, lnggris, Portugis, Belanda dan Gujarat. Kegiatan perdagangan didukung oleh beberapa lokasi di sekitar Benteng Somba Opu yang dijadikan pasar untuk kapal-kapal yang berlabuh.[9]
Irigasi
Pada awal abad ke-17 M, beberapa sungai di Kota Makassar dimanfaatkan untuk pertanian. Irigasi dikembangkan untuk sawah milik penduduk Kota Makassar melalui beberapa sungai yaitu sungai Tallo, sungai Jeneberang, sungai Sanrobone dan sungai Kaccia. Sungai Tallo dimanfaatkan untuk irigasi persawahan di bagian utara Kota Makassar. Sedangkan sungai Jeneberang, sungai Sanrobone dan sungai Kaccia dimanfaatkan untuk irigasi persawahan di bagian selatan Kota Makassar.[3]
Pertahanan kota
Pada bagian muara sungai Tallo didirikan Benteng Tallo yang dibangun sebagai benteng pertahanan terhadap garis pantai Kota Makassar. Benteng Tallo bersama dengan benteng-benteng-benteng lain di garis pantai Kota Makassar berperan melindungi sepanjang 10 km garis pantai wilayah Kota Makassar.[10] Namun pada akhir abad ke-17, Benteng Tallo dihancurkan karena penaklukan Kesultanan Gowa oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda sepenuhnya pada tahun 1669 M setelah penandatanganan Perjanjian Bungaya.[11][12] Sisa-sisa Benteng Tallo sulit ditemukan karena lokasinya berubah menjadi permukiman penduduk Kota Makassar.[11]
Pembatas wilayah
Sungai Tallo dan sungai Jeneberang merupakan dua sungai yang mengelilingi wilayah Kota Makassar. Bagian utara Kota Makassar dibatasi sebagian oleh aliran sungai Tallo. Sedangkan bagian selatan Kota Makassar dibatasi sebagian oleh aliran sungai Jeneberang.[2]
Permukiman penduduk
Sejak tahun 2000, Delta Sungai Jeneberang dikembangkan menjadi permukiman, pusat bisnis dan pariwisata bahari. Pengembangan tersebut didukung oleh kondisi Delta Sungai Jeneberang yang merupakan daerah resapan air.[4]