Bahr al-Arab atau Sungai Kiir dalam bahasa Dinka adalah sungai yang mengalir sekitar 800 kilometer melintasi bagian barat daya Sudan dan membentuk sebagian perbatasan internasional dengan Sudan Selatan. Sungai ini merupakan bagian dari sistem Sungai Nil sebagai anak sungai Bahr el Ghazal, yang selanjutnya menjadi anak sungai Nil Putih.[1]
Sungai ini mengalir melalui wilayah Kurdufan dan Darfur di Sudan serta membentuk sebagian perbatasan antara Darfur dan wilayah Bahr el Ghazal di barat laut Sudan Selatan. Selama berabad-abad Bahr al-Arab menjadi batas tradisional antara kelompok etnis Dinka dan Baggara. Sungai ini berperan sebagai garis depan dan kawasan konflik antara kelompok Baggara dan Dinka sejak tradisi lisan mereka terbentuk.
Etimologi
Nama Bahr al-Arab berasal dari bahasa Arab yang berarti Laut Arab, yang kemungkinan berasal dari istilah Nahr al-Arab yang berarti Sungai Arab dalam bahasa Arab. Masyarakat Dinka menyebut sungai ini Sungai Kiir.
Alur
Bahr al-Arab berasal dari beberapa anak sungai yang mengalir dari Pegunungan Bongo Massif dan Pegunungan Marrah di Darfur, dekat perbatasan Sudan dengan Chad dan Republik Afrika Tengah. Sungai Adda dan Umbelasha mengalir ke timur dari Bongo Massif dan bergabung dengan Sungai Ibrah yang mengalir ke selatan dari Pegunungan Marrah. Dari gabungan anak-anak sungai tersebut, Bahr al-Arab mengalir ke timur mengikuti batas wilayah Darfur dan Bahr el Ghazal, kemudian melintas ke bagian selatan wilayah Kurdufan.[2]
Menurut beberapa sumber, pertemuan Bahr al-Arab dengan Sungai Jur menandai hulu Sungai Bahr el Ghazal. Sumber lain menyebutkan Sungai Jur bergabung dengan Bahr el Ghazal sebelum Bahr al-Arab. Bahr el Ghazal mengalir sedikit ke timur sebelum bertemu Sungai Nil Putih di lahan basah Sudd. Sungai Lol bergabung dengan Bahr al-Arab dari selatan, tepat di atas pertemuan dengan Sungai Jur.[3]
Bahr al-Arab memiliki daerah tangkapan air terbesar di antara sungai-sungai di wilayah Bahr el Ghazal. Namun dibandingkan sungai-sungai di selatan, Bahr al-Arab memiliki volume air yang kecil dan alirannya lambat.
Sejarah
Selama Perang Saudara Sudan Kedua, letak Bahr al-Arab di perbatasan Sudan Utara dan Sudan Selatan menjadikannya garis depan militer dan wilayah konflik. Pada awal 1980-an Sudan bagian barat mengalami beberapa kali kekeringan dan gagal panen. Pergeseran penduduk ke arah selatan menyebabkan kelompok Baggara bergerak melampaui Bahr al-Arab dan terlibat konflik dengan kelompok Dinka. Kelompok Baggara mendapat dukungan militer Sudan dalam upaya menghadapi Tentara Pembebasan Rakyat Sudan atau SPLA.[4] Milisi Baggara yang dikenal sebagai murahileen bertempur melawan SPLA sepanjang dekade 1980-an. Menjelang akhir dekade, wilayah di sepanjang Bahr al-Arab mengalami kerusakan parah dan penduduknya berkurang drastis.
↑Cohen, Roberta; Deng, Francis Mading, ed. (1998). The forsaken people: case studies of the internally displaced. Washington, D.C: Brookings Institution Press. ISBN978-0-8157-1513-9.