Raden Mas Said, putra sulung
Tumenggung Wilwatikta di bawah
Kerajaan Majapahit yang berkuasa di
wilayah Tuban, melihat sekeluarga
miskin yang menderita busung lapar. Ia
merasa sangat prihatin dan hati
nuraninya tergugah untuk menolong.
Kemudian ia mencoba secara diam-
diam mengambil makanan dari
lumbung orang tuanya. Perbuatan itu
tidak disetujui orang tuanya, bahkan ia
dihukum sekap di gudang makanan itu.
Sejak kejadian itu, RM Said yang
tumbuh dewasa tidak betah tinggal di
rumah. Ia berkelana dari daerah satu ke
daerah lainnya. Dari sanalah ia tahu
betapa banyak penyelewengan dan
kesewenang-wenangan para lurah yang
munafik. Mereka selalu mengkambing-
hitamkan Tumenggung untuk menutupi
kejahatannya. Atas laporan RM Said,
ayahnya kemudian sadar. Namun,
kemudian ia dianggap sebagai sumber
fitnah. Dalam kelananya, kemudian ia
bertemu dengan Sunan Bonang yang
banyak mencurahkan ilmunya kepada
RM Said. Ia pun kemudian melakukan
tapa di pinggir kali. Berkat
ketabahannya menghadapi berbagai
cobaan, RM Said mendapatkan
"Nur" (kekuatan) dari Ilahi. Kemudian ia
diangkat menjadi Wali yang terkenal
dalam deretan nama Sembilan Wali
(Wali Sanga) dengan nama Sunan
Kalijaga.