Tidak banyak yang mengetahui, salah satu tempat yang berada di belakang tempat parkir Gedung Pertemuan Sumur Bandung yang terletak di sebelah barat Sungai Cikapundung terdapat sumur yang dinamakan Sumur Bandung.[4] Bangunannya sama dengan sumur-sumur pada umumnya, hanya saja sumur ini begitu dihormati secara budaya dan adat, sebab sumur ini dianggap keramat oleh masyarakat di sana.[5] Di bagian atas sumur itu diberi cungkup penutup berwarna kuning emas dan dikelilingi oleh rantai pembatas. Di salah-satu sisinya ada prasasti yang bertuliskan:
Sumur Bandung dipercaya mempunyai hubungan sejarah dengan berdirinya Kabupaten dan Kota Bandung.[4] Ceritanya ketika rombongan bupati Wiranatakusumah II dan pengiringnya menyusuri sungai Cikapundung untuk mencari tempat yang pantas untuk didirikan sebagai pusat kota untuk menggantikan daerah Dayeuhkolot sesuai perintah Daendels.[4][6] Ketika bupati menancapkan tongkat di sisi barat sungai lalu ditarik kembali, dari bekas tancapan itu keluar air.[4] Di lokasi air tersebut dibuatlah sumur yang selanjutnya kelak disebut Sumur Bandung.[4] Pada tahun 1930-an, di atas tanah 3.945 m2 tersebut, didirikan bangunan bertingkat hasil rancangan Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker.[4] yang setelah diresmikan pada tanggal 26 Oktober 1939, bangunan tersebut ditempati oleh N.V. Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO), suatu perusahaan penyedia tenaga listrik di Hindia Belanda.[4] Gedung yang berada di ujung pertigaan Jl. Asia-Afrika dan Jl. Cikapundung tersebut setelah kemerdekaan kemudian menjadi kantor Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Distribusi Jawa Barat.[4] Sumur Bandung pun terletak di lantai dasar Gedung PLN tersebut.[4] Airnya masih tetap bersih dan tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.[4]
Toponimi
Sumur Bandung menjadi asal mula nama dari Kecamatan Sumur Bandung dimana sumur ini masuk ke dalam wilayah kecamatan tersebut.
Rujukan
↑Affandy, Frances B., Andi Abubakar.2003. Potrait of West Java Heritage (Potret Pusaka Jawa Barat). Bandung: Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Dinas Kabudayaan jeung Pariwisata Jawa Barat.