Konsensus cendekiawan menyatakan bahwa tak ada peristiwa Eksodus seperti yang dikisahkan dalam Alkitab.[1] Para arkeolog modern meyakini bahwa bani Israel adalah suku bangsa asal Kanaan dan tak pernah berada di Mesir, dan jika ada dasar sejarah dari peristiwa Eksodus, ini hanya dapat diterapkan kepada segmen kecil dari populasi Israel secara garis besar.[2] Meskipun demikian, terdapat juga pemahaman umum yang terkadang sejalan dengan tradisi, bahkan jika Musa dan kisah Eksodus masuk kenangan budaya kolektif ketimbang sejarah.[3] Sehingga, kebanyakan cendekiawan sepakat bahwa cerita tersebut memiliki inti sejarah, dan bahwa beberapa pemukim dataran tinggi, yang berjumlah dari ratusan sampai ribuan orang, datang ke Mesir.[4]
Egiptologis Jan Assmann menyatakan bahwa naratif Eksodus memadukan pengusiran Hyksos, revolusi keagamaan Akhenaten, pengalaman Habiru (kelompok unsur anti-sosial yang ditemukan di sepanjang Timur Dekat kuno), dan migrasi skala besar "Orang-orang Laut", ke dalam "sebuah cerita koheren yang bersifat fiksi karena komposisinya namun historis karena beberapa komponennya."[5]
Eksodus dan sejarah
Konsensus cendekiawan modern menyatakn bahwa Alkitab tak memberikan catatan akurat dari cikal bakal Israel.[6]
Tak ada indikasi bahwa bani Israel pernah tinggal di Mesir Kuno, dan Semenanjung Sinai nyaris tak menunjukkan tanda pendudukan apapun untuk seluruh milenium ke-2 SM (bahkan Kadesh-Barnea, dimana bani Israel dikatakan singgah selama 38 tahun, tak dihuni sebelum pendirian monarki Israel).[7] Berseberangan dengan ketiadaan bukti untuk pembuangan Mesir dan pengembaraan gurun, terdapat tanda-tanda evolusi Israel di Kanaan dari akar-akar Kanaan asli.[8] Meskipun sedikit cendekiawan yang mendiskusikan keandalannya, atau setidaknya kemasukakalannya, dari cerita eksodus, mayoritas arkeolog menghiraukannya, dalam frasa yang digunakan oleh arkeolog William Dever, sebagai "pencarian tanpa hasil".[9][10]
Pengusiran Hyksos
Hyksos adalah suku bangsa Semit yang datang dan pergi dari Mesir Kuno yang terkadang dipandang sebagai paralel dari kisah perjalanan bani Israel di Mesir dalam Alkitab.[11] Penduduk Kanaan mula-mula muncul di Mesir menjelang akhir Dinasti ke-12 pada sekitar tahun 1800 SM, dan pada sekitaran masa tersebut, atau sekitar 1720 SM, mendirikan sebuah kerajaan independen di timur Delta Nil. Pada sekitar 1650 SM, kerajaan tersebut dipegang oleh para penguasa yang dikenal sebagai Hyksos, yang membentuk Dinasti ke-15 dari para Firaun Mesir.[12][13]
Letusan Minoa
Dalam buku The Parting of the Sea: How Volcanoes, Earthquakes, and Plagues Shaped the Story of the Exodus, geolog Barbara J. Sivertsen menjelaskan hubungan antara penjelasan Kitab Keluaran dalam Alkitab, pengusiran Hyksos, dan letusan gunung berapi Minoan (Thera).[14]
Akhenaten dan akhir periode Amarna
Akhenaten, yang juga dikenal sebagai Amenhotep IV, adalah seorang firaunDinasti ke-18. Firaun tersebut memimpin perubahan radikal dalam praktik keagamaan Mesir. Ia menghimpun bentuk monoteisme atau monolatri yang berbasis pada pemujaan Aten, dan meniadakan imamat dari seluruh dewa lainnya. Ibu kota barunya, Akhetaten atau 'Horizon dari Aten', dibangun di tempat yang sekarang dikenal sebagai Amarna.[15][16] Kota tersebut kebanyakan dibangun memakai bata-bata lumpur. Setelah kematian Akhenaten, kota tersebut ditinggalkan. Kuil-kuil, biara-biara, dan patung-patung kerajaan kemudian diratakan pada masa pemerintahan Horemheb.[17]
Albright, William F. (1973). "From the Patriarchs to Moses II. Moses out of Egypt". The Biblical Archaeologist. 36 (2): 48–76. doi:10.2307/3211050. JSTOR3211050.