Stasiun Kemijen mulai beroperasi seiring dengan pembukaan jalur kereta api pertama di Hindia Belanda pada segmen Kemijen–Tanggung pada tanggal 10 Agustus 1867.[6] Pembangunan jalur ini diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele yang melakukan pencangkulan pertama pada 17 Juni 1864.[7] Pada awalnya, Kemijen berfungsi sebagai titik awal atau depo penting sebelum pembangunan Stasiun Semarang NIS (Stasiun Samarang) selesai sepenuhnya di kawasan Tambaksari.[8]
Persimpangan dan Keunikan Jalur
Salah satu keunikan utama dari Stasiun Kemijen adalah keberadaan "Persilangan Sebidang Kemijen". Di lokasi ini, terjadi persilangan antara jalur rel milik NIS yang memiliki lebar sepur (gauge) 1.435 mm dengan jalur milik Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) yang memiliki lebar sepur 1.067 mm.[9] Persilangan ini dianggap sebagai salah satu kerumitan teknis perkeretaapian yang langka pada masanya, di mana dua perusahaan berbeda dengan standar lebar rel yang berbeda saling bersinggungan di satu titik koordinat.[10]
Penonaktifan dan Kondisi Saat Ini
Stasiun Kemijen dinonaktifkan secara bertahap seiring dengan penurunan fungsi jalur lama dan seringnya kawasan tersebut terendam banjir rob yang merusak infrastruktur rel. Saat ini, bangunan asli stasiun sudah tidak tersisa dan area di sekitarnya telah tertutup oleh pemukiman padat penduduk serta mengalami peninggian lahan akibat sedimentasi dan banjir.[11] Meskipun fisiknya telah hilang, nama Kemijen tetap abadi dalam catatan sejarah sebagai saksi bisu lahirnya transportasi rel di Indonesia.[12]
Referensi
↑Perusahaan Jawatan Kereta Api, Grafik Perjalanan Kereta Api
↑Perusahaan Jawatan Kereta Api, Grafik Perjalanan Kereta Api
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).
↑Tim Telaga Bakti Nusantara (1997). Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1. Bandung: Angkasa. hlm.12–15. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Reitsma, S.A. (1928). Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spoor- en Tramwegen. Batavia: Landsdrukkerij. hlm.24. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Michiel van Ballegoijen de Jong (1993). Spoorwegstations op Java. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw. hlm.41. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Imam, S. (2018). Semarang Riwayatmu Dulu. Semarang: Satya Wacana University Press. hlm.88. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Indonesian Heritage Railway (2012). Evolusi Jalur Kereta Api di Jawa. Jakarta: PT Kereta Api Indonesia. hlm.56. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Deventer: Kluwer Technische Boeken. hlm.102–105. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang (2020). Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya Kota Semarang. hlm.112. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Prayogo, Y., dkk. (2017). Kereta Api di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit Ombak. hlm.34. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)