Skandal penyadapan Australia-Indonesia adalah kasus dokumen rahasia yang dibocorkan pada tahun 2013 oleh mantan mata-mata Amerika Serikat Edward Snowden yang kemudian dikutip oleh Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan surat kabar The Guardian.
Pada awal Juni 2013, laporan dari berbagai sumber media seperti The Guardian dan The Washington Post mengungkapkan detail operasional pengintaian massal Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat terhadap warga negara Amerika Serikat dan asing.[3] Laporan tersebut didasarkan pada serangkaian dokumen rahasia tahun 2009 yang dibocorkan oleh mantan kontraktor NSA Edward Snowden. Pengungkapan lebih lanjut menunjukkan bahwa operasi pengawasan NSA diperluas hingga mencakup badan pengumpulan intelijen sekutu AS, termasuk Markas Besar Komunikasi Pemerintah Inggris dan Direktorat Sinyal Pertahanan Australia, anggota perjanjian keamanan UKUSA atau "Lima Mata".[4]
Respon Tony Abbott tidak hanya mengundang kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun juga dikritik oleh berbagai politikus baik di Indonesia maupun Australia, termasuk dari mantan perdana menteri Malcolm Fraser,[14] mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menteri Luar Negeri IndonesiaMarty Natalegawa,[15] dan berbagai pemberitaan negatif dari media massa Indonesia.[16] Aksi demonstrasi dilakukan di depan Kedutaan Besar Australia, Jakarta[17] dan pemerintah Australia mengumumkan peringatan bepergian di Indonesia.[18]
Secara kontras, pemimpin oposisi Australia dari Partai Buruh Australia, Bill Shorten, menolak untuk mengkritik Abbott dan malah menekankan pentingnya hubungan bilateral, dan berpendapat bahwa tanggapan pemerintah harus menjadi "momen Tim Australia".[19] Mantan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer berpendapat bahwa tanggapan diplomatik terhadap masalah ini "di luar kendali" pemerintahan Tony Abbott.[20]
Tuduhan tersebut dan respon Indonesia menarik perhatian signifikan dari media massa Indonesia dan internasional khususnya setelah tuduhan yang dilontarkan kepada Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat yang telah berupaya untuk menyadap telefon Kanselir JermanAngela Merkel.[21]
Dampak
Pada tahun 2014, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop dan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa menandatangani Kesepahaman Bersama tentang kode etik antara Republik Indonesia dan Australia dalam implementasi perjanjian antara Republik Indonesia dan Australia tentang Kerangka Kerja Sama Keamanan.[22]
↑Ireland, Judith (20 November 2013). "Politics live: November 20, 2013". smh.com.au. Sydney Morning Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2013. Diakses tanggal 24 November 2013.