Dalam masyarakat Suku Batak, Si Raja Batak (Surat Batak: ᯘᯪᯒᯐᯅᯖᯂ᯲) merupakan eponim, yakni istilah yang digunakan untuk menyebut nenek moyang pertama orang-orang Batak (Bangso Batak). Dalam setiap tarombo (silsilah), nama ini sekaligus digunakan sebagai nama pribadi leluhur orang-orang Batak. Dalam penuturan turi-turian (kisah) masyarakat Batak, Siraja Batak berasal dari Sianjur Mulamula, Samosir.[1] Siraja Batak diyakini sebagai induk dari seluruh marga-marga Batak yang ada di seluruh dunia saat ini. Siraja Batak berketurunan hingga generasi sekarang ini.
Orang Batak memiliki kosmologi sendiri tentang penciptaan bumi dan manusia. Mitologi Batak mengenal alam terbagi atas tiga banua, yakni Banua Ginjang atau Dunia atas, Banua Tonga atau Dunia tengah dan Banua Toru atau Dunia bawah.
Alkisah, Si Boru Deak Parujar, anak Perempuan Batara Guru, ditunangkan dengan anak laki-laki Mangala Bulan, Raja Odap-odap. Namun, Deak Parujar menolak. Berupaya menunda pernikahan dengan alasan ingin menyelesaikan tujuh tenunan benang terlebih dahulu. Ompu Debata Mulajadi Na Bolon mengetahui itu hanya siasat Deak Parujar.
Ompu Debata Mulajadi Na Bolon lalu melemparkan gumpalan benang tersebut. Ingin menyelamatkan benang milikinya, Deak Parujar pun ikut melompat.
Meskipun Si Boru Deak Parujar hidup terombang-ambing jauh dari Banua Ginjang, ia enggan untuk kembali. meski begitu, Deak Parujar memohon agar Ompu Debata Mulajadi Na Bolon mau memberikan segengam tanah sekadar tempat berpijak. Permintaan itu dikabulkan. Dari segenggam tanah, Deak Parujar membentuk daratan yang saban hari semakin lebar. Tempat tinggal Deak Parujar dikenal sebagai Banua Tonga.
Rintangan dan berbagai persoalan dilewatinya. Termasuk saat Naga Padoha, penghuni Banua Toru, mengganggunya. Deak Parujar memilih terus menetap di Banua Tonga.
Takdir tak dapat terelakkan. Deak Parujar yang lama hidup kesepian pada akhirnya setuju menikah dengan Raja Odap-odap. Laki-laki yang sekuat tenaga ditolaknya saat masih hidup di Banua Ginjang. Pasangan ini dikaruniai sepasang anak dengan nama Raja Ihat Manisia dan Boru Ihat Manisia.[3][4]
Raja Ihat Manisia memperanakkan Raja Miok-miok. Raja Miok-miok menikah dengan Si Boru Mansur Purnama dan mereka memiliki putra bernama Eng Banua. Eng Banua menikah dengan Boru Siuman dan mereka mempunyai tiga putra, yaitu Raja Ujung, Raja Jau, dan Raja Bonang-bonang. Raja Bonang-bonang di kemudian hari memiliki putra bernama Ompu Raja Tantan Debata, Beliaulah yang kemudian memperanakkan Siraja Batak, leluhur orang Batak.[5]
Kisah ini masih dipercaya oleh masyarakat Batak. Eksistensi Siraja Batak hadir lewat Tarombo atau Pohon silsilah garis keturunan marga-marga. Meskipun tarombo (silsilah) yang dituliskan secara turun temurun terkadang mengaburkan garis batas antara Mitos atau Realita.
↑Institute, Batak (2021-08-03). "Awal Silsilah Marga Batak". TOKOH INDONESIA | TokohIndonesia.com | Tokoh.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2022-03-21. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)