Ringkasan cerita
Dahulu kala di Kampar, hiduplah seorang pemuda bernama Si Lancang bersama ibunya dalam kemiskinan. Mereka bekerja sebagai buruh tani untuk bertahan hidup. Demi memperbaiki nasib, Si Lancang memutuskan untuk merantau dan berjanji kepada ibunya serta guru ngajinya untuk tetap rendah hati dan tidak melupakan asal-usulnya. Sebagai bekal perpisahan, ibunya membuatkan lumping dodak, kue kesukaan Si Lancang.
Setelah bertahun-tahun di perantauan, Si Lancang berhasil menjadi saudagar kaya raya yang memiliki puluhan kapal dagang dan tujuh orang istri. Namun, kesuksesan tersebut membuatnya menjadi angkuh. Suatu ketika, ia berlayar kembali ke tanah kelahirannya di Andalas (Kampar) dengan membawa kemewahan yang luar biasa.
Mendengar kepulangan anaknya, sang ibu yang masih hidup dalam kemiskinan datang ke dermaga dengan pakaian yang sangat sederhana dan penuh tambalan. Namun, karena malu akan kondisi ibunya di hadapan istri-istrinya, Si Lancang menolak mengakui wanita tersebut sebagai ibunya dan memerintahkan anak buahnya untuk mengusir sang ibu dari kapal.
Merasa sakit hati dan terhina, sang ibu pulang dan berdoa memohon keadilan. Ia memutar-mutar lesung penumbuk padi dan mengibas-ngibaskan nyiru pusakanya. Tak lama kemudian, badai besar datang menghancurkan kapal-kapal Si Lancang dan menerbangkan seluruh harta bendanya.