Shi lahir pada 1891 di Jiutai, Changchun, Jilin, Dinasti Qing kepada keluarga setempat yang miskin. Di masa mudanya, Shi bekerja magang di Toko Biji-bijian Bijia di Changchun. Di sana, Shi berteman dengan Bi Guangyuan, seorang anggota keluarga Bi yang kaya, dan dapat bersekolah di SD Dongguan yang dikelola pemerintah melalui persahabatan tersebut. Salah satu guru sekolah dasarnya adalah seorang remaja Shang Zhen.[3] Pada tahun 1908, ia meninggalkan pendidikan untuk berdinas militer, bergabung sebagai seorang tentara dibawah Wu Peifu di Tentara Baru, di unit yang dipimpin Cao Kun,[4] bergarnisun di Changchun dan kemudian di Langfang, Hebei.[5]
Karier
Era Panglima Perang
Pada tanggal 29 Februari 1912, saat berada di Beijing, Shi meninggalkan pasukan Cao ketika rekan prajuritnya memulai Pemberontakan Renzi[zh], termotivasi karena gaji yang belum dibayar dan kebijakan kontroversial Yuan Shikai untuk menempatkan Beijing sebagai ibukota, bukan Nanjing. Ia menjawab seruan dari Feng Yuxiang, yang menggambarkan Shi sebagai "memiliki kepala seperti rusa dan mata seperti tikus, dan kurus seperti kayu bakar". Feng menolak permintaannya sebagai seorang tentara karena tingginya yang pendek sebesar 160cm atau 4 kaki 5 inci tersebut[c], di mana Feng kemudian memanggilnya "delapan inci" ("地八寸code: zh is deprecated "), tetapi membiarkannya bergabung sebagai pemelihara kuda. Shi akhirnya mendapatkan dukungan Feng karena menunjukkan pola pikir strategis selama pertemuan taktis dengan para perwiranya dan memamerkan kemampuan tempur tangan kosong yang dia pelajari selama tiga bulan tinggal di sekolah seni bela diri (dari mana dia dikeluarkan setelah mencoba meyakinkan siswa lain untuk mengikuti ujian untuknya). Selain itu, meskipun ia putus sekolah di sekolah menengah atas, Shi masih memiliki pendidikan yang jauh lebih tinggi daripada sebagian besar prajurit dan perwira Feng, dan dengan demikian secara bertahap naik pangkat. Dalam pertempuran, Shi juga membedakan dirinya sebagai komandan yang efektif, seperti dalam pertempuran Puyang di bawah kendali Chen Shufan selama Perang Zhili–Anhui. Setelah beberapa pertempuran resimen gagal, Shi mengorganisir "pasukan kematian" yang terdiri dari 120 tentara, secara pribadi memberi masing-masing tiga dolar perak dan memimpin penyerangan di desa, sehingga terjadi pengambilalihan total.[6]
Selama waktunya sebagai tentara dibawah Feng Yuxiang, Shi menjadi teman dekat dengan Gao Shuxun yang bergabung ke kompeninya pada 1916 dan selalu mengabdi dibawah Shi selama satu dekade dan menjadi saudara sedarah. Pada 1924, Shi dengan Liu Guitang memimpin Tentara Pelindung Nasional Tiongkok Utara, sebuah unit independen yang terkenal melakukan aksi banditisme di daerah pedesaan sekitar Beijing. Shi kemudian naik pangkat sebagai komandan Divisi ke-6 pada September 1924.[5]
Pada Oktober 1924, Feng melancarkan Kudeta Beijing dan kemudian membentuk Guominjun. Shi menjadi salah satu "tiga belas penjaga" (十三太保code: zh is deprecated ), dianggap sebagai tokoh terkemuka di Guominjun, dan kemudian menjadi komandan Brigade Campuran ke-8 di Angkatan Darat ke-1. Pada 1926, ia naik pangkat menjadi letnan jenderal di Tentara Beiyang.[3][7]
Selama Perang Anti-Fengtian pada 1926, pasukan Shi bersiaga di Nankou (sekarang Changping, Beijing) dibawah ancaman rutin dari aliansi Kelompok Zhili dan Kelompok Fengtian. Yan Xishan menyerang Guominjun dari Shanxi dan Shi bersama Han Fuju ditugaskan untuk menangkal serangan Yan. Karena pasukan mereka lebih lemah, Shi dan Han melalui guru Shi, Shang Zhen, menegosiasikan pakta non-agresi tanpa sepengetahuan Feng dan pura-pura mundur pada Agustus. Pasukan utama Feng kemudian mulai meninggalkan posisi mereka di Beijing dan para pembelot mulai masuk ke resimen Shi dan Han dan mulai diintegrasikan ke pasukan mereka sendiri. Menghadapi kekalahan, Feng melarikan diri ke Uni Soviet. Setelah itu, Shi dan Han menyerah kepada Yan Xishan.[5]
Pada September, Shi bersumpah setia kepada Chiang Kai-shek dan Kuomintang setelah Kuomintang melancarkan Ekspedisi ke Utara pada Juli. Melihat bahwa kekuatan Feng mulai kembali menguat, Shi kembali ke pasukan Feng, dan ditunjuk sebagai panglima tertinggi Divisi ke-5 Guominjun di Shaanxi, dilaporkan setelah memberikan permintaan maaf tulus dimana Shi berlutut dan menangis di hadapan Feng. Sebagai hukuman untuk pembelotan Shi, Feng memecat kepala stafnya, Zhang Longhua dan menggantikannya dengan perwira kepercayaan Feng, Li Bingxuan untuk melaporkan langsung kegiatan Shi kepada Feng. Tidak lama kemudian, Shi menculik Li Bingxuan dan menguburnya hidup-hidup sebagai peringatan kepada Feng.[5][8]
Pada Juni tahun depan, Guominjun direorganisasi menjadi Kelompok Angkatan Darat ke-2 di Angkatan Darat Revolusioner Nasional (NRA) dan Shi menjadi wakil panglima tertinggi Pasukan Depan ke-1 dan Komandan Angkatan Darat ke-5.[7] Pada fase kedua Ekspedisi ke Utara, wilayah yang sudah dikuasai oleh NRA di Henan diserang oleh Fan Zhongxiu, seorang mantan murid Vihara Shaolin yang menjadi tentara. Feng memerintah Shi untuk bergerak selatan dari Shandong untuk melawan pasukan Fan beserta pasukan pimpinan Song Zheyuan.[9]
Pada April, Shi berpartisipasi dalam Pertempuran Yutai-Guting melawan pasukan Sun Chuanfang dan menjadi satu-satunya jenderal NRA yang bertahan menguasai wilayah tersebut. Pada akhir 1928, Ekspedisi ke Utara dideklarasikan usai dan dengan demobilisasi, Shi dipindahtugaskan menjadi komandan Divisi ke-24 NRA dan distasiunkan di Nanyang.[10]
Pada Mei 1929, saat Feng mengsekutukan Guominjun dengan Kelompok Guangxi Baru pada Perang Chiang-Gui, Shi membelot kepada Chiang Kai-shek setelah disogok dan dijanjikan untuk menjabat sebagai Gubernur Anhui, secara umum mengecam Feng Yuxiang karena telah melakukan "sepuluh dosa besar".[d] Sepanjang musim gugur, basis operasi baru Shi dipindahkan dari Xuchang ke Bozhou dan akhirnya Dezhou. Namun, pada bulan Desember, Shi berselisih dengan Chiang mengenai posisi ketua dan penolakan Shi untuk mengirim pasukan untuk melawan Li Zongren dan Chen Jitang di Guangdong, yang sebelumnya merupakan sekutunya, dan malah bersekutu dengan pesaing partai Chiang, Tang Shengzhi. Perseteruan tersebut memuncak dalam sebuah insiden pada tanggal 2 Desember di stasiun kereta api Pukou di mana Shi dilaporkan menyatakan "Pak Tua Chiang bukan apa-apa, hancurkan dia!" ("老蒋不是个东西,轰他!") dan menjadikan Nanjing sasaran serangan artileri selama beberapa jam dengan pasukan gabungan Tang, Li, dan Chen, yang ditujukan ke kantor Chiang di Istana Kepresidenan. Setelah Tang disingkirkan, Shi berhubungan kembali dengan Yan Xishan dan melalui dia kembali berhubungan dengan Feng Yuxiang, yang menugaskannya sebagai penanggung jawab Korps Area ke-4 dari Tentara Aliansi Anti-Chiang dan menempatkannya di Xinxiang.[5]
Insiden Kuil Shaolin
Pada pertengahan-akhir Maret 1928, pasukan Shi diperintah Feng untuk mengusir Fan dari Dengfeng. Fan membuat markasnya di Vihara Shaolin, dimana ia menjadi seorang upasaka dibawah mantan kepala bikkhu Heng Lin[zh]. Awalnya, kepala bikkhu vihara terbaru Miao Xing[zh] bersimpati kepada panglima perang utara untuk melindungi kepentingan rakyat lokal dan dibunuh pada 6 Maret 1927 dalam pertempuran melawan jenderal NRA Ren Yingqi saat mengomando Resimen Bela Diri Vihara Shaolin ke-1. Pada saat Shi tiba di vihara tersebut untuk mencari Fan, para bikkhu sudah berorganisir untuk mengangkat senjata untuk melindungi Fan dari segala kesakitan karena Fan merupakan anggota mereka. Di pertempuran tersebut, sebanyak 200 bikkhu terbunuh dan api membakar Aula Dharma. Komandan brigade Su Mingqi kemudian memerintah sebagian besar bagian vihara dibakar sebagai hukuman atas perlawanan para bikkhu, dan dalam kurun waktu 40 hari, 90% vihara tersebut hancur dan banyak naskah suci yang tersimpan di perpustakaan vihara tersebut hangus terbakar. Kemudian menurut pendapat biara, peristiwa itu terjadi karena kepala biara Miao Xing melanggar Vinaya melalui inisiatif pembelaan dirinya dan karma negatif tersebut menyebabkan kematiannya dan bencana alam tahun 1928.[11][12][13]
Dalam Perang Zhongyuan, Shi masih bertugas dibawah Feng. Setelah serangkaian kekalahan pada Mei 1930 terutama di Pertempuran Caoxian[zh], Dongming[zh], dan Xiangcheng[zh], sekretaris Shi Liu Yidan tiba di Wuhan membawa surat dari He Yingqin, di mana ia setuju untuk bekerja untuk Kuomintang bersama Han Fuju dan seluruh pasukan dibawah mereka dengan jumlah sebesar sepertiga dari seluruh pasukan Feng. Shi telah diberi insentif oleh janji He untuk memberikan konsesi yang besar kepada para jenderal di bawah Feng yang bersedia membelot. Kerugian besar inilah yang menyebabkan Feng mengumumkan "pensiunnya" dan kemudian melarikan diri ke Taiyuan bersama Yan Xishan. Pada tanggal 1 Juni, Shi menerima hadiah sebesar lima juta yuan dan diangkat menjadi panglima tertinggi Rute ke-13 Tentara Anti-Pemberontak dalam sebuah upacara dadakan di Xuchang melalui utusan Chiang, Qian Dajun[zh].[14] Namun, Shi secara rahasia masih memberi bantuan kepada kekuatan anti-Chiang yang tersisa yang dipimpin oleh Sun Dianying di Pertempuran Henan Timur, menguasai Desa Caozhuang dengan rencana menyandera Chiang dari pusat komandonya di stasiun Liuhe[zh] yang tidak jauh, tetapi pasukan yang ditugaskan gagal melakukan perjalanan sejauh 30 mil karena hujan.[10]
Konflik dengan Zhang Xueliang
Pada awal 1931, saat di Shenyang, Shi menghubungi Zhang Xueliang yang juga berpisah dari Feng untuk bekerja untuk Kuomintang dan menawarkan aliansi dengannya. Zhang setuju dan memberikan Shi gaji sebesar 600,000 yuan dengan 200,000 yuan dibayar dimuka sebagai iktikad baik. Shi kemudian mendirikan pusat komandonya di Xingtai, terdiri dari puluhan ribu mantan prajurit di bawah Feng Yuxiang dan Yan Xishan dan menggunakan mereka untuk menduduki jalur kereta api Pinghan, setelah mendengar rencana Zhang untuk melakukannya. Pada Mei 1931, Shi bekerja sama dengan Wang Jingwei, yang juga bersekutu dengan Li Rongzen, Chen Jitang, dan Liu Guitang, menjanjikan Shi posisi di pemerintahan anti-Chiang yang dibentuk oleh Kelompok Bukit Barat dibawah Hu Hanmin di Guangzhou, juga menunjuk panglima tertinggi Grup Angkatan Darat ke-5 dan memberinya 500.000 yuan.[10] Kerja sama Shi dengan Zhang terus berlanjut hingga 18 Juli, ketika Shi diberi tahu bahwa Zhang telah meninggal karena sakit di Beijing dan dengan asumsi bahwa wilayah Zhang bebas untuk direbut, Shi segera mengerahkan pasukannya ke utara untuk mengambil alih. Sesampainya di Manchuria pada 31 Juli, tentara Shi dicegat dalam gerakan menjepit oleh tentara Chiang Kai-shek dan Zhang Xueliang yang masih hidup, sehingga hanya menyisakan sekitar 4.000 orang untuk kembali ke Dezhou. Zhang kemudian merenungkan keterlibatannya dengan Shi, "Seekor anjing akan selalu memakan kotoran, dan serigala akan selalu memakan orang, sungguh sulit untuk mengubah sifat seseorang."("狗改不了吃屎,狼改不了吃人,真是本性难移啊。").[5] Selama sisa musim panas tahun 1931, Shi menghadapi lebih banyak kerugian, termasuk melawan pasukan gabungan Chen Jicheng[zh] dan Liu Chih di Pertempuran Baoding pada 29 Juli dan kekalahan hebat melawan Han Fuju di Pertempuran Dezhou pada 8 Agustus, yang membuatnya kemudian "mengundurkan diri" sebagai panglima perang. Aktivitas militernya terhenti selama beberapa bulan saat ia berdamai dengan Han dan mencari perlindungan dari Chiang di kediamannya di Jinan.[15]
Pembunuhan Zhang Zongchang
Pada September 1932, Shi diduga terlibat dalam pembunuhan mantan panglima perang Zhang Zongchang yang merupakan sahabat pribadinya dengan bantuan mantan sekutunya Feng Yuxiang dan Han Fuju, yang saat itu menjadi gubernur militer di Shandong. Sehari sebelum pembunuhan Zhang, pada tanggal 2 September 1932, Shi menyelenggarakan perjamuan atas nama Han untuk Zhang guna membahas kemungkinan operasi militer untuk melawan Jepang, yang telah menginvasi Manchuria tahun sebelumnya. Shi menunjukkan minat yang besar pada revolver yang dibawa Zhang dan menerima senjata yang sama sebagai hadiah pada akhir perayaan. Peristiwa itu kemudian diduga sebagai taktik untuk membuat Zhang mabuk dan melucuti senjatanya sebelum ia meninggalkan provinsi tersebut untuk berangkat ke Beijing melalui stasiun kereta api Jinan, di mana Zhang akan ditembak mati oleh Zheng Jicheng[zh], putra angkat Zheng Jinsheng[zh] yang pendendam, seorang jenderal dibawah Feng dan salah satu saudara iparnya, yang dibunuh oleh Zhang selama Era Panglima Perang.[16][17]
Kolaborasi awal dengan Jepang
Pada Oktober 1932, Shi meninggalkan Jinan menuju konsesi Jepang di Tianjin untuk menghadiri pertemuan rahasia dengan jenderal Jepang Kenji Doihara dan pembelot Yin Rugeng, yang memberikannya properti atas kerjasamanya. Ia kembali berasosiasi dengan Liu Guitang yang telah menjadi seorang perwira di Angkatan Darat Kekaisaran Manchukuo dan merekrut mantan panglima perang untuk Jepang. Chiang Kai-shek telah menyadari pengkhianatan ini dan meminta komandan Beijing Chen Gongshu[zh] untuk merencanakan pembunuhan Shi, yang kemudian memerintah agen Wang Wen untuk pergi ke Tianjin. Wang kemudian menyogok asisten kemah Xian Hongxia untuk menyuruh koki untuk memasukan racun di rebusan panas yang akan disantap Shi dengan istri ketiganya saat ia sedang berkunjung. Rencana ini gagal karena Shi memperhatikan sikap cemas koki saat menyajikan makanan dan menodong senjata ke koki untuk mengaku. Xian ditangkap saat ia mencoba merebut pistol Shi dan diserahkan kepada Jepang sebagai "agen Nanjing", tetapi Shi tidak pernah menyadari siapa yang sebenarnya memerintah percobaan pembunuhannya.[3][18] Namun, Shi sempat mengurangi hubungannya dengan Jepang setelah berhasil membunuh panglima perang sekaligus kaki tangannya Zhang Jingyao pada 7 Mei 1933. Pada bulan yang sama, setelah Gencatan Senjata Tanggu, Shi ditugaskan di Komando Keamanan Jibei (Hebei Utara) Pemerintah Nasional oleh pendudukan Jepang. Sepanjang tahun 1934, selama tahap akhir Pasifikasi Manchukuo, ia dan Liu Guitang bertindak sebagai agitator untuk konsesi Jepang, melakukan operasi bandit dan mengorganisir kerusuhan publik terhadap pasukan keamanan ROC di zona sipil di Yutian, Zunhua, dan daerah lain yang berbatasan dengan Tianjin dari markas besar mereka di Qinghe (sekarang menjadi subdistrik Beijing). Ini berakhir pada tanggal 3 Agustus 1935, ketika Liu terluka parah dalam sebuah percobaan pembunuhan di Luanzhou dan untuk sementara waktu tidak dapat bertugas. Pelakunya, Li Zhenhua, mengaku telah bertindak atas nama Shi dan lingkaran dalamnya, tetapi pejabat Jepang yang memimpin penyelidikan tersebut malah menyalahkan Tao Shaoming, yang sempat menjabat sebagai pengawas eksekutif dan delegasi khusus untuk zona penyangga Manchukuo sebelum digulingkan setelah menolak tawaran untuk menjadi kolaborator. Tao ditahan selama dua minggu, tetapi dilepaskan setelah pembebasannya dinegosiasikan karena kurangnya bukti.[15][19]
Pada Desember 1935, Shi melamar pekerjaan pemerintahan kepada teman seperjuangannya Song Zheyuan yang menjabat sebagai Gubernur Chahar. Pada titik ini, Song sangat membenci Shi, karena tahu betul pengkhianatan Shi yang berulang, tetapi karena tekanan dari pihak luar Jepang, yang memegang kendali atas pemerintahannya, Song diyakinkan untuk mengangkatnya menjadi komandan Divisi ke-181, yang konon terdiri dari mantan bandit di bawah Feng Shoupeng di Hebei, untuk menghentikan permintaannya yang terus-menerus dan menjauhkannya dari pasukan Jepang yang kemungkinan besar akan berkolusi dengannya. Akhirnya, ketika batalion itu dipecah menjadi tiga resimen, Shi dipersatukan kembali dengan Gao, yang memperoleh kendali atas salah satu resimen lainnya bersama Song.[5] Pada awal Juli 1936, ia pindah dari konsesi Jepang menuju ke konsesi Inggris di Tianjin setelah percobaan pembunuhannya oleh Liu Guitang pada 20 Juni.[15]
Perang Tiongkok-Jepang Kedua
Pada tahap awal Perang Tiongkok–Jepang Kedua pada Juli 1937 setelah Insiden Jembatan Marco Polo, Shi menyatakan akan mendukung Kuomintang dalam upaya perlawanan melawan Jepang namun ia secara rahasia berencana menggulingkan Chiang dari posisinya melalui kerja sama dengan mantan panglima perang secara bersama ataupun secara terpisah. Pasukan Shi direorganisasi menjadi Divisi ke-181 dan kemudian Korps ke-69.[20]
Dalam Pertempuran Taierzhuang, Shi dan Gao masing-masing memimpin Korps ke-69 dan Angkatan Darat Kedelapan Baru. Dalam Pertempuran Wuhan pada tahun yang sama, Shi sempat menguasai Jinan dengan garnisun yang terdiri dari 1.000 tentara.[21]
Hubungan dengan Angkatan Darat Rute Kedelapan
Mulai dari 1938, saat mengabdi sebagai komandan Korps ke-69 dan melancarkan perang gerilya melawan Jepang di Shandong, Shi berkolusi dengan Angkatan Darat Rute Kedelapan milik Partai Komunis Tiongkok di Hebei tanpa sepengetahuan atasannya, setelah memberikan intelijen penting yang memungkinkan mereka untuk menangkap pemimpin gerilya Qin Qirong, yang merupakan teman kepercayaan Shi.[22] Saat bekerja sama dengan mereka, Shi memberikan lokasi markas Jepang kepada pasukan komunis agar diserang, di mana ia merencanakan menggunakan pasukan komunis sebagai cara untuk menguasai Shandong, tetapi menjadi kecewa dengan rencana ini setelah menyadari bahwa ia tidak akan dipromosikan ke tingkat kepemimpinan yang lebih tinggi atau diberi komando atas batalion yang cukup besar untuk membangun pemerintahan militer. Untuk waktu yang singkat, Deng Xiaoping dan Yang Xiufeng bekerja di departemen yang diawasi oleh Shi.[8]
Pada April 1939, Shi sekali lagi dibujuk untuk kembali bergabung dengan KMT setelah dijanjikan posisi kepemimpinan di Tiongkok Utara oleh Zang Bofeng. Sekitar waktu yang sama, Shi mulai menuruti perintah kontak-kontaknya di IJAF dengan mengirimkan tentaranya untuk memburu dan melenyapkan partisan anti-Jepang, yang menyebabkan ia dicerca secara lokal sebagai "Shi Yan Wang" ("石阎王"). Shi akhirnya sepenuhnya mengkhianati komunis dengan melakukan pemberontakan pada Juli 1939 dan melarikan diri ke Shanxi, kemudian dilacak oleh Tentara Rute Kedelapan pada 30 Januari 1940. Nie Rongzhen melakukan persiapan untuk menyerang lokasi Shi, tetapi sebelum tindakan apa pun dapat dilakukan, Shi dan pasukannya melarikan diri ke selatan bersama pasukan lain pimpinan Sun Liangcheng[zh].
Kematian
Pada akhir tahun 1940, saat memimpin Grup Angkatan Darat ke-39 Tentara Revolusioner Nasional, Shi sekali lagi bertugas bersama Gao Shuxun. Saat berada di Liulin, Kabupaten Dongming, Shandong, Gao secara tidak sengaja membaca telegram di tempat tinggal Shi yang mengungkapkan pembelotannya ke pihak Jepang dan menanyakan hal ini kepada Shi. Shi memberi tahu Gao tentang rencananya untuk membelot dan mencoba membujuknya untuk bergabung dengannya. Gao merasa jijik dengan tawaran itu dan menolak, dengan mengatakan "Saya lebih memilih menjadi hantu kelaparan daripada pengkhianat!" ("寧做亡命鬼,決不當賣國賊!"). Sebagai tanggapan, Shi mencoba untuk menggabungkan beberapa pasukan di bawah komando Gao ke dalam pasukannya sendiri; meskipun memiliki pangkat yang berbeda, keduanya mengendalikan jumlah tentara yang sama, yang menolak untuk mengubah ukuran resimen.[10][23][24][25]
Walaupun Gao awalnya memilih diam mendengar pengkhianatan Shi, Gao mulai curiga bahwa serangan kejutan Jepang yang dilancarkan di sebuah rel kereta api dekat markas Kuomintang di Dingtao yang menyebabkan 2,000 pasukan Tiongkok gugur pada musim panas bisa diwujudkan karena tindakan kolaborasi Shi dengan musuh, dan percaya bahwa itu adalah serangan yang tepat sasaran dalam upaya untuk membunuhnya karena telah menggagalkan rencananya dengan Ding Shuben beberapa minggu sebelumnya. Gao melaporkan pengkhianatan tersebut dan kemudian menerima perintah dari Chiang Kai-shek melalui Wei Lihuang untuk membunuh Shi atas pengkhianatan negara. Shi terus diawasi ketat selama beberapa hari hingga malam tanggal 1 Desember, ketika Gao memerintahkan pasukannya untuk menyerbu pertemuan yang telah ia selenggarakan antara dirinya, Shi, dan Sun Liangcheng di perkemahan Sun di Liuxia, Kabupaten Puyang. Setelah empat anak buah Gao menjatuhkan Shi ke tanah dan melucuti senjata kedua pengawalnya, Gao, menanggapi kebingungan Shi yang terlihat jelas, dilaporkan berkata kepadanya, "Jika bukan aku yang membunuhmu, maka Langit yang akan membunuhmu. Jika bukan Langit yang membunuhmu, maka Bumi yang akan membunuhmu. Jika bukan Bumi yang membunuhmu, maka Chiang yang akan membunuhmu! Karma akan berlaku, dan kejahatan akan mendapat hukuman setimpal!", ("不是我殺是天殺,不是天殺是地殺,不是地殺是蔣殺,一報還一報,罪有應得!")[e] Gao kemudian menyatakan bahwa ia telah melaporkan kepada atasannya dan hukum mati Shi merupakan perintah dari Chiang Kai-shek.
Catatan kaki
↑Although Shi was officially no longer acting in office due to cooperation with the enemy, the title remained vacant and Shi's term technically only ended with his death. Bi was inaugurated as an interim acting governor on 20 December, 1940 and replaced by Feng Qinzai on 26 August 1941.
↑"Marga" tersebut berasal dari tokoh terkemuka dan organisasi yang ia bersumpah untuk bekerja, sebagai referensi dari panglima perang Lü Bu, yang kadang dikenal sebagai "Budak Tiga Marga".[2]
↑Satuan pengukuran Tiongkok disamakan dengan satuan kekaisaran, sehingga chi dan cun diterjemahkan menjadi kaki dan inci, meskipun yang pertama lebih panjang. Dalam satuan imperial, itu sama dengan 5 kaki 3 inci.
↑Mengacu pada "perbuatan tidak baik" Kammapatha dalam agama Buddha
↑Susunan kalimatnya bervariasi, dengan beberapa laporan mengklaim dan film dokumenter menggambarkan bahwa kalimat itu diucapkan sebelum Shi ditendang ke dalam kuburannya yang terbuka oleh Gao. Terkadang ucapan tersebut dilanjutkan dengan tambahan yang mungkin didramatisir: "你助紂為虐,出賣我中華民族,活埋了多少好人,今天讓你也嘗嘗活埋的滋味吧!code: zh is deprecated " ("Kau telah menuai pembalasan atas kejahatanmu. Kau telah membantu tiran melakukan kekejaman, mengkhianati bangsa Tionghoa, dan mengubur begitu banyak orang baik hidup-hidup. Hari ini, aku akan membiarkanmu merasakan bagaimana rasanya dikubur hidup-hidup!")
1234567"一报还一报,火烧少林寺爱埋活人的军阀石友三被结拜兄弟活埋"[Retaliation: Warlord Shi Yousan who burned the Shaolin Temple and who loved to bury the dead was buried alive by his sworn brother]. Sohu (dalam bahasa Tionghoa). 2021-09-27.
↑"火烧少林寺的石友三,被结拜兄弟活埋,最高兴的人居然是他五姨太"[Shi Yousan who burned down the Shaolin Temple was buried alive by his sworn brother. The happiest person was actually his fifth concubine.]. 163 (dalam bahasa Tionghoa). 2022-08-20.
12"民国军阀第一"变色龙"石友三被部下活埋"[Shi Yousan, number one "chameleon" of the Republic of China, was buried alive by his subordinates]. ChinaNews (dalam bahasa Tionghoa). 21 February 2012. Diakses tanggal 18 August 2024.
↑Shen, Qingsheng (1978). 民国人物传. Chinese Academy of Social Sciences.
1234"惨遭活埋!备受张学良和蒋介石青睐的石友三到底做错了什么?"[Buried alive! What did Shi Yousan, who was favored by Zhang Xueliang and Chiang Kai-shek, do wrong?]. 163 (dalam bahasa Tionghoa). 2023-02-25.
↑"石友三为何要火烧少林寺?石友三烧少林寺始末"[Why did Shi Yousan want to burn down the Shaolin Temple? The whole story of three burnings of Shaolin Temple by a close friend]. www.qulishi.com (dalam bahasa Tionghoa). 2018-12-04. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-12-05. Diakses tanggal 2023-10-22.
123Graefe, Nils (1 April 2009). Liu Guitang (1892-1943): Einer der größten Banditen der chinesischen Republikzeit[Liu Guitang (1892-1943): One of the greatest bandits of the Chinese Republican Era] (dalam bahasa Jerman). Harrassowitz. ISBN978-3447058247.
↑Wang, Weinong. "韩复榘的特跌和张宗昌的被杀" [Han Fuju's fall and Zhang Zongchang's murder]. Young China Party (dalam bahasa Tionghoa). hlm.197.
↑Zheng, Jicheng (1983) [5 June 1936]. 我殺死國賊張宗昌之經過詳情[The details of how I killed the national traitor Zhang Zongchang] (dalam bahasa Tionghoa).
↑"军统局最传奇的杀手,毒杀石友三,暗杀汪精卫,枪杀张啸林"[The most legendary killer of the Military Command Bureau, he poisoned Shi Yousan, assassinated Wang Jingwei, and shot Zhang Xiaolin]. Sohu. 2019-07-30.
↑"民国"倒戈将军"石友三的最终下场"[The final fate of Shi Yousan, the "rebellious general" of the Republic of China]. 历史很好玩儿 (dalam bahasa Tionghoa). 26 December 2018.
↑Hirayama, Nagatomi (2022). The Making and Unmaking of the Chinese Radical Right, 1918–1951 (dalam bahasa Inggris). University of Nottingham Ningbo China: Cambridge University Press. hlm.134.
↑"程子华、宋任穷:三打石友三"[Cheng Zihua and Song Renqiong: against Shi Yousan]. 1937 Nanjing. 2024-01-31 [October 1986; Taihang Memorial Hall]. Diakses tanggal 2024-08-29.
↑Lawson, Konrad (2012). "Wartime Atrocities and the Politics of Treason in the Ruins of the Japanese Empire, 1937-1953". Harvard Library: 295.
↑Liu, Chi-hsing (20 July 2015). "民國軍閥中的第一"變色龍""[The top "chameleon" among the warlords of the Republic of China]. Wenxuecity (dalam bahasa Tionghoa).
↑Gao, Shuxun (1963). 石友三醞釀投敵和被捕殺的經過 [The story of Shi Yousan's plan to defect to the enemy and his arrest] (dalam bahasa Tionghoa).