Mengetahui keberadaan Dajjal
Ketika sudah dewasa Ibnu Shayyad memeluk Islam sepeninggal nabi, suatu ketika ia pergi beserta Abu Sa’id dalam suatu perjalanan. Ibnu Shayyad mendengar apa-apa yang dibicarakan manusia tentang-nya, lalu dia merasa sangat terluka karenanya. Dia membela diri bahwa dia bukanlah Dajjal, dan berhujjah bahwa yang dikabarkan oleh nabi ﷺ tentang sifat-sifat Dajjal tidak sesuai dengan keadaannya.
Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id, dia berkata, “Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Sa'id ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” (Abu Sa’id) berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.”
Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” (Abu Sa’id) berkata, “Akhirnya dia melakukannya.” Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar, dia berkata, “Minumlah wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya,” lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku (karena merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh semua orang.
Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadits rasulullah ﷺ. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadits rasulullah ﷺ? Bukankah rasulullah ﷺ telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir, sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?” Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya.”
Kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’”[9]
Dalam satu riwayat lain, Ibnu Shayyad berkata, “Demi Allah, sesungguh-nya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.”[10]
Pada kisah yang lain Ibnu Umar bertanya tentang cahaya matanya yang redup, kemudian Ibnu Shayyad berbohong dengan bersumpah atas nama Allah, kisah ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq.[11] Di akhir riwayat Ibnu Umar sempat bertanya jika Ibnu Shayyad terpilih jadi Dajjal apa ia mau, kemudian Ibnu Shayyad menjawab dengan lugas, bahwa kalau ditawarkan maka ia tidak akan meolak. Kemudian Ibnu Umar berkata, berdoa kepada Allah untuk membinasakannya. Pada akhirnya, hal tersebut menjadi sebuah kerancuan dalam kisah-kisahnya tentang jatidiri siapa sebenarnya Ibnu Shayyad ini.