Sejarah alat penunjuk waktu

Sejarah alat penunjuk waktu berawal ketika peradaban kuno pertama kali mengamati benda langit yang bergerak melintasi langit. Perangkat dan metode untuk mengukur waktu terus mengalami penyempurnaan secara bertahap melalui serangkaian penemuan baru, dimulai dari pengukuran waktu menggunakan proses kontinu, seperti aliran cairan dalam jam air, hingga jam mekanis, dan pada akhirnya proses yang berulang serta berosilasi, seperti ayunan bandul. Penunjuk waktu berosilasi digunakan dalam perangkat penunjuk waktu modern. Jam matahari dan jam air pertama kali digunakan di Mesir Kuno sekitar ca 1200 SM, kemudian diadopsi oleh bangsa Babilonia, Yunani, dan Tiongkok. Jam dupa telah digunakan di Tiongkok sejak abad ke-6. Pada Abad Pertengahan, jam air Islam tidak tertandingi dari segi kecanggihannya hingga pertengahan abad ke-14. Jam pasir, yang ditemukan di Eropa, merupakan salah satu dari sedikit metode yang andal untuk mengukur waktu di laut.
Di Eropa pada Abad Pertengahan, jam yang sepenuhnya mekanis dikembangkan setelah ditemukannya alarm pemukul lonceng yang digunakan untuk menandai waktu yang tepat dalam membunyikan lonceng monastik. Jam mekanis yang digerakkan oleh beban dan dikendalikan oleh mekanisme verge and foliot merupakan sintesis dari berbagai gagasan sebelumnya dalam ilmu pengetahuan Eropa dan Islam. Jam mekanis menjadi terobosan besar, salah satunya yang dirancang dan dibuat oleh Henry de Vick sekitar ca 1360, yang menetapkan rancangan dasar jam selama 300 tahun berikutnya. Berbagai penyempurnaan kecil kemudian ditambahkan, seperti penemuan pegas utama pada awal abad ke-15, yang memungkinkan pembuatan jam berukuran kecil untuk pertama kalinya.
Peningkatan besar berikutnya dalam pembuatan jam, mulai abad ke-17, adalah penemuan bahwa jam dapat dikendalikan oleh osilator harmonik. Leonardo da Vinci menghasilkan gambar bandul paling awal yang diketahui pada 1493–1494, dan pada 1582 Galileo Galilei meneliti keteraturan ayunan bandul serta menemukan bahwa frekuensi hanya bergantung pada panjang bandul, bukan pada beratnya. Jam bandul, yang dirancang dan dibuat oleh polimat Belanda Christiaan Huygens pada 1656, memiliki tingkat ketelitian yang jauh melampaui jenis penunjuk waktu mekanis lainnya sehingga hanya sedikit mekanisme verge and foliot yang masih bertahan. Inovasi lain dalam penunjuk waktu pada periode ini mencakup penemuan jam berdentang, jam repeater, dan escapement deadbeat.
Faktor-faktor penyebab kesalahan pada jam bandul awal meliputi variasi suhu, suatu masalah yang mulai diatasi pada abad ke-18 oleh pembuat jam Inggris John Harrison dan George Graham. Setelah bencana angkatan laut Scilly 1707, yang mendorong pemerintah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang dapat menemukan cara menentukan garis bujur, Harrison membuat serangkaian penunjuk waktu yang sangat akurat dan memperkenalkan istilah kronometer. Jam listrik, yang ditemukan pada 1840, digunakan untuk mengendalikan jam bandul paling akurat hingga dekade 1940-an, ketika pengatur waktu kuarsa menjadi dasar pengukuran waktu dan frekuensi yang presisi. Jam tangan, yang telah diakui sebagai perlengkapan militer yang bernilai selama Perang Boer, menjadi populer setelah Perang Dunia I, dengan berbagai variasi seperti model antimagnetik, bertenaga baterai, dan bertenaga surya, serta penggunaan transistor dan komponen plastik. Sejak awal dekade 2010-an, telepon pintar dan jam tangan pintar telah menjadi perangkat penunjuk waktu yang paling umum digunakan. Perangkat penunjuk waktu yang paling akurat dalam penggunaan praktis saat ini adalah jam atom, yang mampu mencapai ketelitian hingga beberapa per miliar detik setiap tahun dan digunakan untuk mengalibrasi jam serta instrumen penunjuk waktu lainnya.
Perangkat penunjuk waktu berkelanjutan

Peradaban kuno mengamati benda langit, terutama Matahari dan Bulan, untuk menentukan waktu.[1] Menurut sejarawan Eric Bruton, Stonehenge kemungkinan merupakan padanan Zaman Batu dari sebuah observatorium astronomi, yang digunakan untuk mengamati peristiwa musiman dan tahunan seperti ekuinoks maupun titik balik matahari.[2] Karena peradaban megalit tidak meninggalkan catatan tertulis, hanya sedikit yang diketahui mengenai metode penunjuk waktu mereka.[3] Monumen kalender Warren Field di Skotlandia saat ini dianggap sebagai kalender luni-surya tertua yang pernah ditemukan.
Bangsa Mesoamerika memodifikasi sistem bilangan vigesimal (basis 20) yang lazim mereka gunakan ketika menyusun kalender, sehingga menghasilkan satu tahun yang terdiri atas 360 hari.[4] Penduduk Asli Australia memiliki pemahaman yang baik mengenai pergerakan benda-benda langit dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk menyusun kalender serta membantu navigasi. Sebagian besar budaya Aborigin mengenal pembagian musim yang jelas dan ditentukan oleh perubahan alam sepanjang tahun, termasuk peristiwa-peristiwa langit. Fase-fase Bulan digunakan untuk menandai rentang waktu yang lebih pendek; masyarakat Yaraldi di Australia Selatan merupakan salah satu dari sedikit kelompok yang tercatat memiliki cara untuk mengukur waktu pada siang hari, yang dibagi menjadi tujuh bagian berdasarkan posisi Matahari.[5]
Seluruh perangkat penunjuk waktu sebelum abad ke-13 bergantung pada metode yang memanfaatkan sesuatu yang bergerak secara berkelanjutan. Tidak ada metode penunjuk waktu pada masa awal yang mampu mempertahankan laju yang benar-benar konstan.[6] Perangkat dan metode untuk mengukur waktu terus mengalami penyempurnaan melalui rangkaian panjang penemuan dan gagasan baru.[7]
Jam bayangan dan jam matahari


Perangkat pertama yang digunakan untuk mengukur posisi Matahari adalah jam bayangan, yang kemudian berkembang menjadi jam matahari.[8][note 1] Jam matahari tertua yang diketahui berasal dari sekitar ca 1200 SM (pada masa Dinasti ke-19) dan ditemukan di Lembah Para Raja pada 2013.[9][10] Obelisk dapat menunjukkan apakah waktu masih pagi atau sudah sore, sekaligus menandai titik balik matahari musim panas dan titik balik matahari musim dingin.[11] Sekitar ca 500 SM, dikembangkan suatu jenis jam bayangan yang bentuknya menyerupai penggaris T yang ditekuk. Alat ini mengukur berlalunya waktu berdasarkan bayangan yang dihasilkan oleh palang melintangnya. Pada pagi hari alat tersebut diarahkan ke timur, lalu diputar saat tengah hari agar dapat menghasilkan bayangan ke arah sebaliknya.[12]
Jam matahari disebutkan dalam Alkitab, yaitu dalam 2 Raja-raja 20:9–11, ketika Hizkia, raja Yehuda pada abad ke-8 SM, dikisahkan disembuhkan oleh nabi Yesaya dan meminta suatu tanda bahwa ia akan pulih.[13]
Lalu berkatalah Yesaya: "Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah difirmankan-Nya itu: Maukah bayang-bayang itu maju sepuluh tapak, atau mundur sepuluh tapak?" Hizkia menjawab: "Mudah saja bagi bayang-bayang itu maju sepuluh tapak; bukan itu, melainkan biarlah bayang-bayang itu mundur sepuluh tapak." Kemudian nabi Yesaya berseru kepada TUHAN, lalu TUHAN mengembalikan bayang-bayang itu sepuluh tapak ke belakang pada penunjuk waktu milik Ahas, sesudah sebelumnya bergerak turun.
Sebuah lempeng tanah liat dari periode Babilonia Akhir menjelaskan panjang bayangan pada berbagai waktu sepanjang tahun.[14] Penulis Babilonia Berossos (fl. abad ke-3 SM) oleh bangsa Yunani dianggap sebagai penemu jam matahari berbentuk setengah bola yang dipahat dari batu; lintasan bayangannya dibagi menjadi 12 bagian untuk menandai waktu.[15] Jam matahari Yunani kemudian berkembang menjadi sangat canggih—Analemma karya Ptolemaios, yang ditulis pada abad ke-2 M, menggunakan bentuk awal trigonometri untuk menentukan posisi Matahari berdasarkan data seperti jam dalam sehari dan lintang geografis.[16][note 2]
Bangsa Romawi mewarisi penggunaan jam matahari dari bangsa Yunani.[19] Jam matahari pertama di Roma tiba pada 264 SM, setelah dijarah dari Catania di Sisilia. Jam matahari tersebut memperkenalkan pembagian jam horologium sepanjang hari, sedangkan sebelumnya bangsa Romawi hanya membagi siang menjadi pagi awal dan menjelang tengah hari (mane dan ante meridiem).[20] Namun, muncul persoalan astronomi yang tidak terduga; jam tersebut menunjukkan waktu yang keliru selama satu abad. Kesalahan ini baru disadari pada 164 SM, ketika seorang sensor Romawi memeriksanya dan menyesuaikannya dengan lintang geografis yang tepat.[21][20]
Menurut sejarawan astronomi Jerman Ernst Zinner, jam matahari dikembangkan pada abad ke-13 dengan skala yang menunjukkan jam-jam yang sama panjang. Jam matahari pertama yang didasarkan pada waktu kutub muncul di Jerman sekitar ca 1400; teori lain menyatakan bahwa sebuah jam matahari di Damaskus yang mengukur waktu kutub dapat ditanggalkan ke tahun 1372.[22] Risalah-risalah Eropa mengenai perancangan jam matahari mulai terbit sekitar ca 1500.[23]
Metode Mesir untuk menentukan waktu pada malam hari, yang digunakan setidaknya sejak 600 SM, memanfaatkan sejenis unting-unting yang disebut merkhet. Sebuah meridian utara–selatan dibentuk dengan menggunakan dua merkhet yang disejajarkan dengan Polaris, bintang kutub utara. Waktu ditentukan dengan mengamati bintang-bintang tertentu ketika melintasi meridian tersebut.[24]
Jantar Mantar di Jaipur, yang dibangun pada 1727 oleh Jai Singh II, memiliki Vrihat Samrat Yantra, sebuah jam matahari setinggi 88 kaki (27 m).[25] Jam ini dapat menunjukkan waktu setempat dengan ketelitian sekitar dua detik.[26]
Jam air

Uraian tertua mengenai klepsidra atau jam air berasal dari prasasti makam Amenemhet, seorang pejabat istana Mesir pada awal Dinasti ke-18 (sekitar ca 1500 SM), yang disebut sebagai penemunya.[27] Benda yang dijelaskan dalam prasasti tersebut diduga berupa sebuah mangkuk yang diberi tanda-tanda untuk menunjukkan waktu.[28] Jam air tertua yang masih bertahan ditemukan di makam firaun Amenhotep III (sekitar ca 1417–1379 SM).[29] Hingga kini belum ditemukan contoh jam air aliran keluar dari Mesopotamia Kuno yang masih bertahan, meskipun sejumlah rujukan tertulis mengenai alat tersebut tetap ada.[14]
Masuknya jam air ke Tiongkok, kemungkinan dari Mesopotamia, diperkirakan telah terjadi sejak milenium ke-2 SM pada masa Dinasti Shang, dan paling lambat pada milenium ke-1 SM. Sekitar tahun 550 M, Yin Kui (殷蘷) menjadi orang pertama di Tiongkok yang menulis tentang tangki luapan atau tangki berketinggian tetap dalam bukunya Lou ke fa (漏刻法). Sekitar tahun 610, dua penemu pada masa Dinasti Sui, Geng Xun (耿詢) dan Yuwen Kai (宇文愷), menciptakan klepsidra keseimbangan pertama, dengan posisi baku untuk neraca dacin.[30] Pada tahun 721, matematikawan Yi Xing dan pejabat pemerintah Liang Lingzan mengatur tenaga air yang menggerakkan jam astronomi, membagi tenaga tersebut menjadi impuls-impuls satuan sehingga gerakan planet dan bintang dapat ditiru.[31] Pada tahun 976, astronom Dinasti Song Zhang Sixun mengatasi masalah air pada klepsidra yang membeku saat cuaca dingin dengan mengganti air menggunakan raksa cair.[32] Sebuah menara jam astronomi bertenaga air dibangun oleh polimat Su Song pada tahun 1088,[33] yang menampilkan penggerak rantai penghantar tenaga tanpa ujung pertama yang diketahui.[34]

Para filsuf Yunani Anaksagoras dan Empedokles sama-sama menyebut jam air yang digunakan untuk membatasi waktu atau mengukur berlalunya waktu.[35][36] Filsuf Athena Plato diyakini menciptakan sebuah jam alarm yang memanfaatkan bola-bola timbal yang berjatuhan dengan bunyi nyaring ke atas sebuah piring tembaga untuk membangunkan para muridnya.[37]
Masalah utama pada sebagian besar klepsidra adalah perubahan laju aliran air akibat perubahan tekanan fluida. Masalah ini mulai diatasi sejak sekitar 100 SM dengan membuat wadah air berbentuk kerucut. Jam air kemudian menjadi semakin canggih dengan penambahan inovasi seperti gong dan berbagai mekanisme bergerak.[33] Terdapat bukti kuat bahwa Menara Angin di Athena yang berasal dari abad ke-1 SM dahulu dilengkapi dengan sebuah jam air dan penunjuk arah angin, selain sembilan jam matahari vertikal yang hingga kini masih terlihat pada bagian luarnya.[38] Dalam tradisi Yunani, klepsidra digunakan di pengadilan, suatu praktik yang kemudian diadopsi oleh bangsa Romawi.[39]
Ibnu Khalaf al-Muradi di Al-Andalus pada Abad Pertengahan menjelaskan sebuah jam air yang menggunakan roda gigi sektor maupun roda gigi episiklik. Jam air Islam, yang memanfaatkan rangkaian roda gigi yang rumit dan dilengkapi berbagai automaton, tidak tertandingi tingkat kecanggihannya hingga pertengahan abad ke-14.[40][41] Mekanisme yang digerakkan oleh cairan—menggunakan pelampung berat dan sistem tinggi permukaan air tetap—dikembangkan sehingga jam air dapat bekerja dengan laju yang lebih lambat.[41] Sejumlah peneliti berpendapat bahwa jam beroda gigi pertama yang diketahui justru diciptakan oleh matematikawan, fisikawan, dan insinyur besar Arkhimedes pada abad ke-3 SM. Arkhimedes membuat jam astronominya,[42] yang juga merupakan jam kukuk dengan burung-burung yang berkicau dan bergerak setiap jam. Jam ini merupakan jam karilon pertama karena memainkan musik bersamaan dengan gerakan seseorang yang mengedipkan mata karena terkejut mendengar kicauan burung. Jam Arkhimedes bekerja menggunakan sistem empat pemberat, pemberat penyeimbang, dan tali yang diatur oleh sistem pelampung di dalam wadah air dengan sifon yang mengendalikan kelangsungan kerja jam secara otomatis. Prinsip-prinsip kerja jam jenis ini dijelaskan oleh matematikawan dan fisikawan Heron,[43] yang menyatakan bahwa sebagian di antaranya bekerja dengan rantai yang memutar roda gigi di dalam mekanisme.[44]
Jam Air Jayrun dari abad ke-12 di Masjid Umayyah di Damaskus dibangun oleh Muhammad al-Sa'ati, dan kemudian dijelaskan oleh putranya, Ridwan ibn al-Sa'ati, dalam karyanya On the Construction of Clocks and their Use (1203).[45] Sebuah jam astronomi bertenaga air yang sangat canggih dijelaskan oleh Al-Jazari dalam risalahnya mengenai mesin-mesin, yang ditulis pada tahun 1206.[46] Jam kastel ini memiliki tinggi sekitar 11 kaki (3,4 m).[47] Pada tahun 1235, sebuah jam bertenaga air yang "mengumumkan waktu-waktu salat yang telah ditentukan serta menunjukkan waktu pada siang maupun malam hari" berdiri di aula masuk Madrasah Mustansiriyah di Bagdad.[48]
Jam dupa Tiongkok

Jam dupa pertama kali digunakan di Tiongkok sekitar abad ke-6,[49] terutama untuk keperluan keagamaan, tetapi juga dalam pertemuan sosial maupun oleh para cendekiawan.[50][51] Karena sering menggunakan karakter Dewanagari, sinolog Amerika Edward H. Schafer berpendapat bahwa jam dupa kemungkinan diciptakan di India.[52] Karena dupa terbakar secara merata tanpa nyala api, jam ini aman digunakan di dalam ruangan.[53] Untuk menandai jam-jam yang berbeda, digunakan dupa dengan aroma yang berlainan (dibuat dari resep yang berbeda).[54]
Dupa batang yang digunakan dapat berbentuk lurus maupun spiral; dupa spiral dirancang untuk penggunaan dalam jangka waktu yang lama dan sering digantung di langit-langit rumah maupun kuil.[55] Beberapa jam dirancang untuk menjatuhkan pemberat pada selang waktu yang tetap.[50]
Jam dupa cetak memiliki sebuah cakram yang diukir dengan satu atau lebih alur tempat bubuk dupa diletakkan.[56] Panjang jalur dupa, yang berhubungan langsung dengan ukuran cetakan, merupakan faktor utama dalam menentukan lamanya jam tersebut bekerja; diperkirakan diperlukan jalur dupa sepanjang sekitar 20 meter (66 ft) agar dapat terbakar selama 12 jam.[57] Penggunaan cakram logam secara bertahap, yang kemungkinan dimulai pada masa Dinasti Song, memudahkan para perajin membuat cetakan dengan berbagai ukuran, merancang dan menghiasnya secara lebih artistik, serta memvariasikan pola alurnya agar sesuai dengan perubahan panjang siang hari sepanjang tahun. Seiring tersedianya cetakan berukuran lebih kecil, jam dupa cetak semakin populer dan kerap dijadikan sebagai hadiah.[58]
Astrolab
Astrolab penunjuk waktu yang canggih dengan mekanisme roda gigi dibuat di Persia. Contohnya meliputi astrolab yang dibuat oleh polimat Abū Rayhān Bīrūnī pada abad ke-11 dan astronom Muhammad ibn Abi Bakr al‐Farisi sekitar ca1221.[59][60] Sebuah astrolab dari kuningan dan perak (yang juga berfungsi sebagai kalender) yang dibuat oleh al-Farisi di Isfahan merupakan mesin tertua yang masih bertahan dengan roda giginya tetap utuh. Bukaan pada bagian belakang astrolab menggambarkan fase Bulan dan menunjukkan umur Bulan; di dalam skala zodiak terdapat dua cincin konsentris yang memperlihatkan posisi relatif Matahari dan Bulan.[61]
Para astronom Muslim membangun berbagai jenis jam astronomi yang sangat akurat untuk digunakan di masjid-masjid dan observatorium,[62] seperti jam astrolab karya Ibn al-Shatir pada awal abad ke-14.[63]
Jam lilin dan jam pasir
Salah satu rujukan paling awal mengenai jam lilin terdapat dalam sebuah puisi Tiongkok yang ditulis pada tahun 520 oleh You Jianfu. Dalam puisinya, ia menyebut lilin berskala sebagai sarana untuk menentukan waktu pada malam hari. Lilin serupa juga digunakan di Jepang hingga awal abad ke-10.[64]
Penemuan jam lilin dikaitkan oleh bangsa Anglo-Saxon dengan Alfred yang Agung, raja Wessex (bertakhta 871–889), yang menggunakan enam batang lilin dengan tanda pada setiap selang satu inch[convert: unit tak dikenal]. Masing-masing lilin dibuat dari 12 pennyweight lilin lebah, dengan tinggi 12 sentimeter (4,7 in) dan ketebalan yang seragam.[65]

Penemu Muslim abad ke-12, Al-Jazari, menjelaskan empat rancangan jam lilin yang berbeda dalam bukunya Kitab Pengetahuan tentang Perangkat Mekanis yang Cerdik.[66][67] Jam lilin yang disebutnya sebagai "jam juru tulis" dirancang untuk menandai berlalunya 14 jam yang sama panjang. Mekanisme yang direkayasa dengan sangat presisi mendorong sebuah lilin berdimensi tertentu perlahan-lahan naik ke atas, sehingga sebuah penunjuk bergerak sepanjang skala.
Jam pasir merupakan salah satu dari sedikit metode yang andal untuk mengukur waktu di laut. Sejumlah sejarawan menduga alat ini telah digunakan di atas kapal sejak abad ke-11 sebagai pelengkap kompas dalam membantu navigasi. Bukti paling awal yang tidak meragukan mengenai penggunaan jam pasir terdapat dalam lukisan Allegory of Good Government karya seniman Italia Ambrogio Lorenzetti yang berasal dari tahun 1338.[68]
Penjelajah Portugal Ferdinand Magellan menggunakan 18 jam pasir di setiap kapalnya selama pelayaran mengelilingi dunia pada tahun 1522.[69] Meskipun jam pasir juga digunakan di Tiongkok, riwayat kemunculannya di sana tidak diketahui,[70] dan tampaknya baru digunakan setelah pertengahan abad ke-16.[71] Hal ini diduga karena pembuatan jam pasir bergantung pada teknik peniupan kaca, yang pada masa itu sepenuhnya merupakan seni yang berkembang di Eropa dan dunia Barat.[72]
Sejak abad ke-15, jam pasir digunakan dalam berbagai keperluan, baik di laut, di gereja, dalam industri, maupun untuk memasak. Jam pasir merupakan perangkat pengukur waktu pertama yang andal, dapat digunakan berulang kali, cukup akurat, dan mudah dibuat. Jam pasir kemudian juga memperoleh berbagai makna simbolis, seperti kematian, kesederhanaan, kesempatan, dan Bapak Waktu, yang umumnya digambarkan sebagai seorang lelaki tua berjanggut.[73]
Sejarah awal perangkat berosilasi dalam penunjuk waktu
Kata bahasa Inggris clock pertama kali muncul dalam Bahasa Inggris Pertengahan sebagai clokcode: enm is deprecated , clokecode: enm is deprecated , atau clokkecode: enm is deprecated . Asal usul kata tersebut tidak diketahui secara pasti; kemungkinan merupakan kata serapan dari bahasa Prancis atau bahasa Belanda, dan mungkin dapat ditelusuri hingga bahasa Latin pascaklasik cloccacode: la is deprecated ('lonceng'). Sumber-sumber Irlandia abad ke-7 dan Jermanik abad ke-9 mencatat bahwa clock bermakna 'lonceng'.[74]
Yudaisme, Kekristenan, dan Islam sama-sama menetapkan waktu-waktu tertentu untuk berdoa. Namun, hanya umat Kristen yang diharapkan mengikuti doa pada jam-jam tertentu, baik siang maupun malam, yang oleh sejarawan Jo Ellen Barnett digambarkan sebagai "kepatuhan yang ketat terhadap doa-doa berulang yang diucapkan berkali-kali setiap hari".[75] Alarm pemukul lonceng berfungsi memperingatkan biarawan yang sedang bertugas agar membunyikan lonceng biara. Alarm tersebut merupakan sebuah pengatur waktu yang menggunakan suatu bentuk escapement untuk membunyikan lonceng kecil. Mekanisme ini menjadi cikal bakal perangkat escapement yang kemudian digunakan dalam jam mekanis.[76][77]
Abad ke-13

Inovasi pertama untuk meningkatkan ketelitian jam pasir dan jam air terjadi pada abad ke-10, ketika dilakukan berbagai upaya untuk memperlambat laju alirannya dengan memanfaatkan gesekan atau gaya gravitasi.[78] Penggambaran paling awal mengenai jam yang digerakkan oleh pemberat yang digantung berasal dari Alkitab Santo Louis, sebuah manuskrip iluminasi yang dibuat antara tahun 1226 hingga 1234 dan memperlihatkan sebuah jam yang diperlambat oleh air yang bekerja pada sebuah roda. Ilustrasi tersebut tampaknya menunjukkan bahwa jam yang digerakkan oleh pemberat ditemukan di Eropa Barat.[79] Sebuah risalah yang ditulis oleh Robertus Anglicus pada tahun 1271 menunjukkan bahwa para perajin Abad Pertengahan sedang berupaya merancang jam yang sepenuhnya mekanis (yakni hanya digerakkan oleh gravitasi) pada masa tersebut.[80] Jam-jam semacam itu merupakan sintesis dari gagasan-gagasan sebelumnya yang berasal dari ilmu pengetahuan Eropa dan Islam, seperti sistem roda gigi, penggerak berbeban, dan mekanisme pemukul lonceng.[81]
Pada tahun 1250, seniman Villard de Honnecourt menggambarkan sebuah perangkat yang menjadi langkah penting menuju pengembangan escapement.[82] Pendahulu lain dari escapement adalah horologia nocturnacode: la is deprecated , yang menggunakan bentuk awal mekanisme verge untuk menggerakkan sebuah pemukul yang terus-menerus membunyikan lonceng.[83] Jam yang digerakkan oleh pemberat kemungkinan merupakan penemuan Eropa Barat, sebagaimana tampak pada sebuah ilustrasi jam yang memperlihatkan sebuah pemberat menarik poros berputar, sementara gerakannya diperlambat oleh sistem lubang-lubang yang secara perlahan melepaskan air.[84] Pada tahun 1271, astronom Inggris Robertus Anglicus menulis bahwa para ilmuwan sezamannya sedang mengembangkan suatu bentuk jam mekanis.[85][note 3]
Abad ke-14

Penemuan escapement verge dan foliot sekitar ca1275[87] merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah jam[88] maupun sejarah teknologi.[89] Mekanisme ini merupakan jenis regulator pertama dalam horologi.[6] Verge, atau poros vertikal, dipaksa berputar oleh roda mahkota yang digerakkan oleh pemberat, tetapi putarannya dicegah agar tidak berputar bebas oleh sebuah foliot. Foliot, yang tidak dapat berosilasi secara bebas, berayun maju-mundur sehingga memungkinkan roda berputar satu gigi pada satu waktu.[89][90] Meskipun verge dan foliot merupakan kemajuan dibandingkan perangkat penunjuk waktu sebelumnya, perubahan gaya yang bekerja tetap menyebabkan variasi pada irama ayunannya sehingga tidak dapat dihindari; akibatnya, jam mekanis awal harus disetel ulang secara berkala menggunakan jam matahari.[91][92]
Sekitar masa yang sama dengan ditemukannya escapement, penyair Florentine Dante Alighieri menggunakan citra jam untuk menggambarkan jiwa-jiwa orang yang diberkati dalam Paradiso, bagian ketiga dari Divina Commedia, yang ditulis pada awal abad ke-14. Karya tersebut mungkin merupakan deskripsi sastra pertama yang diketahui mengenai jam mekanis.[93] Rujukan mengenai jam rumah telah muncul sejak tahun 1314; pada tahun 1325, perkembangan jam mekanis dapat dianggap telah tercapai.[94]
Jam-jam mekanis berukuran besar dibangun dan dipasang pada menara agar dapat langsung membunyikan lonceng. Jam menara Katedral Norwich, yang dibangun sekitar ca1273 (berdasarkan catatan pembayaran untuk sebuah jam mekanis pada tahun tersebut), merupakan jam besar tertua yang diketahui. Jam tersebut tidak lagi bertahan hingga kini.[95] Jam pertama yang diketahui membunyikan lonceng secara teratur setiap pergantian jam, menggunakan mekanisme verge dan foliot, tercatat di Milan pada tahun 1336.[96] Pada tahun 1341, jam yang digerakkan oleh pemberat telah cukup dikenal sehingga dapat diadaptasi untuk penggilingan biji-bijian,[97] dan pada tahun 1344 jam di Katedral Santo Paulus Lama di London telah digantikan oleh jam yang menggunakan escapement.[98] Foliot pertama kali digambarkan oleh Dondi pada tahun 1364,[99] dan disebutkan oleh sejarawan istana Jean Froissart pada tahun 1369.[100]
Contoh perangkat penunjuk waktu paling terkenal pada Abad Pertengahan adalah jam yang dirancang dan dibuat oleh pembuat jam Henry de Vick sekitar ca1360,[88][101] yang dikatakan dapat menyimpang hingga dua jam dalam sehari. Selama 300 tahun berikutnya, seluruh penyempurnaan dalam penunjuk waktu pada dasarnya merupakan pengembangan berdasarkan prinsip-prinsip jam buatan de Vick.[102] Antara tahun 1348 dan 1364, Giovanni Dondi dell'Orologio, putra Jacopo Dondi, membangun sebuah astrarium yang rumit di Firenze.[103][note 4]
Sepanjang abad ke-14, jam berdentang semakin sering dipasang di ruang-ruang publik, mula-mula di Italia, kemudian tidak lama sesudahnya di Prancis dan Inggris. Antara tahun 1371 dan 1380, jam publik diperkenalkan di lebih dari 70 kota di Eropa.[105] Jam Katedral Salisbury, yang berasal dari sekitar tahun 1386, merupakan salah satu jam tertua di dunia yang masih berfungsi, bahkan mungkin yang tertua; sebagian besar komponennya masih merupakan bagian asli.[106][note 5] Jam Katedral Wells, yang dibangun pada tahun 1392, unik karena masih mempertahankan muka jam abad pertengahannya yang asli. Di atas muka jam terdapat figur-figur yang memukul lonceng, serta sekumpulan ksatria yang sedang bertanding tombak dan berputar mengelilingi lintasan setiap 15 menit.[107][note 6]
Perkembangan selanjutnya

Penemuan pegas utama pada awal abad ke-15—sebuah perangkat yang mula-mula digunakan pada kunci dan mekanisme senapan batu api—memungkinkan pembuatan jam berukuran kecil untuk pertama kalinya.[109] Kebutuhan akan mekanisme escapement yang dapat mengendalikan pelepasan energi tersimpan secara konstan mendorong pengembangan dua perangkat, yakni stackfreed (yang meskipun ditemukan pada abad ke-15 baru dapat didokumentasikan sekitar ca1535) dan fusee, yang berasal dari senjata abad pertengahan seperti busur silang.[109] Fusee telah digunakan pada jam pegas tertua yang masih bertahan, yaitu sebuah jam kamar yang dibuat untuk Philip yang Baik sekitar ca 1430.[109] Leonardo da Vinci, yang menghasilkan gambar bandul paling awal yang diketahui pada tahun 1493–1494,[110] juga menggambarkan sebuah fusee sekitar tahun ca 1500, seperempat abad setelah pegas spiral pertama kali muncul.[111]

Menara-menara jam di Eropa Barat pada Abad Pertengahan membunyikan lonceng untuk menandai waktu. Pelat jam awal hanya menampilkan penunjuk jam; sebuah jam dengan penunjuk menit disebutkan dalam sebuah manuskrip tahun 1475.[112] Sepanjang abad ke-16, perangkat penunjuk waktu menjadi semakin halus dan canggih. Pada tahun 1577, astronom Denmark Tycho Brahe memperoleh yang pertama dari empat jam yang mampu mengukur waktu hingga satuan detik,[113] sementara di Nürnberg, pembuat jam Jerman Peter Henlein menerima pembayaran atas pembuatan sesuatu yang diyakini sebagai contoh paling awal dari sebuah arloji, yang dibuat pada tahun 1524.[114] Menjelang tahun 1500, penggunaan foliot pada jam mulai ditinggalkan.[115] Jam pegas tertua yang masih bertahan merupakan karya pembuat jam Bohemia Jacob Zech [cs] yang dibuat pada tahun 1525.[111][116] Orang pertama yang mengusulkan membawa jam dalam perjalanan untuk menentukan garis bujur adalah pembuat instrumen Belanda Gemma Frisius pada tahun 1530. Jam tersebut disetel menurut waktu setempat di titik awal yang garis bujurnya telah diketahui, kemudian garis bujur lokasi lain dapat ditentukan dengan membandingkan waktu setempat di lokasi tersebut dengan waktu yang ditunjukkan oleh jam.[117][118]
Insinyur Utsmaniyah Taqi ad-Din menjelaskan sebuah jam yang digerakkan oleh pemberat dengan escapement verge dan foliot, rangkaian roda gigi pemukul lonceng, alarm, serta penunjuk fase Bulan dalam bukunya Bintang-Bintang Paling Cemerlang untuk Pembuatan Jam Mekanis (Al-Kawākib al-durriyya fī wadh' al-bankāmat al-dawriyya), yang ditulis sekitar tahun 1565.[119] Para misionaris Yesuit membawa jam-jam Eropa pertama ke Tiongkok sebagai hadiah.[120]
Polimat Italia Galileo Galilei diduga merupakan orang pertama yang menyadari bahwa bandul dapat digunakan sebagai penunjuk waktu yang akurat setelah mengamati gerakan lampu-lampu yang tergantung di Katedral Pisa.[121] Pada tahun 1582, ia meneliti ayunan bandul yang teratur dan menemukan bahwa keteraturannya hanya bergantung pada panjang bandul tersebut. Galileo sendiri tidak pernah membangun jam berdasarkan penemuannya, tetapi menjelang wafat ia mendiktekan petunjuk pembuatan jam bandul kepada putranya, Vincenzo.[122]
Era ketepatan penunjuk waktu
Jam bandul
Perangkat penunjuk waktu akurat pertama bergantung pada fenomena yang dikenal sebagai gerak harmonik, yaitu ketika gaya pemulih yang bekerja pada suatu benda yang menyimpang dari posisi keseimbangannya—seperti bandul atau pegas yang direntangkan—mengembalikan benda tersebut ke posisi semula dan menyebabkannya berosilasi.[123] Osilator harmonik dapat digunakan sebagai penunjuk waktu yang akurat karena periode osilasinya tidak bergantung pada amplitudo gerakan, sehingga setiap osilasi selalu memerlukan waktu yang sama untuk diselesaikan.[124] Periode sebuah osilator harmonik sepenuhnya bergantung pada karakteristik fisik sistem yang berosilasi, bukan pada kondisi awal maupun amplitudonya.[125]
Masa ketika jam dikendalikan oleh osilator harmonik merupakan periode paling produktif dalam sejarah penunjuk waktu.[102][note 7] Penemuan pertama dari jenis ini adalah jam bandul, yang dirancang dan dibuat oleh polimat Belanda Christiaan Huygens pada tahun 1656. Versi awalnya memiliki kesalahan kurang dari satu menit per hari, sedangkan versi berikutnya hanya sekitar 10 detik per hari, suatu tingkat ketelitian yang sangat tinggi pada zamannya. Pelat jam yang menampilkan menit dan detik menjadi umum setelah peningkatan ketelitian yang dimungkinkan oleh jam bandul. Tycho Brahe menggunakan jam yang menampilkan menit dan detik untuk mengamati posisi bintang.[112] Jam bandul jauh melampaui semua jenis penunjuk waktu mekanis lainnya sehingga sebagian besar jam lama kemudian dipasangi bandul—suatu modifikasi yang dapat dilakukan tanpa kesulitan berarti[127]—akibatnya hanya sedikit mekanisme escapement verge yang masih bertahan dalam bentuk aslinya.[128]
Jam bandul pertama menggunakan escapement verge, yang memerlukan ayunan lebar sekitar 100° sehingga membutuhkan bandul yang pendek dan ringan.[129] Sudut ayunan ini berkurang menjadi sekitar 6° setelah ditemukannya mekanisme jangkar, yang memungkinkan penggunaan bandul yang lebih panjang dan berat dengan irama ayunan yang lebih lambat serta variasi yang lebih kecil karena gerakannya lebih mendekati gerak harmonik sederhana, membutuhkan energi yang lebih sedikit, serta mengurangi gesekan dan keausan.[130] Jam pertama yang diketahui menggunakan anchor escapement dibuat oleh pembuat jam Inggris William Clement pada tahun 1671 untuk King's College, Cambridge.[131] Jam tersebut kini disimpan di Museum Sains, London.[132] Anchor escapement berasal dari gagasan Hooke, meskipun ada pendapat bahwa penemunya adalah Clement[133] atau pembuat jam Inggris Joseph Knibb.[132]
Kaum Yesuit memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan jam bandul pada abad ke-17 dan ke-18 karena mereka memiliki "penghargaan yang luar biasa besar terhadap pentingnya ketelitian".[134] Sebagai contoh, ketika mengukur panjang bandul yang menghasilkan periode tepat satu detik, astronom Italia Pastor Giovanni Battista Riccioli membujuk sembilan rekannya sesama Yesuit "untuk menghitung hampir 87.000 ayunan dalam satu hari".[135] Mereka juga berperan penting dalam menyebarluaskan dan menguji gagasan-gagasan ilmiah pada masa itu, serta bekerja sama dengan Huygens dan para ilmuwan sezamannya.[136]

Huygens merupakan orang pertama yang menggunakan jam untuk menghitung persamaan waktu (selisih antara waktu matahari semu dan waktu yang ditunjukkan oleh jam), dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1665. Hubungan tersebut memungkinkan para astronom menggunakan bintang untuk mengukur waktu sideris, yang kemudian menjadi metode akurat untuk menyetel jam. Persamaan waktu kemudian diukir pada jam matahari sehingga jam dapat disetel menggunakan posisi Matahari. Pada tahun 1720, Joseph Williamson mengaku telah menciptakan sebuah jam yang menampilkan waktu matahari, dilengkapi dengan nok dan roda gigi diferensial, sehingga jam tersebut dapat menunjukkan waktu matahari sejati.[137][138][139]
Inovasi lain dalam penunjuk waktu pada periode ini meliputi penemuan mekanisme rack and snail untuk jam berdentang oleh mekanik Inggris Edward Barlow, penemuan jam repetisi pada tahun 1676 oleh Barlow atau pembuat jam London Daniel Quare, yang dapat membunyikan jumlah jam atau menit yang diminta,[140] serta deadbeat escapement, yang ditemukan sekitar tahun 1675 oleh astronom Richard Towneley.[141]
Paris dan Blois merupakan pusat awal industri pembuatan jam di Prancis, dan para pembuat jam Prancis seperti Julien Le Roy, pembuat jam untuk Versailles, menjadi pelopor dalam rancangan wadah jam dan pembuatan jam hias.[142] Le Roy merupakan generasi kelima dari keluarga pembuat jam dan digambarkan oleh para sezamannya sebagai "pembuat jam paling terampil di Prancis, bahkan mungkin di seluruh Eropa". Ia menciptakan mekanisme repetisi khusus yang meningkatkan ketelitian jam dan arloji, pelat jam yang dapat dibuka untuk memperlihatkan mekanisme di dalamnya, serta membuat atau mengawasi pembuatan lebih dari 3.500 arloji sepanjang kariernya yang berlangsung hampir lima dasawarsa hingga wafat pada tahun 1759. Persaingan dan rivalitas ilmiah yang muncul akibat penemuannya semakin mendorong para peneliti untuk mencari metode baru dalam mengukur waktu dengan lebih akurat.[143]

Kesalahan bawaan pada jam bandul awal sebenarnya lebih kecil dibandingkan kesalahan yang disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti perubahan suhu.[144] Pada tahun 1729, tukang kayu asal Yorkshire sekaligus pembuat jam otodidak John Harrison menciptakan bandul gridiron, yang menggunakan sedikitnya tiga logam dengan panjang dan sifat pemuaian yang berbeda, disusun sedemikian rupa sehingga panjang keseluruhan bandul tetap konstan ketika dipanaskan atau didinginkan oleh lingkungan sekitarnya.[145] Sebelumnya, pada tahun 1721, pembuat jam George Graham telah mengompensasi perubahan suhu pada bandul besi dengan menggunakan bandul pemberat berupa bejana kaca berisi raksa—logam cair pada suhu kamar yang memuai lebih cepat daripada kaca. Versi yang lebih akurat dari inovasi ini menggunakan wadah besi yang lebih tipis agar raksa lebih cepat merespons perubahan suhu. Jenis bandul dengan kompensasi suhu ini kemudian disempurnakan lagi dengan menempatkan raksa di dalam batang bandul itu sendiri sehingga kedua logam memiliki keterkaitan termal yang lebih erat.[146] Pada tahun 1895, penemuan invar, yaitu paduan besi dan nikel yang memiliki pemuaian sangat kecil, pada dasarnya menghilangkan kebutuhan akan berbagai rancangan kompensasi suhu sebelumnya.[147]
Antara tahun 1794 dan 1795, setelah Revolusi Prancis, pemerintah Prancis mewajibkan penggunaan waktu desimal, yaitu sistem yang membagi satu hari menjadi 10 jam, masing-masing terdiri atas 100 menit. Sebuah jam di Istana Tuileries masih menggunakan waktu desimal hingga tahun 1801.[148]
Kronometer laut
Setelah bencana angkatan laut Scilly tahun 1707, ketika empat kapal karam akibat kesalahan navigasi, pemerintah Britania menawarkan hadiah sebesar £20.000, yang setara dengan jutaan pound pada masa kini, kepada siapa pun yang mampu menentukan garis bujur dengan ketelitian hingga 50 kilometer (31 mi) pada lintang tepat di utara khatulistiwa.[149] Posisi sebuah kapal di laut dapat ditentukan dengan ketelitian sekitar 100 kilometer (62 mi) apabila navigator memiliki acuan sebuah jam yang tidak terlambat atau terlalu cepat lebih dari sekitar enam detik per hari.[150] Berbagai usulan kemudian ditelaah oleh Dewan Garis Bujur yang baru dibentuk.[151] Di antara banyak orang yang berusaha meraih hadiah tersebut adalah pembuat jam asal Yorkshire, Jeremy Thacker, yang untuk pertama kalinya menggunakan istilah chronometer dalam sebuah pamflet yang diterbitkan pada tahun 1714.[152] Huygens membuat jam laut pertama yang dirancang agar tetap berada dalam posisi horizontal di atas kapal yang sedang bergerak, tetapi jam tersebut berhenti bekerja apabila kapal mengalami guncangan mendadak.[152]

Pada tahun 1715, pada usia 22 tahun, John Harrison memanfaatkan keterampilannya sebagai tukang kayu untuk membuat sebuah jam kayu yang dapat bekerja selama delapan hari.[153] Jam-jam buatannya memperkenalkan sejumlah inovasi, antara lain penggunaan komponen kayu sehingga tidak memerlukan pelumasan tambahan (dan pembersihan), penggunaan rol untuk mengurangi gesekan, jenis escapement baru, serta pemakaian dua jenis logam yang berbeda untuk mengurangi masalah pemuaian akibat perubahan suhu.[154] Ia kemudian pergi ke London untuk meminta bantuan kepada Dewan Garis Bujur dalam pembuatan jam laut. Dewan tersebut mengarahkannya menemui Graham, yang kemudian membantu Harrison memperoleh pendanaan untuk membangun jam tersebut. Setelah 30 tahun, perangkat yang kini dinamai "H1" selesai dibuat dan diuji di laut pada tahun 1736. Harrison kemudian merancang dan membuat dua jam laut lainnya, yaitu "H2" (selesai sekitar tahun 1739) dan "H3", yang keduanya telah rampung pada tahun 1755.[155][156]
Harrison kemudian membuat dua arloji, "H4" dan "H5". Eric Bruton, dalam bukunya The History of Clocks and Watches, menyebut H4 sebagai "kemungkinan alat penunjuk waktu paling luar biasa yang pernah dibuat".[157] Setelah uji pelayaran selama musim dingin 1761–1762 selesai dilaksanakan, H4 terbukti memiliki ketelitian tiga kali lebih baik daripada syarat yang ditetapkan untuk memperoleh Hadiah Garis Bujur.[158][159]
Jam listrik

Pada tahun 1815, penemu Inggris yang produktif, Francis Ronalds, menciptakan cikal bakal jam listrik, yaitu jam elektrostatik. Jam tersebut ditenagai oleh tumpukan kering, baterai bertegangan tinggi yang memiliki usia pakai sangat panjang, tetapi kelemahannya adalah sifat kelistrikannya berubah-ubah sesuai dengan suhu udara dan kelembapan. Ronalds bereksperimen dengan berbagai cara untuk mengatur aliran listrik tersebut, dan perangkat hasil penyempurnaannya terbukti lebih andal.[160]
Pada tahun 1840, pembuat jam dan instrumen asal Skotlandia Alexander Bain untuk pertama kalinya menggunakan listrik untuk mempertahankan ayunan sebuah jam bandul, sehingga ia dianggap sebagai penemu jam listrik.[161] Pada 11 Januari 1841, Bain bersama pembuat kronometer John Barwise mengajukan sebuah paten yang menjelaskan jam dengan bandul elektromagnet. Ilmuwan Inggris Charles Wheatstone, yang bertemu Bain di London untuk membahas gagasannya mengenai jam listrik, membuat versinya sendiri pada November 1840, tetapi Bain memenangkan sengketa hukum yang menetapkannya sebagai penemu.[162][163]
Pada tahun 1857, fisikawan Prancis Jules Lissajous menunjukkan bahwa arus listrik dapat digunakan untuk membuat sebuah garpu tala bergetar tanpa henti, dan kemungkinan merupakan orang pertama yang memanfaatkan penemuan tersebut sebagai cara untuk mengukur frekuensi secara akurat.[164] Sifat piezoelektrik kristal kuarsa ditemukan oleh dua bersaudara fisikawan Prancis, Jacques dan Pierre Curie, pada tahun 1880.[165]
Jam bandul yang paling akurat dikendalikan secara elektrik.[166] Jam Shortt–Synchronome, yaitu jam bandul bertenaga listrik yang dirancang pada tahun 1921, merupakan jam pertama yang memiliki ketelitian lebih tinggi daripada rotasi Bumi itu sendiri.[167]
Serangkaian inovasi dan penemuan kemudian mengarah pada terciptanya pengatur waktu kuarsa modern. Osilator tabung vakum ditemukan pada tahun 1912.[168] Sebuah osilator listrik pertama kali digunakan untuk mempertahankan getaran garpu tala oleh fisikawan Inggris William Eccles pada tahun 1919;[169] pencapaian tersebut menghilangkan sebagian besar redaman yang berkaitan dengan perangkat mekanis serta memaksimalkan kestabilan frekuensi getaran.[169] Osilator kristal kuarsa pertama dibuat oleh insinyur Amerika Walter G. Cady pada tahun 1921, dan pada Oktober 1927 jam kuarsa pertama dideskripsikan oleh Joseph Horton dan Warren Marrison di Bell Telephone Laboratories.[170][note 8] Pada dekade-dekade berikutnya, jam kuarsa dikembangkan sebagai perangkat pengukur waktu presisi di lingkungan laboratorium—rangkaian elektronik penghitung yang besar dan rapuh, yang masih menggunakan tabung vakum, membatasi pemanfaatannya di tempat lain. Pada tahun 1932, berhasil dikembangkan sebuah jam kuarsa yang mampu mengukur variasi kecil mingguan dalam laju rotasi Bumi.[172] Stabilitas fisik dan kimianya yang melekat, serta tingkat ketelitiannya yang tinggi, kemudian mendorong penggunaannya secara luas. Sejak dekade 1940-an, jam kuarsa menjadi dasar bagi pengukuran waktu dan frekuensi presisi di seluruh dunia.[173]
Perkembangan arloji
Arloji tangan pertama dibuat pada abad ke-16. Elizabeth I dari Inggris membuat inventaris pada tahun 1572 atas arloji yang dimilikinya, yang seluruhnya dianggap sebagai bagian dari koleksi perhiasannya.[174] Jam saku pertama tidak akurat karena ukurannya membuat komponen-komponen bergeraknya sulit dibuat dengan presisi yang memadai.[175] Arloji tanpa hiasan mulai bermunculan sekitar ca 1625.[176]
Pelat jam yang menampilkan menit dan detik mulai menjadi umum setelah peningkatan ketelitian yang dimungkinkan oleh pegas keseimbangan (atau pegas rambut).[112] Diciptakan secara terpisah pada tahun 1675 oleh Huygens dan Hooke, pegas ini memungkinkan osilasi roda keseimbangan memiliki frekuensi yang tetap.[177] Penemuan tersebut membawa kemajuan besar dalam ketelitian arloji mekanis, dari penyimpangan sekitar setengah jam menjadi hanya beberapa menit per hari.[178] Masih terdapat perdebatan mengenai apakah pegas keseimbangan pertama kali ditemukan oleh Huygens atau Hooke; keduanya sama-sama mengklaim sebagai pencetus gagasan tersebut. Rancangan pegas keseimbangan Huygens kemudian menjadi jenis yang digunakan pada hampir semua arloji hingga saat ini.[178]
Thomas Tompion merupakan salah seorang pembuat jam pertama yang menyadari potensi pegas keseimbangan dan berhasil menerapkannya pada jam sakunya.[179] Peningkatan ketelitian tersebut membuat arloji mampu menjalankan fungsi sebagaimana digunakan pada masa kini, sehingga jarum detik dapat ditambahkan pada pelat jam, suatu perkembangan yang terjadi pada dekade 1690-an.[180] Jarum menit konsentris merupakan penemuan yang lebih awal, tetapi Quare kemudian merancang mekanisme yang memungkinkan kedua jarum digerakkan secara bersamaan.[181] Nicolas Fatio de Duillier, seorang filsuf alam asal Swiss, dianggap sebagai perancang bantalan permata pertama untuk arloji pada tahun 1704.[182]
Tokoh-tokoh penting lain dalam bidang horologi Inggris pada abad ke-18 meliputi John Arnold dan Thomas Earnshaw, yang mendedikasikan karier mereka untuk membuat kronometer berkualitas tinggi serta apa yang disebut sebagai deck watch, yaitu versi kronometer yang lebih kecil dan dapat disimpan di dalam saku.[183]
Penggunaan arloji dalam militer
Arloji mulai dikenakan selama Perang Prancis–Prusia (1870–1871), dan pada masa Perang Boer (1899–1902), arloji telah diakui sebagai alat yang sangat berguna.[184] Model-model awal pada dasarnya merupakan jam saku biasa yang dipasangi tali kulit, tetapi pada awal abad ke-20 para produsen mulai membuat arloji tangan yang memang dirancang khusus untuk dikenakan di pergelangan tangan. Pada tahun 1904, perintis penerbang Alberto Santos-Dumont meminta sahabatnya, pembuat jam Prancis Louis Cartier, untuk merancang sebuah arloji yang praktis digunakan saat terbang.[185]
Selama Perang Dunia I, arloji tangan digunakan oleh para perwira artileri.[186] Apa yang dikenal sebagai jam parit (trench watch), atau wristlet, sangat praktis karena membebaskan satu tangan yang sebelumnya harus digunakan untuk mengoperasikan jam saku, sehingga kemudian menjadi perlengkapan standar.[187][188] Tuntutan perang parit mengharuskan para prajurit melindungi kaca arloji mereka, sehingga kadang-kadang digunakan pelindung berupa sangkar berengsel.[188] Pelindung tersebut dirancang agar angka-angka pada pelat jam tetap mudah dibaca, tetapi menutupi jarum arloji—masalah yang baru teratasi setelah diperkenalkannya Plexiglas yang tahan pecah pada dekade 1930-an.[188] Sebelum digunakan secara luas oleh kalangan militer, arloji tangan umumnya hanya dikenakan oleh perempuan. Namun, selama Perang Dunia I, arloji tangan kemudian menjadi simbol maskulinitas dan keberanian.[188]
Jam tangan modern
Jam saku model gantung (fob watch) mulai tergeser pada pergantian abad ke-20.[189] Swiss, yang tetap netral sepanjang Perang Dunia I, memproduksi jam tangan bagi kedua belah pihak yang berperang. Pengenalan tank memengaruhi rancangan jam tangan Cartier Tank,[190] sementara desain jam tangan pada dekade 1920-an dipengaruhi oleh gaya Art Deco.[191] Jam tangan otomatis, yang pertama kali diperkenalkan dengan keberhasilan terbatas pada abad ke-18, diperkenalkan kembali pada dekade 1920-an oleh pembuat jam asal Inggris John Harwood.[192] Setelah perusahaannya bangkrut pada 1929, pembatasan atas jam tangan otomatis dicabut sehingga perusahaan seperti Rolex dapat memproduksinya.[193] Pada 1930, Tissot menghasilkan jam tangan antimagnet pertama di dunia.[194]
Jam tangan bertenaga baterai pertama dikembangkan pada dekade 1950-an.[195] Jam tangan berkualitas tinggi diproduksi oleh perusahaan seperti Patek Philippe, salah satu contohnya adalah Patek Philippe ref. 1518 yang diperkenalkan pada 1941. Model ini kemungkinan merupakan jam tangan paling rumit yang pernah dibuat dari baja nirkarat, dan mencetak harga lelang tertinggi di dunia ketika terjual seharga $11.136.642 pada tahun 2016.[196][197][198]
Speedmaster Professional berpenggerak putar manual, atau "Moonwatch", dikenakan dalam aktivitas ekstravehikular pertama Amerika Serikat sebagai bagian dari misi Gemini 4 milik NASA, dan menjadi jam tangan pertama yang dikenakan oleh seorang astronaut ketika berjalan di permukaan Bulan dalam misi Apollo 11.[199] Pada 1969, Seiko meluncurkan Astron, jam tangan kuarsa pertama di dunia.[200]
Pada dekade 1970-an, diperkenalkannya jam tangan digital yang dibuat menggunakan transistor dan komponen plastik memungkinkan perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja mereka. Akibatnya, pada dekade tersebut banyak perusahaan yang masih mempertahankan teknik pengerjaan logam yang lebih rumit mengalami kebangkrutan.[201]
Jam tangan pintar, yang pada dasarnya merupakan komputer sandang berbentuk jam tangan, mulai dipasarkan pada awal abad ke-21.
Jam atom

Jam atom merupakan perangkat pengukur waktu paling akurat yang digunakan dalam praktik saat ini. Dengan ketelitian hingga hanya menyimpang beberapa detik dalam rentang ribuan tahun, jam atom digunakan untuk mengalibrasi jam dan instrumen pengukur waktu lainnya.[202] Biro Standar Nasional (NBS, kini Institut Nasional Standar dan Teknologi (NIST)) di Amerika Serikat mengubah dasar standar waktu nasionalnya dari jam kuarsa menjadi jam atom pada dekade 1960-an.[203]
Gagasan untuk menggunakan transisi atom sebagai dasar pengukuran waktu pertama kali dikemukakan oleh ilmuwan Britania Lord Kelvin pada 1879,[204] meskipun baru pada dekade 1930-an, seiring berkembangnya resonansi magnetik nuklir, tersedia metode praktis untuk mengukur waktu dengan cara tersebut.[205] Sebuah purwarupa maser amonia dibangun di NIST pada 1948. Meskipun ketelitiannya masih kalah dibandingkan jam kuarsa yang telah ada, perangkat tersebut berhasil membuktikan konsep jam atom.[206]
Jam atom akurat pertama, berupa standar sesium yang didasarkan pada transisi tertentu dalam atom sesium-133, dibuat oleh fisikawan Britania Louis Essen pada 1955 di Laboratorium Fisika Nasional di London.[207] Jam tersebut dikalibrasi menggunakan skala waktu astronomi waktu efemeris (ET).[208]
Pada 1967, Sistem Satuan Internasional (SI) menetapkan satuan waktu, yaitu detik, berdasarkan sifat-sifat atom sesium.[206] SI mendefinisikan satu detik sebagai 9.192.631.770 siklus radiasi yang berkaitan dengan transisi antara dua tingkat energi spin elektron pada keadaan dasar atom 133Cs.[209] Jam atom sesium yang dipelihara oleh NIST memiliki ketelitian hingga 30 miliar bagian detik per tahun.[206] Jam atom juga memanfaatkan unsur lain, seperti hidrogen dan uap rubidium, yang menawarkan kestabilan lebih tinggi (untuk jam hidrogen) serta ukuran yang lebih kecil, konsumsi daya yang lebih rendah, dan biaya yang lebih murah (untuk jam rubidium).[206] Kemajuan mutakhir dalam teknologi jam sebagian besar bertumpu pada platform ion terperangkap, dengan rekor ketidakpastian sistematis terendah silih berganti dicapai oleh jam ion aluminium[210] dan jam kisi optik stronsium.[211] Jam generasi berikutnya diperkirakan akan didasarkan pada transisi nuklir dalam inti 229mTh, karena inti atom terlindungi dari pengaruh luar oleh awan elektron di sekelilingnya, sementara frekuensi transisinya jauh lebih tinggi dibandingkan jam optik maupun jam ion, sehingga memungkinkan ketidakpastian sistematis frekuensi jam yang jauh lebih rendah.[212]
Lihat pula
- Pembuat jam
- Sinkronisasi jam
- Waktu Universal Terkoordinasi – salah satu zona waktu di dunia (UTC)
- Metrologi dimensi
- Metrologi forensik
- Sejarah perangkat penunjuk waktu di Mesir
- Metrologi kuantum
- Krisis kuarsa
- Bandul detik
- Metrologi cerdas
- Metrologi waktu
- Standar waktu
- Penunjuk waktu di Bulan#Sejarah
- Linimasa penemuan pengukuran waktu
- Pembuat arloji
Catatan penjelas
- ↑ Penemu jam kuarsa, Warren Marrison, menyatakan bahwa jam matahari bukanlah perangkat penunjuk waktu karena, dalam kondisi terbaik sekalipun, jam tersebut hanya dapat menunjukkan waktu matahari setempat.[7]
- ↑ Sebuah syair karya Plautus (ca 254 – 184 SM) menunjukkan bahwa jam matahari telah dikenal oleh bangsa Romawi:[17][18]
Semoga para dewa mengutuk orang yang pertama kali menemukan
Cara membedakan jam-jam dalam sehari! Kutuk pula dia,
Yang mendirikan jam matahari di tempat ini,
Yang memotong dan mencabik hari-hariku yang malang
Menjadi bagian-bagian kecil—Ketika aku masih kecil,
Perutkulah jam matahariku: jauh lebih pasti,
Lebih benar, dan lebih tepat daripada semuanya.
Jam itu memberitahuku kapan waktunya
Makan siang, bila memang ada makanan untuk dimakan—
Tetapi sekarang, bahkan ketika ada makanan,
Aku tak dapat mulai makan kecuali Matahari mengizinkan.
Kota ini penuh dengan jam-jam terkutuk itu,
Sebagian besar penduduknya
Menyusut karena lapar, lalu berjalan terseok-seok di jalanan. - ↑ Tidak mungkin suatu jam dapat sepenuhnya mengikuti ketepatan perhitungan astronomi. Namun, para pembuat jam berusaha membuat sebuah roda yang dapat berputar tepat satu kali untuk setiap satu putaran lingkaran ekuinoks, tetapi mereka belum mampu menyempurnakan hasil kerjanya. (Latin: Nec est hoc possibile, quod aliquod horologium sequatur omnino iudicium astronomie secundum veritatem. Conantur tamen artifices horologiorum facere circulum unum qui omnino moveatur secundum motum circuli equinoctialis, sed non possunt omnino complere opus eorum, quod, si possent facere, esset horologium verax valde et valeret plus quam astrolabium quantum ad horas capiendas vel aliud instrumentum astronomie, si quis hoc sciret facere secundum modum antedictum.code: la is deprecated )[86]
- ↑ Karya Giovanni de Dondi telah direkonstruksi berdasarkan rancangan aslinya. Jam tersebut memiliki tujuh sisi dengan 107 bagian bergerak yang menunjukkan posisi Matahari, Bulan, dan lima planet, serta hari-hari raya keagamaan. Jam ini telah mengilhami sejumlah replika modern, termasuk beberapa yang dipamerkan di Museum Sains London dan Institusi Smithsonian.[104][95]
- ↑ Mekanisme penunjuk waktu verge and foliot asli pada jam Katedral Salisbury telah hilang setelah diubah menjadi bandul, yang kemudian digantikan dengan replika verge pada tahun 1956. Jam ini tidak memiliki pelat penunjuk karena tujuan utamanya adalah membunyikan lonceng.[106] Roda dan roda giginya dipasang pada rangka besi berukuran 12 meter (39 ft), yang disatukan menggunakan pasak dan pena logam. Dua batu besar menjadi sumber tenaga, menyebabkan tali terurai dari silinder kayu. Silinder tersebut menggerakkan roda utama (yang diatur oleh escapement), mekanisme pemukul lonceng, dan rem udara.[106]
- ↑ Jam tersebut diubah menjadi menggunakan bandul dan anchor escapement pada abad ke-17, lalu dipindahkan ke Museum Sains London pada tahun 1884, tempat jam itu masih terus beroperasi hingga kini.[108]
- ↑ Jam yang digerakkan secara harmonik bergantung pada suatu bentuk penyimpangan dari posisi keseimbangan; osilasi yang dihasilkan mencapai amplitudo maksimum ketika menerima energi pada frekuensi yang mendekati frekuensi alami tanpa redamannya. Contoh utama osilator harmonik yang digunakan sebagai penunjuk waktu ialah rangkaian resonansi listrik, bandul gravitasi, osilator kristal kuarsa dan garpu tala, pegas keseimbangan, pegas torsi, serta bandul vertikal.[126]
- ↑ Resonator kuarsa dapat bergetar dengan amplitudo yang sangat kecil dan dapat dikendalikan secara presisi, sifat yang membuatnya memiliki tingkat stabilitas frekuensi yang luar biasa.[171]
Kutipan
- ↑ Bruton 2000, hlm. 11.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 235–237.
- ↑ Richards 1999, hlm. 130.
- ↑ Aveni 1980, hlm. 158–159.
- ↑ Norris 2016, hlm. 27.
- 1 2 Barnett 1999, hlm. 64.
- 1 2 Marrison 1948, hlm. 510.
- ↑ Major 1998, hlm. 9.
- ↑ "One of world's oldest sun dial dug up in Kings' Valley, Upper Egypt". ScienceDaily. March 14, 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 20, 2017. Diakses tanggal May 10, 2021.
- ↑ Gautschy, Rita (January 24, 2018). "Astronomical Time versus Social Time: A Case Study from Ancient Egypt". Journal of Skyscape Archaeology. 3 (2): 217–223. doi:10.1558/jsa.34687. Diakses tanggal November 28, 2023.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 14.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 18.
- ↑ Dolan 1975, hlm. 31–32.
- 1 2 Brown, Fermor & Walker 1999, hlm. 130.
- ↑ Dolan 1975, hlm. 34.
- ↑ Hart, Graham (1999). "Ptolemy on Sundials". Starry Messenger. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 29, 2022. Diakses tanggal May 27, 2021.
- ↑ Dolan 1975, hlm. 37–38.
- ↑ Thornton 1767, hlm. 368–369.
- ↑ Dolan 1975, hlm. 35.
- 1 2 Carcopino, Jérôme. (1940). Daily Life in Ancient Rome: The People and the City at the Height of the Empire. Yale. hlm. 145–146.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 21.
- ↑ & Dolan 1975, hlm. 43.
- ↑ & Dolan 1975, hlm. 60.
- ↑ Magdolen 2001, hlm. 84.
- ↑ "Largest sundial world record". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 23, 2017. Diakses tanggal January 12, 2024.
- ↑ Barry Perlus. "Architecture in the Service of Science: The Astronomical Observatories of Jai Singh II" (PDF). Jantarmantar.org. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal February 5, 2009. Diakses tanggal November 11, 2012.
- ↑ von Lieven 2016, hlm. 207.
- ↑ von Lieven 2016, hlm. 218.
- ↑ Cotterell & Kamminga 1990, hlm. 59.
- ↑ Needham 1965, hlm. 479–480.
- ↑ Schafer 1967, hlm. 128.
- ↑ Needham 1965, hlm. 469–471.
- 1 2 "Early Clocks". A Walk Through Time. National Institute of Standards and Technology Physics Laboratory. August 12, 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 2, 2016. Diakses tanggal October 13, 2022.
- ↑ Needham 1965, hlm. 411.
- ↑ van Dusen 2014, hlm. 257.
- ↑ Allen 1996, hlm. 157.
- ↑ Hellemans & Bunch 2004, hlm. 65.
- ↑ Noble & de Solla Price 1968, hlm. 345–347.
- ↑ Humphrey 1998, hlm. 518–519.
- ↑ Hill 2016, hlm. 17.
- 1 2 Hill 1997, hlm. 242.
- ↑ Moussas, Xenophon (2018). Ο μηχανισμός των Αντικυθήρων, το αρχαιότερομηχανικό σύμπαν [The Antikythera Mechanism, the first mechanical cosmos] (dalam bahasa Greek). Athens: Canto Mediterraneo. ISBN 978-618-83695-0-4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Dasypodius, K. (1580). Heron mechanicus.
- ↑ Hero, of Alexandria. see Hero's books: Pneumatica (Πνευματικά), Automata, Mechanica, Metrica, Dioptra. Alexandria.
- ↑ Hill 1997, hlm. 234.
- ↑ Hill 1997, hlm. 203.
- ↑ al-Jazari 1974, hlm. 241.
- ↑ Hill 2016, hlm. 43.
- ↑ Pagani 2001, hlm. 209.
- 1 2 Fraser 1990, hlm. 55–56.
- ↑ Bedini 1994, hlm. 103–104.
- ↑ Schafer 1963, hlm. 160–161.
- ↑ Chang, Edward; Lu, Yung-Hsiang (December 1996). "Visualizing Video Streams using Sand Glass Metaphor". Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 10, 2017. Diakses tanggal June 20, 2008.
- ↑ Bedini 1963, hlm. 37.
- ↑ Rossotti 2002, hlm. 157.
- ↑ Fraser 1990, hlm. 52, 55–56.
- ↑ Fraser 1990, hlm. 56.
- ↑ Bedini 1994, hlm. 104–106.
- ↑ al-Hassan & Hill 1986, hlm. 24.
- ↑ Hill, Donald R.; al-Hassan, Ahmad Y. "Engineering in Arabic-Islamic Civilisation". History of Science and Technology in Islam. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal May 28, 2021.
- ↑ "Inventory no. 48213 – Former Display Label". History of Science Museum, Oxford. Diakses tanggal January 28, 2023.
- ↑ Ajram 1992, Appendix B.
- ↑ King 1983, hlm. 545–546.
- ↑ Flamer, Keith (2006-10-31). "History of Time". International Watch Magazine (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-16. Diakses tanggal 2008-04-08.
- ↑ Asser 1983, hlm. 108.
- ↑ Hill 1997, hlm. 238.
- ↑ al-Jazari 1974, hlm. 83–92.
- ↑ Frugoni 1988, hlm. 83.
- ↑ Bergreen 2003, hlm. 53.
- ↑ Blaut 2000, hlm. 186.
- ↑ Needham 1965, figure 995.
- ↑ Needham 1965, hlm. 570.
- ↑ Macey 1994, hlm. 209.
- ↑ "Clock". OED. 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 2, 2021. Diakses tanggal May 29, 2021.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 33–34, 37.
- ↑ Landes 1985, hlm. 67.
- ↑ Truitt 2015, hlm. 145–146.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 813–814.
- ↑ White 1964, hlm. 120–121.
- ↑ White 1964, hlm. 122.
- ↑ Hill 1997, hlm. 223, 242–243.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 4.
- ↑ Landes 1985, hlm. 67–68.
- ↑ White 1964, hlm. 120.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 67.
- ↑ Thorndike, de Sacro Bosco & Robertus Anglicus 1949, hlm. 180, 230.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 49.
- 1 2 Marrison 1948, hlm. 514.
- 1 2 Hill 1997, hlm. 243.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 64, 79.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 248.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 87–88.
- ↑ Moevs 1999, hlm. 59–60.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 5–6.
- 1 2 Landes 1985, hlm. 53.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 75.
- ↑ White 1964, hlm. 134.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 5.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 244.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 35.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 64–65.
- 1 2 Marrison 1948, hlm. 515.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 7.
- ↑ Davies 1996, hlm. 434.
- ↑ Bradbury & Collette 2009, hlm. 353, 356.
- 1 2 3 "Oldest Working Clock, Frequently Asked Questions, Salisbury Cathedral". Diarsipkan dari asli tanggal June 15, 2009. Diakses tanggal April 4, 2008.
- ↑ Colchester 1987, hlm. 116–120.
- ↑ "Wells Cathedral clock, ca1392". Science Museum (London). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 26, 2020. Diakses tanggal May 7, 2020.
- 1 2 3 White 1964, hlm. 126–128.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 66.
- 1 2 Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 19.
- 1 2 3 Lankford 1997, hlm. 529.
- ↑ Thoren 1990, hlm. 123.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 20–22.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 15.
- ↑ "History". Jacob Zech Original. 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal June 18, 2021.
- ↑ Pogo, A (1935). "Gemma Frisius, His Method of Determining Differences of Longitude by Transporting Timepieces (1530), and His Treatise on Triangulation (1533)". Isis. 22 (2): 469–506. doi:10.1086/346920. S2CID 143585356.
- ↑ Meskens 1992, hlm. 259.
- ↑ al-Hassan & Hill 1986, hlm. 59.
- ↑ John H. Lienhard. "No. 1005: Another Take on Time". Universitas Houston. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 19, 2022. Diakses tanggal April 10, 2022.
- ↑ Cotterell & Kamminga 1990, hlm. 20.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 67–68.
- ↑ Frautschi et al. 2008, hlm. 297.
- ↑ Frautschi et al. 2008, hlm. 309.
- ↑ Hüwel 2018, section 2–17.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 515–516.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 72.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 518.
- ↑ Headrick 2002, hlm. 44.
- ↑ Headrick 2002, hlm. 44–45.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 90.
- 1 2 Bruton 2000, hlm. 70.
- ↑ Headrick 2002, hlm. 41.
- ↑ Woods 2005, hlm. 100–101, 103.
- ↑ Woods 2005, hlm. 103.
- ↑ Woods 2005, hlm. 100.
- ↑ Buick 2013, hlm. 159.
- ↑ Richards 1999, hlm. 24–25.
- ↑ Macey 1994, hlm. 125.
- ↑ Landes 1985, hlm. 220.
- ↑ Macey 1994, hlm. 126.
- ↑ Davies 1996, hlm. 435.
- ↑ "Julien Le Roy". Getty Center. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal January 28, 2023.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 518–519.
- ↑ Baker 2011, hlm. 79–80.
- ↑ Matthys 2004, hlm. 7–8.
- ↑ Baker 2011, hlm. 82.
- ↑ Alder 2002, hlm. 150.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 86–87.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 89.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 87.
- 1 2 Bruton 2000, hlm. 90.
- ↑ "Harrison's eight-day wooden clock movement, 1715". Science Museum Group Collection. Diakses tanggal February 16, 2024.
- ↑ Landes 1985, hlm. 147–148.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 90–93.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 111.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 93.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 94.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 112.
- ↑ Ronalds 2015, hlm. 224.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 522.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 583.
- ↑ Thomson 1972, hlm. 65–66.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 524.
- ↑ "Pierre Curie". American Institute of Physics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 29, 2023. Diakses tanggal January 28, 2023.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 523.
- ↑ Sidgwick & Muirden 1980, hlm. 478.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 526.
- 1 2 Marrison 1948, hlm. 527.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 538.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 533.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 564.
- ↑ Marrison 1948, hlm. 531–532.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 56–57.
- ↑ Landes 1985, hlm. 114.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 39.
- ↑ Landes 1985, hlm. 124–125.
- 1 2 Landes 1985, hlm. 128.
- ↑ Landes 1985, hlm. 219.
- ↑ Landes 1985, hlm. 129.
- ↑ Baillie, Clutton & Ilbert 1969, hlm. 280.
- ↑ "Nicolas Fatio de Duillier (1664–1753)". Famous Watchmakers. Fondation de la Haute Horlogerie. 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 14, 2020. Diakses tanggal May 22, 2021.
- ↑ Landes 1985, hlm. 172, 185.
- ↑ Glasmeier 2000, hlm. 141.
- ↑ Hoffman 2004, hlm. 3.
- ↑ Bruton 2000, hlm. 183.
- ↑ Barnett 1999, hlm. 141.
- 1 2 3 4 Pennington, Cole (September 24, 2019). "How World War I Changed Watches Forever". Bloomberg News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal June 3, 2021.
- ↑ Miller 2009, hlm. 9.
- ↑ Miller 2009, hlm. 26.
- ↑ Miller 2009, hlm. 30.
- ↑ Miller 2009, hlm. 39.
- ↑ Miller 2009, hlm. 51.
- ↑ "Non-magnetism". Tissot. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 16, 2021. Diakses tanggal August 15, 2021.
- ↑ Miller 2009, hlm. 137.
- ↑ Miller 2009, hlm. 13.
- ↑ Touchot, Arthur (November 12, 2016). "Stainless Steel Patek Philippe Ref. 1518 Sells For Over $11,000,000 At Phillips Geneva". Hodinkee. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 15, 2021. Diakses tanggal August 15, 2021.
- ↑ Clymer, Benjamin. "The Patek Philippe 1518 In Steel". Hodinkee. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 15, 2021. Diakses tanggal August 15, 2021.
- ↑ Nelson 1993, hlm. 33–38.
- ↑ "Milestones:Electronic Quartz Wristwatch, 1969". Engineering and Technology History Wiki. December 31, 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 29, 2023. Diakses tanggal January 28, 2023.
- ↑ "Alarm Clocks from the Black Forest". Museum Jam Jerman. Diarsipkan dari asli tanggal July 29, 2016. Diakses tanggal August 17, 2021.
- ↑ Dick 2002, hlm. 484.
- ↑ Sullivan, D.B. (2001). "Time and frequency measurement at NIST: The first 100 years" (PDF). Time and Frequency Division, National Institute of Standards and Technology. hlm. 5. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal September 27, 2011.
- ↑ "Atomic ticker clocks up 50 years". BBC News. June 2, 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 12, 2024. Diakses tanggal August 1, 2021.
- ↑ Lombardi, Heavner & Jefferts 2007, hlm. 74.
- 1 2 3 4 "The 'Atomic Age' of Time Standards". National Institute of Standards and Technology. Diarsipkan dari asli tanggal April 12, 2008. Diakses tanggal May 2, 2008.
- ↑ Essen & Parry 1955, hlm. 280.
- ↑ Markowitz et al. 1958, hlm. 105–107.
- ↑ "What is a Cesium Atomic Clock?". National Research Council Canada. January 9, 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 12, 2021. Diakses tanggal May 15, 2021.
- ↑ Rosenband, T.; Schmidt, P.; Hume, D.; Itano, W.; Fortier, T.; Stalnaker, J.; Kim, K.; Diddams, S.; Koelemeij, J.; Bergquist, J.; Wineland, D. (2007-05-31). "Observation of the S 0 1 → P 0 3 Clock Transition in Al + 27". Physical Review Letters (dalam bahasa Inggris). 98 (22) 220801. arXiv:physics/0703067. Bibcode:2007PhRvL..98v0801R. doi:10.1103/PhysRevLett.98.220801. ISSN 0031-9007. PMID 17677830.
- ↑ Aeppli, Alexander; Kim, Kyungtae; Warfield, William; Safronova, Marianna S.; Ye, Jun (2024-07-10). "Clock with 8 × 10 − 19 Systematic Uncertainty". Physical Review Letters (dalam bahasa Inggris). 133 (2) 023401. arXiv:2403.10664. doi:10.1103/PhysRevLett.133.023401. ISSN 0031-9007. PMID 39073965.
- ↑ Zhang, Chuankun; Ooi, Tian; Higgins, Jacob S.; Doyle, Jack F.; von der Wense, Lars; Beeks, Kjeld; Leitner, Adrian; Kazakov, Georgy A.; Li, Peng; Thirolf, Peter G.; Schumm, Thorsten; Ye, Jun (September 2024). "Frequency ratio of the 229mTh nuclear isomeric transition and the 87Sr atomic clock". Nature (dalam bahasa Inggris). 633 (8028): 63–70. arXiv:2406.18719. doi:10.1038/s41586-024-07839-6. ISSN 1476-4687. PMID 39232152.
Referensi
- Ajram, K. (1992). Miracle of Islamic Science. Cedar Rapids, Iowa: Knowledge House Publishers. ISBN 978-0-911119-43-5.
- Alder, Ken (2002). The Measure of All Things: The Seven-Year Odyssey and Hidden Error that Transformed the World. London: Little, Brown. ISBN 978-0-316-85989-9.
- Allen, Danielle (1996). "A Schedule of Boundaries: An Exploration, Launched from the Water-Clock, of Athenian Time". Greece & Rome. 43 (2). Cambridge University Press: 157–168. doi:10.1093/gr/43.2.157. JSTOR 643092.
- Asser (1983) [before 909]. Alfred the Great: Asser's Life of King Alfred and other contemporary sources. Diterjemahkan oleh Keynes, Simon; Lapidge, Michael. London; New York: Penguin Books. ISBN 978-0-14-044409-4.
- Aveni, Anthony (1980). Skywatchers of Ancient Mexico. Austin, Texas: University of Texas Press. ISBN 978-0-292-70502-9.
- Baillie, G.H.; Clutton, C.; Ilbert, C.A. (1969) [1894]. Britten's Old Clocks and Watches and their Makers (Edisi 7th). London: Eyre & Spottiswoode; E. & F.N. Spon Ltd. ISBN 978-0-413-27390-1.
- Baker, Gregory L. (2011). Seven Tales of the Pendulum. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-958951-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Barnett, Jo Ellen (1999). Time's Pendulum: From Sundials to Atomic Clocks, the Fascinating History of Timekeeping and How Our Discoveries Changed the World (Edisi 1st). San Diego: Harcourt Trade Publishers. ISBN 978-0-15-600649-1.
- Bedini, Silvio A. (1963). "The Scent of Time. A Study of the Use of Fire and Incense for Time Measurement in Oriental Countries". Transactions of the American Philosophical Society. 53 (5). Philadelphia: American Philosophical Society: 1–51. doi:10.2307/1005923. hdl:2027/mdp.39076006361401. ISSN 0065-9746. JSTOR 1005923.
- Bedini, Silvio (1994). The Trail of Time: Shih-chien Ti Tsu-chi: Time Measurement with Incense in East Asia. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-37482-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 29, 2020.
- Bergreen, Laurence (2003). Over the Edge of the World: Magellan's Terrifying Circumnavigation of the Globe. New York: Morrow. ISBN 978-0-06-621173-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 29, 2020.
- Blaut, James Morris (2000). Eight Eurocentric Historians. Guildford Press. ISBN 978-1-57230-591-5.
- Bradbury, Nancy Mason; Collette, Carolyn P. (2009). "Changing Times: The Mechanical Clock In Late Medieval Literature". The Chaucer Review. 43 (4). Penn State University Press: 351–375. doi:10.1353/cr.0.0027. ISSN 0009-2002. JSTOR 25642120. S2CID 154241097.
- Brown, David; Fermor, John; Walker, Christopher (1999). "The Water Clock in Mesopotamia". Archiv für Orientforschung. 46/47: 130–148. JSTOR 41668444.
- Bruton, Eric (2000). The History of Clocks and Watches. London: Little, Brown. ISBN 978-0-517-37744-4.
- Buick, Tony (2013). Orrery: A Story of Mechanical Solar Systems, Clocks, and English Nobility. New York: Springer. ISBN 978-1-4614-7042-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Colchester, L.S. (1987). Wells Cathedral. London: Unwin Hyman. ISBN 978-0-04-440012-7.
- Cotterell, Brian; Kamminga, Johan (1990). Mechanics of Pre-Industrial Technology: An Introduction to the Mechanics of Ancient and Traditional Material Culture. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-34194-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Davies, Norman (1996). Europe: A History. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-820171-7.
- Dick, Stephen (2002). Sky and Ocean Joined: The U.S. Naval Observatory, 1830–2000. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-81599-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 29, 2020.
- Dolan, Winthrop W. (1975). A Choice of Sundials. Brattleboro, Vermont: The Stephen Greene Press. ISBN 978-0-8289-0210-6. OCLC 471181086.
- van Dusen, David (2014). The Space of Time: a sensualist interpretation of time in Augustine, Confessions X to XII. Leiden; Boston (Massachusetts): Brill. ISBN 978-90042-6-686-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 19, 2021.
- Essen, L.; Parry, J. V. L. (1955). "An Atomic Standard of Frequency and Time Interval: A Cæsium Resonator". Nature. 176 (4476): 280. Bibcode:1955Natur.176..280E. doi:10.1038/176280a0. S2CID 4191481.
- Fraser, Julius (1990). Of Time, Passion, and Knowledge: Reflections on the Strategy of Existence. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02437-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 29, 2020.
- Frautschi, Steven C.; Olenick, Richard P.; Apostol, Tom M.; Goodstein, David L. (2008). The Mechanical Universe: Mechanics and Heat (Edisi Advanced). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-64290-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Frugoni, Chiara (1988). Pietro et Ambrogio Lorenzetti. New York: Scala Books. ISBN 978-0-935748-80-2.
- Glasmeier, Amy K (2000). Manufacturing Time: Global Competition in the Watch Industry, 1795–2000. New York: The Guilford Press. ISBN 978-1-57230-589-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- al-Hassan, Ahmad Y.; Hill, Donald R. (1986). Islamic Technology: an illustrated history. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-42239-0.
- Headrick, Mark V. (April 2002). "Origin and Evolution of the Anchor Clock Escapement" (PDF). IEEE Control Systems Magazine. New York. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal October 1, 2024.
- Hellemans, Alexander; Bunch, Bryan H. (2004). The History of Science and Technology: A Browser's Guide to the Great Discoveries, Inventions, and the People Who Made Them, From the Dawn of Time to Today. Boston: Houghton Mifflin. ISBN 978-0-618-22123-3.
- Hill, Donald R. (2016) [1998]. King, David A. (ed.). Studies in Medieval Islamic Technology From Philo to Al-Jazari – from Alexandria to Diyar Bakr. London; New York: Routledge. ISBN 978-0-86078-606-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Hill, Donald Routledge (1997). A History of Engineering in Classical and Medieval Times. Routledge. ISBN 978-0-415-15291-4.
- Hoffman, Paul (2004). Wings of Madness: Alberto Santos-Dumont and the Invention of Flight. Hyperion Press. ISBN 978-0-7868-8571-8.
- Humphrey, John William (1998). Greek and Roman Technology: A Sourcebook. Routledge. ISBN 978-0-415-06136-0.
- Hüwel, Lutz (2018). Of Clocks and Time. San Rafael, California: Morgan & Claypool Publishers. ISBN 978-1-68174-096-6.
- al-Jazari, Ismail (1974). The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices (Kitab fi Ma'rifat al-Hiyal al-Handasiyya) by ibn al-Razzaz al-Jazari. Diterjemahkan oleh Hill, Donald R. (Edisi 1st (reprinted)). Dordrecht: D. Reidel Publishing Company. ISBN 978-90277-0-329-3.
- King, David A. (1983). "The Astronomy of the Mamluks". Isis. 74 (4): 531–555. doi:10.1086/353360. ISSN 0021-1753. JSTOR 232211. S2CID 144315162.
- Landes, David S. (1985). Revolution in Time: Clocks and the Making of the Modern World. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-76802-4. OCLC 29148451.
- Lankford, John (1997). "Time and Timekeeping Instruments". History of Astronomy: an Encyclopedia. Hoboken: Taylor & Francis. ISBN 978-0-8153-0322-0.
- von Lieven, Alexandra (2016). "The Movement of Time. News from the "Clockmaker" Amenemhet". Dalam Landgráfová, Renata; Mynářová, Jana (ed.). Rich and Great: Studies in Honour of Anthony J. Spalinger on the Occasion of his 70th Feast of Thoth. Prague: Charles University in Prague. hlm. 207–231. ISBN 978-80730-8-668-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 1, 2023. Diakses tanggal May 10, 2021.
- Lombardi, Michael A.; Heavner, Thomas P.; Jefferts, Steven R. (2007). "NIST Primary Frequency Standards and the Realization of the SI Second" (PDF). Measure. 2 (4). NCSL International: 74–89. ISSN 1674-8042. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal April 24, 2008. Diakses tanggal December 6, 2013.
- Macey, Samuel L. (1994). Encyclopedia of Time. New York: Garland Publishing. ISBN 978-0-8153-0615-3.
- Magdolen, Dušan (2001). "An astronomical inscription on the Berlin merkhet" (PDF). Asian and African Studies. 10 (1): 80–87. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal May 19, 2021.
- Major, Fouad G. (1998). The Quantum Beat: The Physical Principles of Atomic Clocks. New York, NY: Springer. ISBN 978-0-387-98301-1. OCLC 37315254. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal June 22, 2008.
- Markowitz, W.; Hall, R.G.; Essen, L.; Parry, J.V.L. (1958). "Frequency of Cesium in Terms of Ephemeris Time". Physical Review Letters. 1 (3): 105–107. Bibcode:1958PhRvL...1..105M. doi:10.1103/PhysRevLett.1.105. ISSN 1079-7114.
- Marrison, Warren A. (1948). "The Evolution of the Quartz Crystal Clock". Bell System Technical Journal. 27 (3). New York: AT&T: 510–588. Bibcode:1948BSTJ...27..510M. doi:10.1002/j.1538-7305.1948.tb01343.x. OCLC 10999639. S2CID 88503681.
- Matthys, Robert J. (2004). Accurate Clock Pendulums. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-151368-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Meskens, Ad (1992). "Michiel Coignet's Nautical Instruction". The Mariner's Mirror. 78 (3): 257–276. doi:10.1080/00253359.1992.10656406.
- Miller, Judith (2009). Watches: the ultimate accessory. London; New York: Miller's. ISBN 978-1-84533-476-5.
- Moevs, Christian (1999). "Miraculous Syllogisms: Clocks, Faith and Reason in Paradiso 10 and 24". Dante Studies. 117 (117). The Johns Hopkins University Press: 59–84. ISSN 0070-2862. JSTOR 40166538.
- Needham, Joseph (1965). Physics and Physical Technology, Part 2: Mechanical Engineering. Science and Civilization in China. Vol. 4. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-65270-4.
- Nelson, A. A. (1993). "The Moon Watch: a history of the Omega Speedmaster Professional". Bulletin of the National Association of Watch and Clock Collectors. 35 (282): 33–38.
- Noble, Joseph V.; de Solla Price, Derek J. (1968). "The Water Clock in the Tower of the Winds". American Journal of Archaeology. 72 (4): 345–355. doi:10.2307/503828. ISSN 0002-9114. JSTOR 503828. S2CID 193112893.
- Norris, R. (2016). "Dawes Review 5: Australian Aboriginal Astronomy and Navigation". Publications of the Astronomical Society of Australia. 33 (33, E039) e039. Cambridge University Press: 1–39. arXiv:1607.02215. Bibcode:2016PASA...33...39N. doi:10.1017/pasa.2016.25. ISSN 1323-3580. S2CID 119304459.
- Pagani, Catherine (2001). Eastern Magnificence and European Ingenuity: Clocks of Late Imperial China. Ann Arbor, Michigan: University of Michigan Press. ISBN 978-0-472-11208-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 29, 2020.
- Richards, Edward Graham (1999). Mapping Time: The Calendar and its History. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-286205-1.
- Ronalds, Beverley F. (2015). "Remembering the first battery-operated clock". Antiquarian Horology and the Proceedings of the Antiquarian Horological Society. 36 (2): 244–248. ISSN 0003-5785. S2CID 198943520.
- Rossotti, Hazel (2002). Fire: Servant, Scourge, and Enigma. Dover Publications. ISBN 978-0-486-42261-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal August 29, 2020.
- Schafer, Edward (1963). The Golden Peaches of Samarkand: A Study of T'ang Exotics. University of California Press. ISBN 978-0-520-05462-2.
- Schafer, Edward H. (1967). Great Ages of Man: Ancient China. New York: Time-Life Books. ISBN 978-0-900658-10-5.
- Sidgwick, Benson John; Muirden, James (1980). Amateur Astronomer's Handbook (Edisi 4th). Hillside, New Jersey: Enslow Publishers. ISBN 978-0-89490-049-5. OCLC 610565755. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Thomson, A.G. (1972). "The First Electric Clock: Alexander Bain's gold contact system" (PDF). Gold Bulletin. 5 (3): 65–66. doi:10.1007/BF03215167. ISSN 0017-1557. S2CID 134442458. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal January 29, 2023. Diakses tanggal January 29, 2023.
- Thoren, Victor E. (1990). The Lord of Uraniborg: a biography of Tycho Brahe. Cambridge; New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-35158-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Thorndike, Lynn; de Sacro Bosco, Johannes; Robertus Anglicus (1949). The Sphere of Sacrobosco and its Commentators. Corpus of mediaeval scientific texts sponsored jointly by the Mediaeval Academy of America and the University of Chicago; v. 2. Chicago: University of Chicago Press. OCLC 897640056. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 24, 2021. Diakses tanggal June 24, 2021.
- Thornton, Bonnell (1767). The Comedies of Plautus, Translated Into Familiar Blank Verse. London: T. Becket & P. A. de Hondt. OCLC 1125642326. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- Truitt, Elly Rachel (2015). Medieval Robots: Mechanism, Magic, Nature, and Art. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. ISBN 978-0-8122-2357-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 1, 2024. Diakses tanggal March 19, 2023.
- White, Lynn Townsend (1964). Medieval Technology and Social Change. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-500266-9.
- Woods, Thomas (2005). How the Catholic Church Built Western Civilization. Washington, D.C.: Regnery Publications. ISBN 978-1-4815-6390-1.
Pranala luar
- Relativity Science Calculator – Philosophic Question: are clocks and time separable? Diarsipkan November 9, 2019, di Wayback Machine.
- Ancient Discoveries Islamic Science Part 4 clip from History Repeating of Islamic time-keeping inventions (YouTube).
Ukuran dan standar waktu | |
|---|---|
| Subjek utama | |
| Standar internasional | |
| Standar lampau | |
| Masa dalam fisik | |
| Horologi | |
| Kalender | |
| Arkeologi dan kaji bumi | |
| Kronologi astronomi | |
| Satuan waktu | |
| Topik terkait | |