Celah dorsal (sering disebut dalam antropologi sebagai superinsisi atau supersisi) adalah sebuah insisi tunggal di sepanjang bagian atas kulup dari ujung hingga korona, yang memaparkan glans tanpa membuang jaringan apa pun. Sebagai sebuah praktik kuno,[1] hal ini telah menjadi adat tradisional di kalangan sejumlah masyarakat, khususnya orang Filipina dan Penduduk Kepulauan Pasifik, kemungkinan selama ribuan tahun.
Dalam kedokteran Barat, prosedur ini digunakan sebagai alternatif sirkumsisi untuk meredakan kondisi seperti ketidakmampuan kulup untuk ditarik kembali (fimosis) atau kegagalan untuk menutupi glans penis (parafimosis), meskipun persepsi mengenai penampilan yang kurang estetis membatasi popularitasnya. Walaupun prosedur ini merupakan bedah yang kurang invasif dibandingkan sirkumsisi, ia lebih invasif daripada preputioplasti karena membiarkan insisi tersebut terbuka. Prosedur ini masih digunakan ketika sirkumsisi atau tindakan lain dianggap tidak praktis atau tidak diinginkan.[butuh rujukan]
Adat tradisional
Mengingat superinsisi dan sirkumsisi keduanya merupakan bentuk pemotongan genital yang memaparkan glans, sering kali sulit untuk mengetahui prosedur mana yang sedang dijelaskan atau digambarkan. Pendapat terpecah mengenai apakah citra berusia 4.000 tahun dari Mesir, yang sering digambarkan sebagai representasi pertama sirkumsisi, sebenarnya mungkin merupakan superinsisi.[2]
Superinsisi telah dipraktikkan secara luas oleh masyarakat Pasifik, membentang dari Hawaii hingga Filipina.[3][4] Dengan meningkatnya urbanisasi, ritual tradisional di banyak tempat mulai tergantikan oleh sirkumsisi yang dilakukan secara medis, dan hampir seluruhnya demikian di kalangan Penduduk Kepulauan yang tinggal di Selandia Baru, di mana survei terkini menemukan adanya "permintaan budaya yang kuat dari para orang tua".[5] Pengecualian paling mencolok terhadap superinsisi Pasifik adalah Māori dari Selandia Baru, yang tidak melakukan sirkumsisi maupun superinsisi,[6] meskipun mereka memiliki istilah pribumi untuk tindakan terakhir (ure haea atau "penis terbelah") dan tradisi mereka menyatakan bahwa mereka menghentikan praktik tersebut ketika tiba di Selandia Baru.[7]
Praktik medis
Fimosis
Celah dorsal memiliki sejarah panjang sebagai pengobatan untuk fimosis dewasa,[1] karena dibandingkan dengan sirkumsisi, prosedur ini relatif mudah dilakukan, tidak berisiko merusak frenulum, dan sebelum penemuan antibiotik lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi. Namun, literatur sering menunjukkan bahwa meskipun merupakan "operasi sederhana", prosedur ini "tidak disukai oleh beberapa orang",[8] atau merujuk pada "penampilan seperti celemek yang tidak rapi" yang dapat dihasilkannya.[9]
Celah dorsal kini jarang dilakukan di negara-negara Barat sebagai pengobatan untuk fimosis. Pedoman standar menyarankan pendekatan konservatif terlebih dahulu dan, jika gagal, barulah sirkumsisi atau preputioplasti untuk mempertahankan kulup sekaligus meredakan fimosis.[10]
Parafimosis dan kondisi lainnya
Dalam beberapa kasus, kulup dapat menjadi bengkak akibat parafimosis (kulup terjebak di belakang glans) atau kondisi lain seperti balanitis parah. Jika reduksi pembengkakan dengan metode konservatif tidak berhasil, celah dorsal adalah intervensi pilihan yang umum karena sirkumsisi hampir selalu dikecualikan dalam kasus-kasus tersebut.[11][12] Meskipun sebelumnya disarankan agar sirkumsisi dilakukan kemudian setelah kondisi awalnya mereda,[13] hal ini tampaknya tidak lagi menjadi keharusan.[14]
Celah genital dorsal pada beberapa suku Afrika
Berbagai variasi sirkumsisi "celah dorsal" pernah mendominasi di antara suku Maasai di Kenya dan Tanzania, dan masih dipraktikkan serta ditemukan di banyak wilayah terpencil di area sangat luas yang dikenal sebagai "Tanah Maasai" secara umum.[butuh rujukan]
Namun, operasi Maasai berbeda dalam hal ini: alih-alih celah dorsal dari pembukaan prepusium hingga korona, sebuah "oval" berbentuk hati dieksisi dari dorsum prepusium dan glans didorong melalui lubang ini. Nantinya, tepi prepusium yang terpotong akan sembuh.[butuh rujukan]
Prepusium pertama-tama dipotong, hanya menyisakan bagian kecil di mana vena utama berada, yang kemudian ditarik ke bawah dan lubang kecil tempat glans didorong masuk pun dibuat. Bagian yang tersisa dibiarkan menggantung ke bawah, namun glans tetap terpapar.[butuh rujukan]
Dulunya suku-suku yang meniru Maasai seperti Kikuyu yang berjumlah banyak di Kenya juga mempraktikkan bentuk sirkumsisi yang sama. Foto-foto operasi dan hasilnya banyak ditemukan dalam buku-buku khusus Afrika, seperti Maasai karya Carol Beckwith dan Tepelit Ole Saitoti.[butuh rujukan]
Terdapat kata-kata untuk "kelepai prepusial" yang dihasilkan dalam bahasa Maa dan bahasa Gikuyu, dan mungkin dalam bahasa-bahasa Afrika lainnya. Dalam bahasa Gikuyu kata tersebut, yang kini sudah kuno, kemungkinan adalah ngwati.[butuh rujukan]
Pembalikkan celah dorsal
Menurut Goodwin, operasi celah dorsal dapat dibalikkan dengan menjahit ujung-ujung yang terpotong menjadi satu, yang mengembalikan jaringan ke posisi normalnya dan menciptakan kembali kulup.[15]
↑Afsari M, Beasley SW, Maoate K, Heckert K (March 2002). "Attitudes of Pacific parents to circumcision of boys". Pacific Health Dialog. 9 (1): 29–33. PMID12737414.
↑Goodwin WE (November 1990). "Uncircumcision: a technique for plastic reconstruction of a prepuce after circumcision". The Journal of Urology. 144 (5): 1203–5. doi:10.1016/s0022-5347(17)39693-3. PMC. PMID2231896. One patient presented with a dorsal slit because of an acute infection during childhood. All of the normal preputial skin was still present and the patient wished the skin restored to a normal appearance. An inverted V-shaped incision was made where the dorsal slit had been and the two edges were sutured together, thus, reproducing the normal prepuce. The patient was delighted with the results. It could be that this might be an answer to some critics of circumcision. A simple dorsal slit can be performed in patients who have phimosis or severe recurrent infections. At a later date, if they wished restoration, reconstruction to the uncircumcised appearance would be simple.;