Satranala decussilvae adalah spesies tumbuhan berbunga dalam famili Arecaceae.[3] Tumbuhan ini adalah palem yang endemik di Madagaskar. Ini adalah satu-satunya spesies dalam genus Satranala,[4] dan terancam oleh kehilangan habitat. Diperkirakan hanya tersisa sekitar 200 individu dewasa.[1]
Buah dari pohon ini berbentuk bulat hingga lonjong, berdiameter sekitar 56–5 sentimeter (22,0–2,0 in), dengan lapisan luar (epikarp) berwarna ungu kehitaman yang mengilap, sementara bagian utama buah (mesokarp) bersifat kering dan berdaging. Bagian dalam buah memiliki endokarp (lapisan kayu di sekitar biji) yang sangat terukir dengan struktur mirip sayap yang berliku-liku. Hal ini diduga merupakan adaptasi agar dapat tertelan dan bertahan melewati tembolokburung gajah (Elephant bird), sekelompok burung besar yang tidak bisa terbang dan sudah punah yang dulunya asli pulau tersebut. Buah palem dari Nugini dengan fitur serupa, yang termasuk dalam genus Ptychococcus, Brassiophoenix dan Licuala, diketahui dimakan oleh kasuari yang berfungsi sebagai penyebar biji utamanya.[5]
↑Dransfield, John; Beentje, Henk (1995). The Palms of Madagascar. Kew, Victoria, Australia: Royal Botanic Gardens. hlm. 21, 63–66. ISBN 978-0-947643-82-9. We suggest the endocarp [of Satranala decussilvae] may be adapted to being swallowed by large birds (such as the now extinct Aepyornis) – a theory which, of course, cannot be tested. However, it is worth noting that very heavily sclerified and sculptured endocarps are found in Ptychococcus and Brassiophoenix (Uhl & Dransfield 1987) and in two species of Licuala (M. Forrero, pers. comm.) in New Guinea, where they appear to be adapted to dispersal by cassowaries, extant relatives of the extinct Madagascar elephant bird