Saifuddin Tatar (bahasa Arab:الظاهر سيف الدين ططرcode: ar is deprecated ; meninggal 30 November 1421) adalah seorang sultanMamluk Mesir yang memerintah dari 29 Agustus hingga 30 November 1421.[1][2]
Biografi
Berasal dari keturunan Sirkasia, Tatar tiba di Kairo sekitar 1399 sebagai seorang budak muda.[3] Ia berhasil meniti jalan menuju kedudukan penting dan akhirnya naik ke pangkat emir.[4] Bahkan sebelum pemakaman Sultan Al-Mu'ayyad Shaykh, ia telah memperkuat posisinya di kalangan elite Mamluk dan dengan cepat mengambil kendali sebagai wali bagi sultan muda Al-Muzaffar Ahmad.[5]
Namun, kenaikan Tatar ke tampuk kekuasaan tidak berlangsung tanpa perlawanan. Wakil penguasa Damaskus memberontak terhadap kekuasaannya secara de facto,[6] tetapi akhirnya berhasil ditundukkan oleh pasukannya.[7] Setelah kemenangannya, Tatar menguasai Damaskus, menyingkirkan banyak lawannya, dan menikahi ibu sultan muda tersebut, Khawand Sa'adat.[8] Ia akhirnya menurunkan sultan itu di Benteng Damaskus pada 29 Agustus 1421, mengklaim takhta Mamluk untuk dirinya sendiri sebelum kembali ke Kairo.[3]
Namun, ia kemudian terserang penyakit kronis, dan kesehatannya memburuk dengan cepat hingga akhirnya meninggal pada 30 November 1421.[9] Dua hari sebelumnya, ia telah menetapkan putranya, Al-Nasiruddin Muhammad, sebagai penerus takhta.[10]
Keluarga
Salah satu istrinya adalah putri Qutlubugha Hajji al-Banaqusi al-Turkmani al-Halabi. Dari pernikahan ini mereka memiliki seorang putri, Khawand Fatima,[11]:409 yang menikah dengan Sultan Barsbay[12] dan meninggal pada 30 Agustus 1469.[13] Istri lainnya adalah putri Sudun al-Faqih.[11]:43 Istri lainnya lagi adalah Khawand Sa'adat.[14] Ia adalah putri Sirghitmish dan sebelumnya pernah menikah dengan Sultan Al-Mu'ayyad Shaykh. Mereka menikah pada 4 Agustus 1421. Ia meninggal pada 1430.[15]
Ia memiliki seorang putra, An-Nasiruddin Muhammad, yang memerintah antara 1421 dan 1422.[16] Putri lainnya adalah Sitt al-Muluk. Ia menikah dengan Yashbak as-Suduni, panglima tertinggi.[17][18]
Referensi
↑Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Egypt/3 History". Encyclopædia Britannica. Vol.09 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm.80–130, see page 102, para (7). Period of Burjī Mamelukes & "Timur in Syria."
12Ben-Bassat, Y. (2017). Developing Perspectives in Mamluk History: Essays in Honor of Amalia Levanoni. Islamic History and Civilization. Brill. ISBN978-90-04-34505-8.
↑Keddie, N.R.; Baron, B. (2008). Women in Middle Eastern History: Shifting Boundaries in Sex and Gender. Yale University Press. hlm.131. ISBN978-0-300-15746-8.
↑Taghrībirdī, A.M.Y.I.; Popper, W. (1954). History of Egypt, 1382-1469 A.D.: 1412-1422 A.D. University of California Press. hlm.142.
↑Taghrībirdī, A.M.Y.I.; Popper, W.; Fischel, W.J. (1967). History of Egypt: An Extract from Abū L-Mahāsin Ibn Taghrī Birdī's Chronicle Entitled Hawādith Ad-Duhūr Fī Madā L-'Ayyām Wash-Shuhūr (845-854., A.H., A.D. 1441-1450). American oriental series: Essay. American Oriental Society. hlm.23.
↑Conermann, S. (2014). Everything is on the Move: The Mamluk Empire as a Node in (trans-)regional Networks. Mamluk studies. V&R Unipress. hlm.102. ISBN978-3-8471-0274-8.
Bibliografi
Ibn Taghribirdi (1929). Al-Nujūm al-Zāhirah fī Mulūk Miṣr wa-al-Qāhirah (dalam bahasa Arab). Vol.14. Egyptian Dar al-Kutub Press in Cairo.