Al-Malik al-Zahir Saifuddin Abu Sa'id Khushqadam bin 'Abdallah al-Nasiri al-Mu'ayyadi (bahasa Arab:الظاهر سيف الدين خشقدمcode: ar is deprecated ; sekitar 1404 – 9 Oktober 1467) adalah seorang sultan Mamluk Mesir dan Suriah yang memerintah dari 28 Juni 1461 hingga 9 Oktober 1467.[1] Ia lahir di Kairo, Mesir.
Karier awal
Berasal dari Albania[2] dari wilayah Rumelia, Khushqadam adalah seorang budak yang dibeli oleh Al-Mu'ayyad Shaykh dan kemudian bertugas dalam korps jamdar. Ia kemudian menjadi anggota pengawal sultan pada masa pemerintahan putranya, Al-Muzaffar Ahmad. Pada 1446 ia telah mencapai pangkat 'emir dari sepuluh' di Damaskus.[3]
Pada 1448, Khushqadam berada di Kozan, tempat sebuah masjid didedikasikan untuk menghormatinya. Ia kemudian menjadi kepala militer istana di Kairo pada 1450 dan menjabat sebagai menteri perang pada masa pemerintahan Saifuddin Inal pada 1456, memimpin ekspedisi melawan Karamanid.[3]
Pemerintahan
Setelah kematian Inal pada Februari 1461, putranya Shihabuddin Ahmad menggantikannya dan Khushqadam mengambil jabatan sebagai atabeg. Namun, empat bulan kemudian sultan tersebut disingkirkan akibat tekanan dari aliansi berbagai faksi mamluk yang berpengaruh. Para mamluk pendukung Inal menawarkan takhta kepada Janim, gubernur Damaskus, sementara para mamluk pendukung Jaqmaq lebih memilih Khushqadam dan segera mengangkatnya sebelum kedatangan Janim. Di tengah kekacauan politik tersebut, Khushqadam berhasil merebut kekuasaan dan menjadi sultan.[3]
Namun pemerintahannya ditandai oleh kekacauan dan pemerasan, yang menyebabkan Mesir melemah sementara Kesultanan Utsmaniyah semakin kuat. Persaingan antara Utsmaniyah dan Mamluk meningkat terkait suksesi kerajaan-kerajaan vasal, terutama Karamanid dan Dulkadirid. Perselisihan mengenai suksesi memicu konflik, sementara pihak Utsmaniyah pada akhirnya berusaha mengakhiri otonomi wilayah-wilayah tersebut.
Pada 9 Oktober 1467, Khushqadam meninggal akibat disentri tanpa menunjuk penerus, yang kemudian memicu perebutan kekuasaan antara faksi-faksi yang bersaing, terutama para emir Bilbay dan Timurbugha.
Keluarga
Salah satu istri Khushqadam adalah Khawand Shukurbay. Ia seorang Sirkasia dan sebelumnya merupakan budak yang telah dimerdekakan milik Sultan An-Nasir Faraj.[4] Ia pernah menikah dengan Amir Abruk al-Jakami, dan dari pernikahan itu mereka memiliki seorang putri bernama Baykhun (meninggal 31 Juli 1462).[5] Setelah kematian Abruk, ia menikah dengan Khushqadam. Putrinya kemudian dikenal sebagai putri tiri sultan. Ia dimakamkan di makam Khushqadam, dan putranya Shihabuddin Ahmad al-Ayni (meninggal 1503) dibesarkan oleh Khushqadam setelah kematian ayahnya.[6]
Shukurbay dikatakan memiliki kemauan yang sangat kuat. Setelah kematiannya pada 1466, Khushqadam menikahi Khawand Surbay,[4] salah satu dari beberapa selir yang ia miliki, dan dari pernikahan tersebut ia memiliki seorang putri.[7]
↑University of California, Berkeley (1960). University of California Publications in Semitic Philology. History of Egypt, 1382-1469 A.D. University of California Press. hlm.48, 116.
↑Ben-Bassat, Y. (2017). Developing Perspectives in Mamluk History: Essays in Honor of Amalia Levanoni. Islamic History and Civilization. Brill. hlm.23. ISBN978-90-04-34505-8.
↑Ben-Bassat, Y. (2017). Developing Perspectives in Mamluk History: Essays in Honor of Amalia Levanoni. Islamic History and Civilization. Brill. hlm.165. ISBN978-90-04-34505-8.