Saṅkhāra (Pali; Dewanagari: संखार) atau saṃskāra (Sanskerta; Dewanagari: संस्कार) adalah sebuah istilah yang menonjol dalam Buddhisme. Kata ini berarti 'formasi' (bentukan)[1] atau 'sesuatu yang telah disatukan' dan 'sesuatu yang menyatukan', dan tela diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai cara, seperti bentukan-bentukan kehendak, bentukan-bentukan, formasi-formasi intensional, formasi-formasi kehendak, aktivitas-aktivitas berkehendak, dan pembentuk.
Dalam pengertian pertama (pasif), saṅkhāra merujuk pada fenomena yang terkondisi secara umum, tetapi secara spesifik merujuk pada semua "disposisi" (watak/kecenderungan) mental.[2] Ini disebut 'formasi kehendak' (formasi niat) baik karena mereka terbentuk sebagai hasil dari kehendak maupun karena mereka adalah penyebab munculnya perbuatan berkehendak di masa depan.[3] Terjemahan bahasa Inggris untuk saṅkhāra dalam pengertian pertama dari kata ini meliputi "conditioned things" (hal-hal yang terkondisi),[4] "determinations" (penentuan),[5] "fabrications" (fabrikasi/pembangunan sesuatu),[6] dan "formations" (formasi) (atau, khususnya saat merujuk pada proses mental, "volitional formations" (formasi kehendak)).[7]
Saṅkhāra adalah konsep yang kompleks, tanpa terjemahan satu kata bahasa Inggris yang sepadan, yang memadukan "objek dan subjek" sebagai bagian-bagian yang saling bergantung dari kesadaran dan proses epistemologis setiap manusia.[10] Kata ini berkonotasi pada "kesan, watak, pengondisian, pembentukan, penyempurnaan dalam pikiran seseorang, memengaruhi indra dan kemampuan konseptual seseorang" serta setiap "persiapan, upacara suci" yang "mengesankan, mengatur, memengaruhi, atau mengondisikan" bagaimana seseorang berpikir, memahami, atau merasa.[10][14][11]
Dalam pengertian pertama (pasif), saṅkhāra merujuk pada "hal-hal yang terkondisi" atau "disposisi mental, jejak pikiran".[14][10][15] Semua gugusan/agregat di dunia – fenomena fisik atau penyerta mental (cetasika), dan segala hal, seperti yang dinyatakan dalam teks-teks Buddhis awal, adalah hal-hal yang terkondisi.[10] Hal ini dapat merujuk pada bentuk gabungan apa pun di alam semesta, baik itu pohon, awan, manusia, pemikiran, atau molekul. Semua ini adalah saṅkhāra; sebagaimana segala sesuatu yang bersifat fisik dan tampak di dunia fenomenal (dapat disaksikan dengan indra-indra) ini merupakan hal-hal yang terkondisi, atau perpaduan dari berbagai kondisi mental.[10] Sang Buddha mengajarkan bahwa semua saṅkhāra adalah tidak kekal dan tanpa inti.[16][17] Disposisi subjektif ini, sebagaimana dinyatakan oleh cendekiawan Buddhis David Kalupahana, "mencegah Sang Buddha untuk mencoba merumuskan pandangan yang pada akhirnya objektif tentang dunia".[14]
Oleh karena hal-hal yang terkondisi dan disposisi tersebut merupakan persepsi dan tidak memiliki esensi (inti) yang nyata, maka hal-hal tersebut bukanlah sumber kesenangan yang dapat diandalkan dan sifatnya tidak kekal.[14] Memahami makna penting dari realitas ini adalah kebijaksanaan. Arti "hal-hal yang terkondisi" dari kata saṅkhāra ini muncul dalam Empat Kebenaran Mulia dan dalam Kemunculan Bersebab, yaitu bagaimana ketidaktahuan atau pandangan keliru tentang ketidakkekalan dan tanpa-Aku (non-self) mengarah pada nafsu-keinginan dan kelahiran kembali.[18]Saṁyuttanikāya II.12.1 (SN 12.1) menyajikan salah satu penjelasan tersebut,[18] sebagaimana teks-teks Pali lainnya.[19]
Kata-kata terakhir Sang Buddha, menurut Mahāparinibbāna Sutta (DN 16), adalah "Para siswa, ini Aku nyatakan kepada kalian: Semua hal yang terkondisi akan mengalami kehancuran – berjuanglah dengan tak kenal lelah demi pembebasan kalian." (Pali: "handa'dāni bhikkhave āmantayāmi vo, vayadhammā saṅkhārā appamādena sampādethā ti.").[20][21]
Dalam pengertian kedua (aktif), saṅkhāra (atau saṅkhāra-kkhandha, gugusan saṅkhāra) merujuk pada indra batiniah yang menciptakan bentuk. Ini adalah bagian dari ajaran kemunculan bersebab atau kemunculan yang saling bergantungan (paṭiccasamuppāda).[22][23] Dalam pengertian ini, istilah saṅkhāra adalah kehendak atau niat karma yang aktif, yang menghasilkan kelahiran kembali dan memengaruhi alam kehidupan kelahiran kembali.[22]Saṅkhāra di sini bersinonim dengan karma, dan mencakup perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran.[22][24]
Saṅkhāra-kkhandha menyatakan bahwa makhluk hidup dilahirkan kembali (bhava, kemenjadian) melalui perbuatan jasmani dan ucapan (kamma).[25] Sang Buddha menyatakan bahwa semua bentukan kehendak dikondisikan oleh ketidaktahuan (avijjā) tentang ketidakkekalan dan tanpa-Aku.[26][27] Ketidaktahuan inilah yang mengarah pada asal mula sankhara dan pada akhirnya menyebabkan penderitaan manusia (dukkha).[28] Berhentinya semua saṅkhāra (sabba-saṅkhāra-nirodha) bersinonim dengan Pencerahan (bodhi), yaitu pencapaian Nirwana. Berakhirnya paṭiccasamuppāda dalam pengertian kamma (saṅkhāra) akan menghasilkan fenomena yang tidak terkondisi, yaitu Nirwana.[29]
Oleh karena ketidaktahuan mengkondisikan formasi kehendak, formasi-formasi ini pada gilirannya mengondisikan kesadaran (viññāṇa). Sang Buddha menjabarkan:
'Apa yang seseorang niatkan, apa yang ia atur, dan apa yang terus dipikirkannya: Ini adalah landasan berdiamnya kesadaran (viññāṇa). Jika ada landasan, ada tempat pijakan [atau: peneguhan] bagi kesadaran. Ketika kesadaran itu berpijak dan tumbuh, akan ada produksi kehidupan yang baru (bhava, kemenjadian) di masa depan. Jika ada produksi kehidupan yang baru di masa depan, akan ada kelahiran, penuaan & kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan, & keputusasaan di masa depan. Demikianlah asal mula seluruh kumpulan penderitaan & tekanan ini.'[30]
Faktor-faktor mental (Pali: cetasika; Sanskerta: caitasika; Wylie Tibet: sems byung) adalah formasi-formasi (Sanskerta: saṅkhāra) yang menyertai pikiran (Sanskerta: citta).[31][32][33] Faktor-faktor ini dapat dideskripsikan sebagai aspek-aspek pikiran yang memahami kualitas suatu objek, dan yang memiliki kemampuan untuk mewarnai pikiran.[34]
Hubungannya dengan Nirwana
Dalam proses selama praktiknya, Sang Buddha menekankan perlunya memurnikan saṅkhāra alih-alih menghilangkannya secara total.[35]
David Kalupahana menyatakan bahwa "penghapusan saṅkhāra adalah bunuh diri epistemologis," karena saṅkhāra menentukan sudut pandang kita. Perkembangan kepribadian seseorang ke arah kesempurnaan atau ketidaksempurnaan bergantung pada saṅkhāra-nya.[36]
Ketika Nibbāna awal dengan substrat (sisa) terjadi (yakni, nibbāna dari makhluk yang masih hidup dengan sokongan gugusan-gugusan), kesadaran yang menyusun (yaitu, si pembuat rumah, nafsu-keinginan) telah hancur sepenuhnya dan tidak ada saṅkhāra baru yang akan disusun. Namun, saṅkhāra dalam artian kesadaran yang telah tersusun, yang eksis sebagai "kesadaran hasil-karma" (vipāka viññāṇa), terus ada.[37] Setiap individu yang telah terbebaskan tidak memproduksi karma baru, tetapi tetap memelihara kepribadian individual tertentu yang merupakan hasil dari jejak warisan karmanya. Kenyataan bahwa terdapat substrat psiko-fisik selama sisa kehidupan seorang arahat menunjukkan adanya efek karma yang terus berlanjut.[37]
↑Thich Nhat Hahn (2015). The Heart of Buddha's Teaching. New York: Harmony. hlm.73–74.
↑David Kalupahana, "A History of Buddhist Philosophy." University of Hawaii Press, 1992, page 71.
↑"Kata saṅkhatam dijelaskan dengan berbagai cara. Namun singkatnya, kata ini berarti sesuatu yang dibuat, dipersiapkan, atau diramu melalui niat." Katukurunde Ñāṇānanda, dalam "The Mind Stilled: 33 Lectures on Nibbāna," hlm. 42, daring di
http://www.seeingthroughthenet.net.
↑Lihat Piyadassi (1999). Hal ini juga disarankan, misalnya, oleh Bodhi (2000), hlm. 46, yang menulis tentang salah satu arti dari saṅkhāra yang menyatakan: 'Dalam arti yang paling luas, saṅkhāra mencakup semua hal yang terkondisi, segala sesuatu yang muncul dari kombinasi kondisi-kondisi.'
12Menurut Bodhi (2000), hlm. 44, "determinations" digunakan oleh Y.M. Ñāṇamoli dalam manuskrip Majjhimanikāya miliknya yang pada akhirnya disunting oleh Bodhi. (Dalam volume yang diterbitkan, Bodhi mengubah pilihan kata Ñāṇamoli menjadi "formations".),
↑Lihat pembahasan lebih lanjut pada Bodhi (2000), hlm. 44-47. Terjemahan lain yang dipertimbangkan tetapi pada akhirnya ditolak oleh Bodhi meliputi 'constructions' (hlm. 45) dan 'activities' (hlm. 45, khususnya untuk menyoroti aspek karma dari saṅkhāra).
Saṅkhāra berasal dari awalan saṃ (=bersama), "bersama-sama," dan kata kerja karoti, "membuat." Kata benda ini mencakup kedua sisi pembagian aktif-pasif. Oleh karena itu, saṅkhāra adalah hal-hal yang menyatukan, membangun dan meramu hal-hal lain, sekaligus hal-hal yang disatukan, dibangun, dan diramu.
↑Lihat, misalnya, SN 12.2 (Thanissaro, 1997b), di mana Sang Buddha menyatakan: 'Dan apakah rekayasa/fabrikasi itu? Ada tiga macam rekayasa: rekayasa jasmani, rekayasa ucapan, rekayasa pikiran. Inilah yang disebut rekayasa.'
↑Lihat Piyadassi (1999). Hal ini juga disarankan, misalnya, oleh Bodhi (2000), hlm. 46, yang menulis tentang salah satu makna saṅkhāra dengan menyatakan: "Dalam arti yang paling luas, saṅkhāra mencakup semua hal yang terkondisi, segala sesuatu yang muncul dari kombinasi kondisi-kondisi."
↑Menurut Nanavira Thera 'kata sankhāra, dalam semua konteks, berarti 'sesuatu yang menjadi sandaran bagi sesuatu yang lain', yaitu suatu determinasi (determinan).' (Notes on Dhamma: Sankhāra)
↑Lihat pembahasan mendetail di Bodhi (2000), hlm. 44-47. Terjemahan lain yang dipertimbangkan tetapi pada akhirnya ditolak oleh Bodhi meliputi "constructions" (hlm. 45) dan "activities" (hlm. 45, khususnya untuk menyoroti aspek karma dari saṅkhāra).
↑Milinda's questions. Sacred books of the Buddhists. I.B. Horner (trans.). London: Luzac. 1963. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN0-86171-331-1.
Geshe Tashi Tsering (2006). Buddhist Psychology: The Foundation of Buddhist Thought. Perseus Books Group. Edisi Kindle.
Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Edisi Kindle.
Kunsang, Erik Pema (translator) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2001). Khajjaniya Sutta: Chewed Up (SN 22.79). Diambil pada 2007-11-18 dari "Access to Insight" di Khajjaniya Sutta: Chewed Up.