World Trade Center, yang terletak di Lower Manhattan, Kota New York, hancur setelah serangkaian serangan teroris pada 11 September 2001, menewaskan hampir 3.000 orang di lokasi kejadian. Dua pesawat komersial yang dibajak oleh anggota al-Qaeda sengaja diterbangkan ke Menara Kembar kompleks tersebut, yang pada waktu itu termasuk lima gedung tertinggi di dunia. Tabrakan pesawat menyebabkan kerusakan struktural signifikan pada gedung pencakar langit tersebut dan memicu kebakaran besar, yang akhirnya mengakibatkan kedua menara runtuh secara total bertahap.
Latar Belakang
Ketika dibuka pada tahun 1973, Menara Kembar adalah gedung tertinggi di dunia. Mereka menjadi gedung pertama sejak 1931 yang memegang predikat tersebut, menggantikan Gedung Empire State di Midtown Manhattan. Pada saat serangan, hanya Menara Willis (dikenal saat itu sebagai Sears Tower) di Chicago dan Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, yang sempat memegang gelar gedung tertinggi di dunia setelah Menara Kembar.[1]
Dibangun dengan desain inovatif “framed tube” yang memaksimalkan ruang interior, menara ini memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang tinggi, sehingga membutuhkan 40 persen lebih sedikit baja dibandingkan gedung pencakar langit tradisional dengan kerangka baja.[2] Selain itu, di atas WTC 1 terdapat antena telekomunikasi setinggi 362 kaki (110 m) yang didirikan pada tahun 1978, menjadikan total tinggi menara 1.730 kaki (530 m), meskipun sebagai tambahan non-struktural, antena tersebut tidak dihitung secara resmi dalam tinggi menara.
Evaluasi dampak pesawat
Meskipun studi kebakaran dan bahkan analisis mengenai dampak tabrakan pesawat jet berskala rendah telah dilakukan sebelum penyelesaian Menara Kembar, cakupan penuh dari studi-studi tersebut kini tidak lagi tersedia. Namun demikian, karena kebakaran sebelumnya tidak pernah menyebabkan pencakar langit runtuh dan dampak pesawat telah dipertimbangkan dalam desain menara, kehancuran mereka pada awalnya mengejutkan sebagian komunitas teknik.[3]
Para insinyur struktural yang mengerjakan World Trade Center mempertimbangkan kemungkinan pesawat bisa menabrak gedung. Pada Juli 1945, sebuah B-25 bomber yang hilang dalam kabut menabrak lantai ke-79 Gedung Empire State.[4] Setahun kemudian, C-45F Expeditor menabrak 40 Wall Street, lagi-lagi kabut dianggap menjadi faktor penyebab tabrakan.[5]Leslie Robertson, salah satu insinyur utama WTC, menyatakan bahwa ia mempertimbangkan skenario tabrakan Boeing 707, yang mungkin kehilangan arah dalam kabut dan terbang pada kecepatan relatif rendah saat mencari landasan di Bandara JFK atau Newark.[6] Dalam wawancara dengan BBC dua bulan setelah menara runtuh, Robertson mengatakan:
"Dengan 707, beban bahan bakar tidak dipertimbangkan dalam desain. Saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa dipertimbangkan."
Ia juga menambahkan bahwa perbedaan utama antara studi desain dan kejadian runtuhnya menara adalah kecepatan tabrakan, yang secara signifikan meningkatkan energi yang diserap dan tidak pernah diperhitungkan selama proses konstruksi.[7]
Selama investigasi runtuhnya menara, National Institute of Standards and Technology (NIST) memperoleh dokumen tiga halaman yang menyatakan bahwa gedung-gedung tersebut akan bertahan dari tabrakan pesawat Boeing 707 atau DC-8 yang terbang pada 600 mph (970 km/jam).[8] Pada 1993, John Skilling, insinyur struktural utama WTC, mengatakan dalam wawancara pasca bom World Trade Center 1993:
"Analisis kami menunjukkan masalah terbesar adalah seluruh bahan bakar akan tumpah ke gedung. Akan terjadi kebakaran hebat. Banyak orang akan tewas. Struktur gedung masih akan tetap ada."[9]
Dalam laporannya, NIST menyatakan bahwa kemampuan teknis untuk melakukan simulasi tabrakan pesawat dan kebakaran akibat bahan bakar pesawat secara mendetail merupakan perkembangan baru, dan kemampuan teknis untuk analisis semacam itu sangat terbatas pada tahun 1960-an.[10] Dalam laporan akhirnya mengenai runtuhnya menara, NIST menyatakan bahwa mereka tidak menemukan dokumentasi yang memeriksa dampak tabrakan jet berkecepatan tinggi atau kebakaran besar akibat bahan bakar pesawat.[11]