Abebe fokus pada pengembangan model matematis dan komputasi untuk menganalisis isu-isu yang berkaitan dengan ketidaksetaraan dan keadilan dalam distribusi sumber daya.[2] Selain itu, ia merupakan salah satu pendiri dua inisiatif penelitian lintas disiplin dan institusi, yakni Mechanism Design for Social Good (MD4SG) dan Black in AI.[3][4]
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Abebe dilahirkan di Addis Ababa, Ethiopia, pada tahun 1991 dan menghabiskan masa kecil serta remajanya di kota tersebut.[5][6] Ia mengenyam pendidikan dasar dan menengah menggunakan Kurikulum Nasional Ethiopia di Nazareth School. Berkat prestasinya, ia berhasil meraih beasiswa prestisius yang memungkinkannya melanjutkan pendidikan menengah atas di International Community School of Addis Ababa.[5]
Lalu, Abebe melanjutkan kuliahnya di Universitas Harvard. Di sini, ia berhasil menyelesaikan program Sarjana Seni dalam bidang matematika, dilanjutkan dengan gelar Magister Sains dalam matematika terapan. Pada masa sarjananya, ia ikut menulis makalah penelitian dalam bidang matematika, fisika, dan kesehatan masyarakat.[7][8] Selain aktif di dunia akademik, Abebe juga menjadi penulis staf untuk The Harvard Crimson, di mana ia banyak menulis tentang sistem sekolah umum Cambridge antara tahun 2009-2011.[9]
Usai menyelesaikan pendidikan sarjananya, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Cambridge dengan mendapatkan beasiswa Governor William Shirley Scholar di Pembroke College.[10][11] Ia berhasil menyelesaikan Bagian III dari Tripos Matematika dan memperoleh gelar Master Studi Lanjutan di bidang matematika murni di bawah pengawasan Imre Leader .
Abebe meraih gelar doktor di bidang ilmu komputer di Universitas Cornell, dengan bimbingan dari Jon Kleinberg.[12] Karya disertasinya memberikan dampak penting di berbagai cabang ilmu komputer, yang membuatnya dianugerahi 2020 ACM SIGKDD Dissertation Award dan penghargaan honorable mention dari ACM SIGecom Dissertation Award. Prestasi ini menjadikannya wanita kulit hitam pertama yang berhasil menyelesaikan program doktor di bidang ilmu komputer di universitas tersebut[13]
Riset dan Karier
Penelitian Abebe berfokus pada pengembangan teknik kecerdasan buatan (AI) dan algoritma, dengan perhatian khusus terhadap ketidaksetaraan dan keadilan distributif. Ia mengembangkan kerangka algoritmik untuk menganalisis berbagai permasalahan yang dihadapi oleh populasi yang kurang terlayani.[14]
Minat Abebe dalam menggabungkan kajian ketidaksetaraan dengan ilmu komputer berasal dari latar belakang pendidikannya di Ethiopia serta pengamatannya terhadap sistem sekolah publik Cambridge melalui partisipasinya dalam pertemuan dewan sekolah. Pengalaman ini memperkuat kesadarannya akan potensi dampak sosial negatif yang dapat timbul akibat rancangan algoritma yang tidak adil.[15]
Pada tahun 2019, Abebe menjadi anggota National Institutes of Health (NIH) Working Group on AI, bersama para ahli AI ternama seperti Kate Crawford, Dina Katabi, Daphne Koller, dan Eric Lander.[16] Kelompok kerja ini bertugas menyusun laporan komprehensif serta rekomendasi terkait penggunaan AI dalam bidang kesehatan. Hasil kajian mereka mendapat persetujuan penuh dari Advisory Committee to the Director serta Direktur NIH, Francis Collins.
Black in AI
Pada tahun 2016, Abebe bersama Timnit Gebru mendirikan Black in AI, sebuah jaringan yang menghimpun sekitar 1.500 peneliti yang berkecimpung dalam bidang kecerdasan buatan (AI).[17][18]Organisasi ini berperan dalam menyelenggarakan lokakarya tahunan di Conference on Neural Information Processing Systems (NeurIPS) serta menyediakan peluang jaringan dan kolaborasi bagi para anggotanya.
Sebagai bagian dari inisiatifnya di Black in AI, Abebe memimpin Academic Program, sebuah program yang bertujuan meningkatkan akses dan dukungan akademik bagi komunitas peneliti AI dari kelompok yang kurang terwakili. Atas kontribusinya ini, ia mendapat pengakuan dalam daftar Bloomberg 50 tahun 2019 sebagai salah satu tokoh yang patut diperhatikan.[19]
Penghargaan
Sepanjang kariernya, ia telah menerima berbagai penghargaan dan pengakuan atas kontribusinya dalam bidang akademik dan inovasi teknologi. Pada tahun 2018, ia terpilih sebagai One to Watch dalam daftar Bloomberg 50,[20] yang menyoroti individu dengan potensi besar dalam berbagai bidang. Tahun yang sama, ia dianugerahi Harvard-Cambridge Fellowship dari Harvard University.
Pada tahun 2019, ia menjadi Junior Fellow di Harvard Society of Fellows,[21] sebuah komunitas akademik bergengsi yang memberikan dukungan bagi ilmuwan muda berbakat. Tahun tersebut, ia juga masuk dalam daftar 35 Under 35 versi MIT Technology Review, yang mengakui inovator muda berpengaruh di dunia teknologi.
Pada tahun 2020, ia meraih ACM SIGKDD Dissertation Award,[22] sebuah penghargaan bergengsi dalam bidang penambangan data dan pembelajaran mesin. Ia juga menerima Honorable Mention dalam ACM SIGecom Dissertation Award,[23] yang diberikan kepada disertasi luar biasa di bidang ekonomi komputasi. Tahun yang sama, ia mendapatkan Rising Star Award dari Innovation for Equity[24] serta masuk dalam daftar 100 Most Influential Young Africans versi African Youth Awards.[25]
Pada tahun 2022, ia terpilih sebagai salah satu anggota Class of Andrew Carnegie Fellows[26]</nowiki>,<ref>"Here Are The 28 Andrew Carnegie Fellows For 2022". Forbes. Diakses tanggal 2022-04-26.</ref> sebuah penghargaan yang diberikan kepada akademisi dan pemikir terkemuka yang berkontribusi pada penelitian di bidang ilmu sosial dan humaniora.